Categories
kerusuhan papua Lukas Enembe mahasiswa papua Nasional Surabaya

Lukas Enembe Ingatkan Indonesia: Masyarakat Papua Perlakukan Non-Papua Secara Terhormat dan Sejajar

POJOKSATU.id, JAKARTA – Gubernur Papua Lukas Enembe mengingatkan, masyarakat Papua tak ada masalah sedikitpun dengan masyarakat non-Papua di Bumi Cendrawasih itu.
Bahkan selama ini, masyarakat asli memperlakukan masyarakat pendatang dengan baik.
Demikian disampaikan Lukas Enembe dalam keterangannya yang diterima PojokSatu.id, Minggu (1/9/2019).
BACA: Gubernur Papua: TNI-Polri Jangan Tangkap Masyarakat Papua
Menurutnya, Papua adalah miniatur Indonesia dan sesungguhnya memegang teguh Bhineka Tunggal Ika.
Di Papua, juga dihuni penduduk yang multi etnis, agama, budaya dan selama ini bisa hidup damai berdampingan.
“Masyarakat asli Papua menyambut baik dan memperlakukan masyarakat non-Papua secara terhormat dan sejajar,” tuturnya.
Karena itu, sebagai bagian dari NKRI, pihaknya berharap bahwa perlakuan yang sama juga bisa didapatkan masyarakat Papua di manapun berada.
BACA: Kapolri soal Papua: Ada Hubungan dengan Jaringan Internasional
“Hal ini merupakan wujud komitmen kita sebagai anak bangsa untuk mewujudkan Papua damai, berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan beretika secara budaya,” imbau Lukas.
Atas dasar itu, pihaknya mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun bangsa.
“Dengan prinsip kasih menembus perbedaan untuk melakukan perubahan Papua dan kemuliaan rakyat Papua dalam bingkai NKRI,” ajaknya.

Categories
kerusuhan papua malang Nasional pelaku resisme Surabaya TNI

Wiranto Jamin Proses Hukum Danramil dan Babinsa Jatim Terkait Dugaan Rasisme

POJOKSATU.id, JAKARTA – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menegaskan pihaknya tak pandang bulu dalam penanganan kasus dugaan rasisme yang terjadi di Surabaya dan Malang.
Insiden itu disebut menjadi pemicu kemarahan masyarakat Papua yang berujung pada rentetan kerusuhan di Bumi Cendrawasih.
Bahkan, Wiranto menegaskan, pihaknya juga sudah memproses hukum Danramil dan Babinsa di Jawa Timur terkait insiden dimaksud.
BACA: Bara Api Menyebar di Jalan-jalan Papua, Orang-orang Dilarang Bicara, Medsos Terus Diblokir
Demikian disampaikan Wiranto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (30/8/2019).
Karena itu, Wiranto juga menjamin tindakan tegas akan diberlakukan secara adil.
“Dari masyarakat sipil juga sudah ditangani oleh Polda Jatim. Di Papua juga harus ditangani hukum. Kami menjami bahwa tidak ada yang lolos dari jeratan hukum,” tegasnya.
BACA: Aneh, Keadaan Tak Kondusif, Politikus di Papua Tak Bersuara, Ke Mana?
Wiranto menyayangkan demonstrasi di Papua dan Papua Barat berlangsung anarkis hingga menghancurkan beberapa fasilitas negara.
Kerusuhan itu, lanjutnya, hanya akan merugikan masyarakat, utamanya di Papua.
“Kalau tidak dihentikan, maka bisa terjadi kebencian-kebencian. Maka sebenarnya tuntutan yang salah di hukum itu sudah dilaksanakan,” jelasnya.

Categories
mahasiswa papua Nasional Rasisme Surabaya tersangka Tri Susanti

Akhirnya, Tri Susanti Jadi Tersangka Rasisme Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya

POJOKSATU.id, JAKARTA – Koordinator aksi penggerudukan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Tri Susanti, resmi ditetapkan polisi sebagai tersangka.
Tri Susanti disangka sebagai pelaku rasisme yang memicu kerusuhan di Papua.
Demikian diungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Rabu (28/8/2019).
BACA: Kerusuhan Deiyai, Moeldoko Sebut Ada Pihak Sedang Bangun Opini di Luar Negeri soal Papua
“Telah ditetapkan satu tersangka dengan inisial TS (Tri Susanti),” ungkapnya.
Sosok yang disebut Mak Susi itu dijerat Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
Dan/atau Pasal 4 UU 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis dan/atau Pasal 160 KUHP dan/atau Pasal 14 ayat 1 dan/atau ayat 2 dan/atau Pasal 15 KUHP.
BACA: Diduga Ada KKB Papua di Belakang Kerusuhan Deiyai
Dedi menjelaskan, penetapan status tersangka kepada Tri Susanti itu dilakukan setelah pihaknya memeriksa tak kurang dari 16 saksi dan tujuh saksi ahli.
Sementara, bukti pendukung penetapan tersagka terhadap mantan caleg Partai Gerindra itu salah satunya adalah rekam jejak digital.
Yakni berupa konten video dan berbagai narasi yang diunggahnya melalui media sosial.
BACA: Kerusuhan Deiyai, Senjata Direbut, Aparat TNI-Polri Ditembaki
Usai ditetapkan sebagai tersangka rasisme, polisi langsung melakukan pencekalan terhadap Mak Susi dari bepergian ke luar negeri.
“Permohonan pencekalan telah diajukan. Surat panggilan telah disampaikan,” pungkas Dedi.

Categories
caleg Foto kerusuhan manokwari Lipsus mahasiswa papua Nasional Partai Gerindra profil provokator sorong Surabaya Tri Susanti

12 Foto Postingan Susi Tri Susanti Korlap Aksi Geruduk Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya yang Bikin Geleng-geleng

POJOKSATU.id, JAKARTA – Susi Tri Susanti mendadak viral di media sosial. Pasalnya, ia dianggap warganet sebagai provokator yang memicu kerusuhan di Manokwari dan Sorong, Papua Barat.
Hal itu diawali dengan aksi penggerudukan asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya Timur, di bawah komandonya pada 17 Agustus 2019.
Dalam aksi yang menamakan diri Aksi Ormas Surabaya itu, disertai dengan teriakan rasis dan pengusiran.
BACA: Akun Facebook Susi Tri Susanti Diserbu Warga Surabaya: Lek Gak Nggawe Rusuh Gak Melbu Surgo tah?
Warganet yang geram pun langsung menyerbu akun media sosial milik perempuan yang ternyata pernah terdaftar sebagai caleg Partai Gerindra itu.
Bahkan, tak sedikit warganet asal Kota Surabaya yang mengecam kelakuan Susi Tri Susanti itu.

Kebanyakan, mereka merasa tak pernah terwakili dengan statmen dan pernyataan Susi dan dianggap hanya klaim yang mengatasnamakan warga Surabaya.
Berdasarkan penelusuran PojokSatu.id, Susi menunjukkan keberpihakannya kepada pasangan Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 lalu.
BACA: Tri Susanti Minta Maaf, Partai Gerindra Gak Ngakui
Sebaliknya, ia terkesan sama sekali tak respek dengan Joko Widodo (Jokowi).

Hal itu terlihat dari sejumlah postingan yang diunggahnya di akun media sosial miliknya.
Sejumlah foto pun dengan jelas menunjukkan bahwa dirinya adalah pendukung 02 yang cukup militan.

Categories
caleg dibully facebook kerusuhan manokwari mahasiswa Surabaya Nasional Partai Gerindra profil provokator sorong Surabaya Tri Susanti

Akun Facebook Susi Tri Susanti Diserbu Warga Surabaya: Lek Gak Nggawe Rusuh Gak Melbu Surgo Tah?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kelakuan dan tingkah polah Susi Tri Susanti sepertinya tak dapat diterima, bahkan oleh masyarakat Surabaya dan Jawa Timur.
Mereka pun lantas menumpahkan kemarahannya melalui akun Facebook milik perempuan berkacamatan itu.
Dari pantauan PojokSatu.id, kali terakhir akun tersebut aktif yakni pada 26 Juli 2019 lalu pukul 21.22 WIB.
BACA: Tri Susanti Minta Maaf, Partai Gerindra Gak Ngakui
Dalam unggahan itu, ia melontarkan protes terkait penyelenggaraan pelantikan dan Gebray PMR se-Surabaya.
Warganet yang geram pun beramai-ramai memenuhi kolom komentar dalam unggan itu. Seluruhnya, menghujat kelakuan mantan caleg Partai Gerindra itu.

Seperti yang diungkap pemilik akun Else yang menganggapnya sudah menjadi provokator kerusuhan di Papua.
“ibuk tri susanti kl g tau masalah yg se benar ny g usah ksh statement yg meresah kn dan kl g mo d bilang provokator mending diem aj atau ibuk mo d penjara kn krn dh menyebar kn hoax, silah kn pilih, pilih an ad d tangan ibuk!!!!” kecamnya.
BACA: Tri Susanti Minta Maaf Geruduk Asrama Mahasiswa Papua, kok Pakai ‘Atas Nama Masyarakat Surabaya’?
Pemilik akun Ahmad Ardi bahkan seperti tak bisa menahan emosi dan kegeramannya.
“Oooh ini yg sukanya koar2. Wes tuek gk ruh opo2,,, kokean omong,” tulisnya.
Sementara, pemilik akun Momo Ono tak kalah geramnya.

Categories
caleg mahasiswa papua minta maaf Nasional Partai Gerindra Surabaya Tri Susanti

Tri Susanti Minta Maaf, Partai Gerindra Gak Ngakui

POJOKSATU.id, SURABAYA – Nama Tri Susanti ramai dipergunjingkan dan bicarakan publik setelah kerusuhan di Manokwari dan Sorong, Papua Barat.
Pasalnya, aksi menggeruduk asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya Timur, yang dikomandoinya dianggap menjadi pemicu kemarahan masyarakat Papua.
Setelah mendapat sorotan, sosok perempuan mantan caleg Partai Gerindra itu akhirnya menyampaikan permnintaan maafnya.
BACA: Tri Susanti Minta Maaf Geruduk Asrama Mahasiswa Papua, kok Pakai ‘Atas Nama Masyarakat Surabaya’?
Menanggapi hal itu, Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Timur, Anwar Sadad mengaku tak tahu menahu terkait aksi yang dilakukan Tri Susanti di asrama mahasiswa Papua.
Pihaknya menyatakan, bahwa sikap Ketua Umum Partai Gerindra sejak dulu memiliki kedekatan dengan masyarakat Papua.
Demikian disampaikan Sadad kepad wartawan di Surabaya, Selasa (20/8/2019).
“Kita ini banyak kader, setiap tahun banyak yang masuk dari Papua juga. Pak Prabowo punya hubungan yang dekat dengan Papua,” tuturnya.
BACA: Waketum Gerindra: di Rumah Tri Susanti Ada Bendara Merah Putih?
Karena itu, Sadad menegaskan bahwa apa yang dilakukan Tri Susanti itu sama sekali tak ada hubungannya dengan partai berlambang kepala burung Garuda itu,
Sebaliknya, pihaknya menduga bahwa aksi yang dilakukan perempuan itu adalah sepenuhnya tindakan pribadi.
“Itu tidak ada sangkut pautnya dengan Gerindra. Mungkin itu secara pribadi,” tegasnya.

Categories
caleg mahasiwa Papua minta maaf Nasional Partai Gerindra Surabaya Tri Susanti

Tri Susanti Minta Maaf Geruduk Asrama Mahasiswa Papua, Kok Pakai ‘Atas Nama Masyarakat Surabaya’?

POJOKSATU.id, SURABAYA – Pasca kerusuhan di Manokwari dan Sorong, Papua Barat, sosok Tri Susanti mendapat sorotan tajam.
Dalam aksi yang mengatasnamakan Aksi Ormas Surabaya itu, terlontar teriakan rasis di depan asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya Timur.
Hal itulah yang kemudian menjadi pemicu kerusuhan di Papua yang tak terima dengan perlakuan tersebut.
BACA: Waketum Gerindra: di Rumah Tri Susanti Ada Bendara Merah Putih?
Tri Susanti pun akhirnya menyampaikan permintaan maafnya di depan media terkait teriakan rasis yang terjadi dalam aksi dimaksud.
Akan tetapi, permintaan maaf itu dilontarkannya dengan mengatasnamakan masyarkat Surabaya.
Permintaan maaf itu disampaikan di Mapolda Jawa Timur, Jalan Ahmad Yani, Surabaya Selatan, Selasa (20/8/2019).
“Kami atas nama masyarakat Surabaya dan dari rekan-rekan ormas menyampaikan permohonan maaf apabila ada masyarakat atau pihak lain yang sempat meneriakkan itu,” ucapnya.
BACA: Kerusuhan Manokwari dan Sorong Akumulasi Berbagai Persoalan di Papua, Jokowi Harus Dengar Ini
Perempuan yang kerap dipanggil Mak Susi itu beralasan, kedatangannya ke asrama mahasiswa Papua tidak lain untuk membela bendera Merah Putih yang isunya dirusak dan dibuang ke selokan.
“Kami ini hanya ingin menegakkan bendera Merah Putih di sebuah asrama yang selama ini mereka menolak untuk memasang,” kilahnya.
Terkait rekaman video yang melantangkan pengusiran, Susi membantahnya.

Categories
Arief Poyuono caleg mahasiswa papua minta maaf Nasional Partai Gerindra Surabaya Tri Susanti

Waketum Gerindra: di Rumah Tri Susanti Ada Bendara Merah Putih?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono angkat bicara terkait sosok Tri Susanti
Tri Susanti adalah koordinator lapangan Aksi Ormas Surabaya yang menggeruduk asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya Timur.
Kejadian itu pula yang kemudian memicu gelombang protes berujung kerusuhan di Papua.
BACA: Kerusuhan Manokwari dan Sorong Akumulasi Berbagai Persoalan di Papua, Jokowi Harus Dengar Ini
Perempuan berkacamata itu beralasan, kedatangannya ke asrama mahasiswa Papua itu untuk memastikan pemasangan bendera Merah Putih.
Akan tetapi, alasan yang dikemukakan Tri Susanti itu dianggap Arief Poyuono sebagai alasan yang tak mendasar.
Menurutnya, pemasangan bendera merah putih di depan rumah adalah sebuah simbol.
“Memang di rumah Tri Susanti dipastikan ada bendera Merah Putih?” sindirnya, dikutip PojokSatu.id dari RMOL, Selasa (20/8/2019).
BACA: Pernyataan Presiden Jokowi soal Papua itu Sudah Mantep, tapi…
Ia menegaskan, bahwa bendera Merah Putih akan bersemayam di dalam hati dan sanubari segenap rakyat Indonesia.
“Bendera Merah Putih itu yang penting berkibar di hati sanubari kita,” lanjutnya.
Berkibar di sanubari, kata dia, berarti melakukan tindakan-tindakan yang menjadikan Bangsa Indonesia tidak rasis dan bisa menerima perbedaan.

Categories
cewek grabbike kasus pelecehan seksual Nasional Surabaya

Viral Cewek di Surabaya Digerayangi Oknum Ojol Loncat dari Motor, Nasibnya…

POJOKSATU.id, JAKARTA – Seorang warganet menginformasikan adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum pengemudi ojeg online.
Hal itu disampaikan pemilik akun Jemi Ndoen yang diunggahnya di sebuah grup Facebook.
Disebutkan, kejadian yang menimpa seorang perempuan itu terjadi di Surabaya pada Minggu (11/8/2019) malam.
“Mohon dibantu viralkan. Korban pelecehan grab bike,” tulis Jemi Ndoen.
Diceritakan, korban berinisial BF itu menumpang ojeg online dari Terminal Bungurasih, Sidoarjo dengan tujuan Dukuh Kupang, Surabaya.
Akan tetapi, oknum ojol itu malah membawa korban ke arah Sumur Welut yang notabene cukup sepi.
Dalam perjalanan itu, disebutkan oknum ojol tersebut lalu menggerayangi korban.
“Di perjalanan korban digerayangi dan korban langsung loncat,” jelasnya.
Jemi Ndoen juga mengungkap identitas oknum ojol dimaksud beserta ciri-ciri motor serta nomor polisinya.
Beruntung, korban langsung ditolong oleh warga setempat yang mengetahui kejadian tersebut.
Sementara, dikutip PojokSatu.id dari detik.com, polisi membenarkan adanya kejadian pelecehan seksual tersebut.
Bahkan, korban juga sudah melayangkan laporan polisi ke Polrestabes Surabaya.

Categories
Nasional polisi tilang professor Surabaya

Polda Jatim Sebut Tidak Etis Profesor Hukum Rendahkan Polisi di Jalan

POJOKSATU.id, SURABAYA – Polda Jawa Timur angkat bicara terkait viralnya video polisi tilang profesor hukum di putaran balik simpang empat Jemur Andayani, Surabaya, Jawa Timur.
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, belum ada aksi penilangan terhadap pria berambut putih yang mengaku profesor hukum itu.
“Kami kurang jelas juga melihatnya namun bisa kami simpulkan itu belum terjadi penilangan,” ujarnya.
Menurut Barung, pihak kepolisian berhak melakukan penindakan tilang berdasarkan aturan rambu yang dipasang.
Barung menambahkan, kalau ada yang tidak jelas dari rambu itu, maka masyarakat boleh melaporkan ke Dinas Perhubungan.
Ia mengatakan, Polda Jatim telah mendeteksi petugas kepolisian yang menghentikan mobil profesor hukum.
“Kami dari kepolisian sudah mendeteksi, memprofiling anggota tersebut dan juga masyarakat itu (profesor hukum). Harapan kita adalah bahwa penegakan hukum di lapangan tetap dilakukan saja,” tambahnya.
Ia menyayangkan sikap profesor hukum yang memarahi polisi di jalanan.
Seharusnya, kata dia, profesor hukum tersebut melakukan protes sesuai konstitusi atau hukum yang berlaku, seperti melaporkan ke Propam.
“Tidak kemudian memviralkan dan kemudian merendahkan petugas di lapangan,” imbunya.
Sebagai anggota kepolisian, lanjut Barung, resiko dimaki-maki di lapangan atau tertabrak sudah biasa terjadi.
“Tetapi yang kami sayangkan kalau ada penegakan hukum yang tidak sesuai dengan koridor hukum, mungkin bisa ditanyakan atau langsung ke Propam,” imbuhnya.
Profesor hukum ceramahi polisi lalulintas di Surabaya
Barung menyesalkan tindakan profesor hukum yang dianggapnya kurang beretika.
“Silakan saja, dia mantan polisi atau apa, seharusnya, seyogyanya ada etika yang tertanam kepada (profesor hukum). Apalagi mantan anggota polisi,” katanya.
“Saya kira etika itu juga ada, yang kita ketahui bahwa yang bersangkutan juga mantan anggota polisi. Saya kira ada prosedur-prosedur, ada ketentuan-ketentuannya yang juga sebenarnya beliau itu mengetahui,” imbuhnya.
Seharusnya, lanjut Barung, profesor hukum itu melaporkan tindakan petugas kepolisian ke Propam, bukan malah memarahinya di jalan.
“Kalau kita melihat video itu, anggota (polisi) tersebut yang dimarahi, iya kan? Anggota tersebut yang dimaki-maki. Padahal seyogyanya anggota tersebut hanya lah berdiri di atas suatu rambu yang kurang jelas,” kata Barung seraya menambhkan bahwa rambu yang kurang jelas itu sudah diperbaiki.
BACA: Viral! Video Polisi Tilang Profesor Hukum Malah Kena Batunya
Sebelumnya, video polisi tilang profesor hukum viral di media sosial.
Dalam video tersebut terlihat seorang polisi kena batunya sendiri akibat menilang pria berambut putih yang mengaku sebagai profesor hukum.
Pria itu menceramahi polisi yang menilangnya di putaran balik simpang empat Jemur Andayani, Surabaya, Jawa Timur.
“Itu kamu tangkap, saya ditangkap. Apa itu artinya ini? Saya profesor hukum,” kata pria tersebut sambil menunjuk rambu putar balik.
Berikut ini video profesor hukum ceramahi polisi di jalan:

(one/pojoksatu)