Categories
Nasional PA 212 Partai Gerindra penumpang gelap pilpres 2019 Rachmawati Soekarnoputeri

Penumpang Gelap di Partai Gerindra Berbahaya, Penumpang Terang Lebih Berbahaya, Sindiran?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Istilah penumpang gelap tengah ramai diperbincangkan setelah diungkap kali pertama oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.
Penumpang gelap itu disebut hanya memanfaatkan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 lalu.
Tak hanya itu, Sufmi juga mengunkap bahwa penumpang gelap itu tak peduli negara chaos asal keinginan dan kepentingannya terakomodir.
Dikutip PojokSatu.id dari RMOL, Ketua bidang Ideologi Partai Gerindra, Ristiyanto angkat bicara terkait kabar tersebut.
Menurutnya, yang paling penting sebenarnya bukan soal kehadiran penumpang gelap.
Akan tetapi soal apakah visi dan ideologi partai dapat dipertahankan dan dipertanggungjawabkan pada konstituen.
Ia lantas mengutip pernyataan Wakil Ketua Umum Gerindra, Rachmawati Soekarnoputri.
Rachma, kata Ristiyanto, mengatakan, bahwa ada yang lebih berbahaya dari penumpang gelap yang kecewa.
“Menurut Ibu Rachma, yang paling berbahaya itu adalah penumpang terang,” katanya.
Jadi, sambung Ristiyanto, ada penumpang gelap ada penumpang terang.
Yang paling berbahaya adalah yang ingin merebut dan mengubah arah perjuangan partai.
“Yang ingin membelokkan arah partai, membajak partai dan mengingkari visi dan misi partai,” katanya.
Sebelumnya, akibat pernyataan Sufmi Dasco Ahmad itu, penilaian pun tertuju pada kelompok Persaudaraan Alumni 212 (PA 212).
Namun PA 212 tidak merasa menjadi penumpang gelap seperti yang disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu.
“Kami yakin yang dimaksud Gerindra bukan kalangan kita dan ulama,” kata Ketum PA 212 Slamet Maarif kepada wartawan, Jumat (9/8/2019).
Slamet menegaskan, perjuangannya bersama Prabowo di Pilpres 2019 bukan semata-mata demi kekuasaanm tapi berjuang menegakkan keadilan.
“Harus ditanyakan ke beliau penumpang gelap itu siapa?”
“Kalau kita kan berjuang bersama PS bukan untuk cari jabatan, kami berjuang untuk melawan kezaliman dan ketidakadilan. Dan arah kita sudah jelas lewat Ijtimak Ulama IV,” ujarnya.
(ruh/pojoksatu)

Categories
Nasional penumpang gelap pilpres 2019 Prabowo Subianto

Benarkah Alumni 212 Penumpang Gelap Pilpres yang Bikin Prabowo Dongkol?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Teka-teki siapa penumpang gelap Pilpres 2019 yang membuat Prabowo Subianto kesal, hingga kini masih misteri.
Karena itu, Partai Gerindra harus membuka siapa penumpang gelap Pilpres 2019 yang disampaikan kadernya Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.
Dasco sebelumnya bercerita soal ada penumpang gelap pada Pilpres 2019 yang kerap menyudutkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gerindra.
Menurut Dasco, Prabowo kesal karena ulah para penumpang gelap itu. Karenanya, Prabowo ingin membuat para penumpang gelap tersebut gigit jari.
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F. Silaen mengatakan, menarik untuk mencermati perkembangan politik kekinian, pasca rangkaian pertemuan penting hingga kehadiran Prabowo di Kongres PDIP.
“Sekarang mulai terkuak pihak-pihak yang selama ini diduga memboncengi Prabowo,” ujar Silaen kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/8).
Di awal-awal mungkin saja mantan Danjen Kopassu itu tidak menyadari bahwa sedang dimanfaatkan alias diboncengi penumpang gelap. Namun, meski kelihatan terlambat, kini dia sudah sadar.
Untuk itu, kata Silaen, Gerindra harus membukanya.
“Tentu Ini jadi problem besar jika Gerindra tidak menuntaskan sendiri ‘problem’ itu, maka oknum penumpang gelap tersebut akan slalu mencari tumpangan atau boncengan baru, semisal figur kendaraan lain untuk diboncengi lagi,” urai Silaen alumni Lemhanas Pemuda I 2009.
Hal ini sangat mencemaskan masa depan bangsa jika hal ini tidak diputus, artinya dituntaskan oleh Gerindra. Siapa oknum penumpang gelap yang dimaksud tersebut akan jadi bola liar di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Itu akan menimbulkan kecurigaan yang berkepanjangan yakni saling curiga yang berkelanjutan diantara para elite bangsa ini. Ini juga akan menguras energi yang ada,” ucapnya.
Lanjut Silaen, jika diambil contoh, ibarat penyakit kronis yang sudah menjangkiti organ tubuh tertentu semisal kaki, karena sudah tidak bisa disembuhkan, artinya divonis sudah tidak bisa lagi disembuhkan, maka daripada virusnya menyebar ke tempat lain yang dapat mematikan, lebih baik segera diamputasi.
Demikian juga virus ideologi trans nasional yang belakangan ini menguat di tengah masyarakat bangsa ini, sangat mungkin berujung pada kehancuran negeri ini.
“Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali suku bangsa. Selain itu negara ini juga memiliki enam agama resmi dijalankan secara berdampingan. Itulah Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan Indonesia. Sayangnya dalam beberapa hal, keberagaman ini justru menjadi masalah yang sangat besar. Bahkan bisa memicu suatu bentrokan hingga perang,” ujar Silaen.
Dia kembali menyarankan, sebaiknya Gerindra mau membuka oknum penumpang gelap yang dimaksud, agar oknum tersebut tidak mencari lagi tempat atau orang yang akan diboncenginya lagi.
Masalah seperti ini harusnya bisa diselesaikan dengan baik. Dengan begitu di kemudian hari tak akan bermunculan kasus yang sama, yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara ini.
“Di samping itu TNI-Polri harus tegas menegakkan aturan yang ada tanpa pandang bulu, agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Akar masalah ketidakadilan juga dapat memicu disintegrasi sosial,” papar Silaen, pengamat sosial-politik zaman now.
PA 212 Bantah Jadi Penumpang Gelap Pilpres 2019
Salah satu kelompok yang ditengarai jadi penumpang gelap Pilpres 2019 yakni Persaudaraan Alumni (PA) 212.
Namun PA 212 tidak merasa menjadi penumpang gelap seperti yang disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.
“Kami yakin yang dimaksud Gerindra bukan kalangan kita dan ulama,” kata Ketum PA 212 Slamet Maarif kepada wartawan, Jumat (9/8/2019).
Slamet menegaskan perjuangannya bersama Prabowo pada Pilpres 2019 bukan semata-mata demi kekuasaan. Dia mengaku berjuang untuk menegakkan keadilan.
“Harus ditanyakan ke beliau penumpang gelap itu siapa? Kalau kita kan berjuang bersama PS bukan untuk cari jabatan, kami berjuang untuk melawan kezaliman dan ketidakadilan. Dan arah kita sudah jelas lewat Ijtimak Ulama IV,” ujarnya.
(rmol/one/pojoksatu)