Categories
DPR RI hasil survei LSI Nasional Preisden Jokowi

Jelang Dilantik, Masyarakat Makin Tak Puas Kinerja Jokowi, DPR Paling Tak Dipercaya

POJOKSATU.id, JAKARTA – Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) makin menurun jelang pelantikan 20 Oktober 2019 mendatang.
Demikian hasil survei yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) dengan tema ‘Perppu KPK dan Gerakan Mahasiswa di Mata Publik’, Minggu (6/10/2019).
Jika bulan Maret 2019 mencapai 71 persen, pada Oktober 2019 turun menjadi 67 persen.
BACA: Ada 8 Efek Jokowi tak Segera Terbitkan Perppu KPK, Semuanya Enggak Enak
Sementara, dalam lima tahun kepemimpinanya, sebanyak 54,3 persen publik mengaku cukup puas dan 12,7 persen lainnya sangat puas.
Sedangkan mereka yang kurang puas mencapai 23,8 persen dengan hanya 4,5 persen lainnya mengaku tidak puas.
Akan tetapi, jika dibandingkan dengan DPR RI, Jokowi masih dianggap sebagai lembaga yang cukup dipercaya dengan dukungan 62 persen publik.
Bersaing ketat dengan KPK yang mendapat 63 persen dukungan.
BACA: Tak Terbitkan Perppu KPK, ICW: Jokowi Pengkhianat
Sebaliknya, DPR RI menjadi lembaga yang sangat tidak dipercaya masyarakat dengan angka 40 persen dan 39 persen publik saja yang percaya.
“Secara umum kepercayaan publik pada KPK dan Presiden jauh di atas kepercayaan pada DPR. KPK 72 persen, Presiden 71 persen sedangkan DPR hanya 40 persen,” demikian rilis LSI.
Untuk diketahui, survei tersebut melibatkan 1010 responen yang dipilih secara stratified cluster random sampling dari responden survei nasional LSI sebelumnya pada Desember 2018 September 2019 yang jumlahnya 23,760 orang.
BACA: Empat Mobil Serba Hitam Buru-buru Masuk ke Rumdin Bupati Lampung Utara, Ternyata KPK
Penelitian dilangsungkan pada 4-5 Oktober dengan metode wawancara langsung melalui telepon.
Survei ini memiliki toleransi kesalahan (margin of error) mencapai lebih kurang 3,2 persen dengan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.
(ruh/pojoksatu)

Categories
Aksi 22 Mei hasil survei Nasional

Survei Terkini: Sempat Rusuh 22 Mei, Tak Disangka Masyarakat Puas Hasil Demokrasi Indonesia

POJOKSATU.id, JAKARTA – Masyarakat Indonesia secara umum masih memiliki tingkat kepuasan cukup tinggi terhadap perjalanan demokrasi yang terjadi di Indonesia saat ini.
Begitu dikatakan peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Sirojuddin Abbas dalam rilis survei Kondisi Demokrasi dan Ekonomi Politik Nasional Pasca Peristiwa 21-22 Mei di Kawasan Cikini, Menteng, Jakarta, Minggu (16/6).
“Angka yang kami peroleh, 59 persen masyarakat cukup puas dengan jalannya demokrasi, 7 persen merasa sangat puas, 26 persen kurang puas dan 4 persen sama sekali tidak puas,” ujar Abbas.
Tak hanya pasca peristiwa 21-22 Mei, Abbas juga menyebutkan bahwa demokrasi juga terjadi pada Pemilu 2019. Dari temuannya, masyarakat Indonesia menganggap Pemilu yang baru saja berlalu berlangsung dengan jujur dan adil.
“69 persen masyarakat beranggapan Pemilu 2019 sudah jurdil, angka ini sedikit lebih rendah dari Pemilu 2014, yaitu 70,7 persen,” jelasnya.
Survei tersebut dilakukan dalam periode 20 Mei-1 Juni 2019 dengan ditetapkan 1.220 responden dari seluruh Indonesia dengan usia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Dari jumlah sampel itu, hanya 1.078 sampel dapat dilakukan wawancara.
Metode yang dipakai dalam survei adalah simple random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan toleransi kesalahan plus minus 3,05 persen.
(dik/rmol/pojoksatu)

Categories
hasil survei Jokowi-Ma'ruf Nasional Pilpres 2019 prabowo-sandi

Hasil Survei Terkini Pasca Debat: Jokowi Unggul Sentimen Positif, Prabowo Lebih Populer

POJOKSATU.id, JAKARTA – Debat Pilpres keempat yang diikuti dua calon presiden, Sabtu (30/3/2019) berlangsung seru.
Meski begitu, baik capres nomor urut 01 Joko Widodo maupun capres nomor urut 02, Prabowo Subianto menutup acara debat dengan cair.
“Jokowi menyampaikan bahwa rantai persahabatan dengan pesaingnya itu tidak akan putus. Prabowo menegaskan persaudaraan di antara keduanya tidak akan putus. Penyataan dua Capres ini mendinginkan suhu Pilpres 2019 yang sempat panas,” ujar Direktur Konten Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi), M. Samsul Arifin dalam siaran pers yang diterima redaksi, Minggu (31/3).
Partai Berkarya
Terkait itu, warganet elit dan masyarakat Indonesia mengapresiasi. Harapannya, elit dan masyarakat yang telah terpolarisasi ke dalam dua kubu agar bisa meneladani kedua capres tersebut.
Sebelumnya dalam sesi debat, Jokowi dan Prabowo mengaku sering difitnah.
Prabowo difitnah mendukung khilafah, melarang tahlilan, dan tidak Pancasilais, meski pernah mempertaruhkan nyawa untuk NKRI.
Jokowi juga mengaku selama 4,5 tahun ini difitnah “Pak Jokowi PKI”.
“Justifikasi anti-Pancasila terhadap suatu kelompok untuk menggalang dukungan Pilpres ini sangat berbahaya, begitu juga justifikasi PKI terhadap orang tertentu tanpa ada bukti. Ini jelas dapat memecah belah bangunan kokoh NKRI,” ucap mahasiswa magister ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.
Proses kampanye politik seringkali dilakukan secara dramatis. Di depan publik, mereka tampak gontok-gontokan, padahal di luar itu bersahabat dan bersalam-salaman seperti saudara.
Karena itu, Samsul mengajak masyarakat Indonesia agar tidak terjebak konflik.
Samsul lebih lanjut memaparkan hasil penelusuran Komunikonten di Google Trends periode 30 Maret 2019 untuk empat jam terakhir, yang dilihat sekitar pukul 23.00 WIB, Prabowo Subianto lebih populer dibanding Joko Widodo.
Popularitas Prabowo memuncak pada pukul 20.44 WIB.
Sementara itu, hasil penelusuran di media sosial periode 30 Maret 2019, Prabowo lebih banyak dibicarakan dibanding Jokowi.
Untuk Prabowo, sentimen positif sebesar 41,82 persen, sentimen negatif 15,53 persen, dan 42,65 persen netral. Sedangkan untuk Jokowi, sentimen positif 48,34 persen, sentimen negatif 16,2 persen, dan 35,46 persen netral.
(wid/rmol/pojoksatu)

Categories
hasil survei Jokowi-Ma'ruf lembaga survei Nasional Pilpres 2019 prabowo-sandi

Prabowo-Sandi Kalah Terus di Hasil Survei, BPN: Survei Internal Lebih Valid

POJOKSATU.id, JAKARTA – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi tak mau ambil pusing dengan berbagai hasil survei yang selalu menempatkan capres-cawapres nomor urut 02 itu di bawah pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf.
Sebaliknya, setiap kali lembaga survei merilis hasilnya, selalu ditanggapi BPN dengan senyuman.
Pasalnya, BPN sudah memiliki data survei interal yang representatif dan valid serta hasilnya sangat menggembirakan.
Demikian disampaikan tim Badan Pemenangan Prabowo-Sandi, Rizaldi Priambodo dalam diskusi publik bertema ‘Migrasi Suara Pilpres 2019, Hasil Survei vs Realitas’ di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2019).
“Karena itu, kami di BPN sering senyum-senyum sendiri kalau melihat hasil survei yang dirilis belakangan ini,” katanya.
Rizaldi mengatakan, BPN Prabowo-Sandi merasakan ada fenomena migrasi suara yang terjadi yang lebih spesifik disebutnya sebagai ‘hijrah suara’.
Istilah ‘hijrah’ digunakan karena adanya perpindahan dari yang tidak baik menuju ke yang lebih baik.
“Fenomena hijrah suara ini dapat dirasakan dari kegiatan-kegiatan kampanye paslon maupun timses,” tuturnya.
Menurutnya, setiap kegiatan kunjungan yang dilakukan oleh capres maupun cawapres jagoannya dimanapun selalu membeludak.
Animo masyarakat menyambut capres maupun cawapres 02 begitu luar biasa.
Kegiatan yang diadakan di dalam gedung dihadiri massa pendukung yang meluber ke halaman gedung hingga ke jalan-jalan.
Jarak yang hanya puluhan meter harus ditempuh oleh mobil capres 02 selama 30 menit hingga satu jam karena ‘kepungan’ ribuan pendukung yang ingin sekadar menyapa dan bersalaman dengan pemimpin mereka.
Pemandangan lautan massa pendukung 02 ini seolah menjadi pemandangan ‘monoton’ yang selalu terjadi pada setiap kegiatan kampanye paslon 02.
“Kasarnya, tanpa dilaksanakan survei pun memang terasa ada fenomena hijrah suara,” katanya lagi.
Dia menjelaskan sebagai sebuah badan pemenangan, BPN Prabowo-Sandi mempunyai mekanisme survei internal.
Survei dilaksanakan secara berkala untuk mengetahui progres dan efektivitas kampanye yang bersifat terbatas dan tidak dipublikasikan keluar.
“Karena itulah, ketika membaca hasil-hasil survei yang dipublikasikan, tentu kami dapat membandingkan hasil-hasil survei tersebut dengan hasil survei internal BPN,” katanya.
Lebih lanjut, Rizaldi mengatakan Prabowo pernah menyatakan dalam pidatonya bahwa survei internal lebih valid daripada survey-survei yang dirilis oleh lembaga-lembaga survei.
Dari beberapa kali pilkada terakhir, memang seringkali hasil perhitungan suara berbeda jauh dengan hasil survei yang dirilis hanya beberapa hari sebelumnya.
(jpg/ruh/pojoksatu)

Categories
capres-cawapres hasil survei janji kampanye Jokowi-Ma'ruf Nasional Pilpres 2019 prabowo-sandi

Bukan Hoax, Masyarakat Sudah Gak Percaya Janji Politik, Mau Jokowi atau Prabowo Sama Aja

POJOKSATU.id, JAKARTA – Hasil survei Voxpol Center Research and Consulting mengungkap hal yang mengejutkan dimana masyrakat sudah jengah dan tak percaya dengan janji-janji kampanye pasangan capres-cawapres Pilpres 2019.
Demikian diungkap Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangan pers tertulisnya, Jumat (23/3/2019).
Dalam survei tersebut terungkap, sebanyak 62,8 persen responden tidak percaya dengan janji kampanye politik capres-cawapres.
Kendati demikian, terangnya, masih ada responden yang percaya terhadap janji politik yang diobral ketika masa kampanye, yakni sebesar 24,7 persen.
“Sisanya tidak tahu dan tidak jawab,” katanya.
Hasil survei juga menunjukkan tingginya angka ketidaktarikan pemilih terhadap janji politik masing-masing paslon, yakni sebesar 70,4 persen dari 1.220 responden.
Hanya 18,3 persen pemilih yang tertarik dengan janji yang ditawarkan oleh elite politisi atau calon presiden/wakil presiden.
“Sisanya tidak tahu dan tidak jawab,” beber pangi.
Selain itu juga diperoleh sebanyak 27,3 persen responden yang percaya janji politik mempengaruhi pilihan mereka pada 17 April 2019.
Sedangkan 63,5 persen responden menyatakan sebaliknya.
Pangi melanjutkan, hanya 16,6 persen yang merespon akan menagih janji politik pemenang Pilpres.
Angka ini terbilang kecil dibandingkan 71,4 persen memilih pasif. Sedangkan 12 persen diantaranya menyatakan tidak tahu dan tidak jawab.
Survei ini, kata Pangi, dilakukan sepanjang pariode 26 Februari 2019 hingga 8 Maret 2019.
Sedangka para responden, dipilih secara acak dengan metode multistage random sampling dari seluruh provinsi di Indonesia dan telah berusia 17 tahun.
Survei ini memiliki tingkat kesalahan alias margin of error survei sebesar +-2,98 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
“Setiap responden terpilih diwawancarai dengan metode wawancara tatap muka (face to face) oleh pewawancara yang terlatih secara khusus,”
“Quality control dilakukan dengan mendatangi kembali (rekonfirmasi) 20 persen sampel responden yang ada kemudian terpilih secara acak (spot check),” bebernya.
(jpg/ruh/pojoksatu)

Categories
elektabilitas hasil survei Nasional PSI Survei Litbang Kompas

PSI Jadi Parpol Paling Ditolak Masyarakat karena Kerap Mengobarkan Perang

POJOKSATU.id, JAKARTA – Hasil survei terbaru Litbang Kompas bukan hanya menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Subianto.
Dikutip dari survei Kompas, Kamis (21/3/2019), survei itu juga menunjukkan bahwa tak satu pun partai pendatang baru di Pemilu 2019 lolos ambang batas parlemen (PT) empat persen.
Tetapi juga resistansi (penolakan) masyarakat terhadap partai-partai tersebut. Uniknya, angka resistansi tersebut justru lebih tinggi dari elektabilitas mereka yang rata-rata cuma berkisar nol koma.
Dibeberkan, PSI menjadi partai baru yang paling tinggi resistansinya atau dengan kata lain paling ditolak masyarakat.
Dengan elektabiltas 0,9 persen, resistansi masyarakat terhadap partai baru pimpinan Grace Natalie ini ditolak oleh 5,6 persen masyarakat.
Disusul selanjutnya oleh Perindo dengan elektabilitas 1,5 persen dengan resistensi 1,9 persen.
Kemudian Partai Berkarya dengan elektabilitas 0,5 persen dan resistensi sebesar 1,3 persen.
Selanjutnya, Partai Garuda yang mengantongi elektabilitas sebesar 0,2 persen dengan resistensi 0,9 persen.
Pengamat Komunikasi Politik Ari Junaedi menjelaskan, rendahnya elektabilitas partai-partai baru seperti PSI, Partai Garuda, Berkarya dan Perindo adalah wajar dan normal.
Menurutnya, selain sebagai pendatang baru, positioning dan strategi branding mereka pun terbilang tidak tepat.
“Hal ini terlihat dari tingginya resistensi mayarakat terhadap partai-partai baru, termasuk PSI yang dibesut anak-anak milenial,” ujar Ari di Jakarta, Kamis (21/3/2019).
Ari mengaku dirinya sejatinya adalah salah satu orang yang menaruh harapan besar terhadap PSI di saat-saat awal berdiri.
Namun menurutnya, di tengah-tengah perjalanannya, partai pimpinan Grace Natalie tersebut kerap mengeluarkan blunder-blunder yang tidak perlu, serta mengganggu soliditas di koalisi partai-partai pendukung Jokowi.
Dalam hematnya, seharusnya, pernyataan perda syariah dan poligami yang masuk dalam ranah filosofis keagamaan, sebaiknya tidak disentuh PSI di awal kampanye.
“Dengan cara seperti itu, PSI mengobarkan perang dengan kaum mayoritas,” ujar pengajar di Univesitas Indonesia (UI) ini.
Demikian juga soal pernyataan PSI yang menyinggung kiprah partai-partai lama soal pendampingan terhadap gender.
“Toh, nyatanya sudah digarap oleh partai-partai yang jauh lebih senior,” kata Ari.
Semestinya, saran dia, PSI lincah bermanuver di pusaran-pusaran isu-isu nasional tanpa membuat permusuhan dengan partai-partai lain.
PSI, kata dia, harusnya percaya diri bermain di isu-isu milenial mengingat captive marketnya di kalangan milenial atau pemilih pemula.
“Ini kan tidak. PSI membuka front ‘pertempuran’ dengan partai-partai ‘senior’, tidak peduli yang ada di dalam koalisi atau tidak serta tidak menggarap intens pasar potensialnya,” papar Ari.
Lebih lanjut, Ari menambahkan, PSI masih tidak bisa menempatkan dirinya sebagai partai baru yang sejajar dengan partai-partai mapan seperti PDIP, Gerindra, Golkar dan PKB.
“PSI kurang santun dalam berpolitik serta tidak bisa melepaskan diri dari gaya anak muda yang temperamental,” tutupnya.
(jpg/ruh/pojoksatu)

Categories
hasil survei Jokowi-Amin Nasional Pilpres 2019 prabowo-sandi

Survei CRC Menangkan Jokowi-Amin, BPN Prabowo-Sandi Malah Sumbar Menang Selisih 9 Persen

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pasangan Prabowo-Sandi lagi-lagi ditempatkan tertinggal cukup jauh dari hasil survei elektabilitas. Kali ini melalui hasil survei Celebes Research Center (CRC).
Dalam hasil survei tersebut, pasangan Jokowi-Amin masih tak tergoyahkan dengan dukungan 56,1 persen.
Sementara pasangan capres-cawapres nomor urut 02 itu tertinggal 23 persen lebih dengan hanya mendapat dukungan di angka 31,7 persen.
Jurubicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Angga Wira menyatakan, kendati paslon jagoannya lagi-lagi tertinggal, hasil survei CRC itu tetap akan menjadi referensi dan informasi bagi pihaknya.
BACA: Jika Skenario Dilancarkan, Parpol Koalisi Jokowi Tak Akan Menolak Ahok Gantikan KH Ma’ruf Amin
“Tentu akan menjadi referensi dan informasi pegangan bagi kami untuk melakukan langkah-langkah dalam dua bulan ke depan,” katanya, usai menjadi pembicara dalam acara rilis hasil survei CRC, di Bakoel Koffie, Jakarta, Minggu (10/2/2019).
Akan tetapi, sambungnya, pihaknya tetap berkeyakinan bakal bisa menjungkalkan pasangan capres-cawapres petahana itu di Pilpres 2019 mendatang.
Malah, keadaan bakal berbalik dimana pasangan nomor 02 itulah yang diyakininya bakal keluar sebagai pemenang dengan selisih hampir 10 persen.
BACA: Beredar Foto Ustad Abdul Somad Pose 1 Jari, Dukung Jokowi-Amin?
“Akan ada kejutan. Kalau menurut prediksi saya, Prabowo-Sandi akan menang dengan selisih antara delapan sampai sembilan persen,” sumbarnya.
Hasil survei tersebut juga mengungkap adanya 10 dari 16 partai politik peserta Pemilu 2019 diprediksi tak bisa melenggang ke Senayan karena tak memenuhi ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen.

Categories
hasil survei hasil survei pilpres Nasional Pilpres 2019 Survei Pilpres

TKN Nilai Kalangan Terpelajar Wajar Pilih Prabowo-Sandi

POJOKSATU.ID, JAKARTA – Pasangan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno lebih dipilih kalangan pelajar ketimbang paslon Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Hal itu mengacu pada hasil survei LSI Denny JA yang dirilis, Kamis (7/2/2019) kemarin.
Menanggapi hasil survei tersebut, kubu paslon 01 menilai wajar jagoannya kalah di kantong suara pemilih terpelajar. Sebab, sebagian besar para pelajar sangat kuat dengan semangat oposan.
BACA JUGA: Difitnah Anti-Islam, Jokowi: yang Teken Hari Santri Siapa?
Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani kepada wartawan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (8/2/2019).
“Ya kalangan terpelajar ini kan pada umumnya kalangan mahasiswa dan yang sudah sarjana itu memang jiwa oposisi ya lebih kencang,” ujar Wakil Ketua TKN Jokowi-Maruf ini.
Menurut Arsul, kecenderungan oposisi dengan pemerintah bagi kalangan mahasiswa memang sangat melekat. Bahkan, hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia.
“Termasuk di Amerika sekalipun itu pasti lebih tinggi (oposisi) terhadap pemerintahan,” kata dia.
BACA JUGA: Terima Uangnya, Jangan Pilih Orangnya
Karenanya, lanjut Arsul, TKN Jokowi-Maruf tidak begitu heran dengan keunggulan Prabowo-Sandi di kalangan pelajar. Sebab, di semua lembaga survei pun tren oposisi di kalangan pelajar sangat lumrah.
“Jadi di kalangan terpelajar, seperti itu bukan sesuatu yang mengherankan ya survei mana pun terhadap pemerintahan yang ada tingkat ketidakpuasan kalangan terpelajar gitu,” tutur Arsul yang juga anggota DPR ini.
Dari hasil survei terbaru LSI Denny JA ini diketahui paslon nomor urut 01 memiliki elektabilitas 54,8 persen. Sementara paslon nomor urut 02 sebesar 31,0 persen.

Categories
hasil survei Nasional Pilpres 2019 Survei Pilpres

Hasil Survei LSI Denny JA, Prabowo-Sandi Hanya Unggul di Kantong Suara Ini

POJOKSATU.ID, JAKARTA – Pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno secara keseluruhan memang masih tertinggal dari paslon 01, Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Namun paslon nomor urut 02 itu unggul di kantong suara pemilih terpelajar.
Hal itu berdasarkan hasil survei pilpres terbaru yang dipaparkan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Kamis (7/2/2019).
BACA JUGA: Polres Bandung Sita Ganja 12 Kilo yang Dikendalikan dari dalam Lapas
Dari hasil survei terbaru LSI Denny JA ini diketahui paslon nomor urut 01 memiliki elektabilitas 54,8 persen. Sementara paslon nomor urut 02 sebesar 31,0 persen.
Peneliti dari LSI Denny JA, Adjie Al Faraby mengatakan dari survei pilpres terbaru yang dilakukan lembaganya, tidak ada perubahan yang signifikan dalam persentase elektabilitas kedua paslon, dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Namun demikian ada beberapa kantong yang menjadi defisit bagi kedua pasangan kandidat.
BACA JUGA: Dua Bulan Jelang Pilpres, Hasil Survei Jokowi-Ma’ruf Masih Unggul 20 Persen
“Sejak pendaftaran bulan Agustus, elektabilitas kedua pasangan calon bergerak fluktuatif namun tidak signifikan baik peningkatan atau penurunan,” kata Adjie di Graha Rajawali, Jakarta Timur, Kamis (7/2/2019).
Lebih jauh dijelaskan, setidaknya ada enam kantong yang mengalami perubahan persentase elektabilitas kedua paslon. Aantara lain kelompok pemilih muslim, pemilih minoritas, pemilih dengan penapatan menengah ke bawah, pemilih perempuan, pemilih terpelajar dan pemilih milenial.
Khusus untuk pemilih terpelajar yang populasinya mencapai 11,5 persen, ternyata pasangan Prabowo-Sandi unggul sekitar 6,5 persen. Paslon nomor urut 02 itu dipilih 44,2 pemilih terpelajar, sementara Jokowi-Ma’ruf dipilih 37,7 persen responden.

Categories
elektabilitas hasil survei Jokowi-Ma'ruf Nasional Pilpres 2019 prabowo-sandi

Sekarang Banten Jadi Milik Jokowi, Tahun Depan Prabowo-Sandi Makin Terjungkal

POJOKSATU.id, JAKARTA – Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf mengklaim berhasil merebut wilayah Banten dari tangan Prabowo-Sandi untuk Pilpres 2019.
Demikian disampaikan Jurubicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Irma Chaniago beradasarkan hasil survei terbaru internal koalisi Indonesia Kerja (KIK).
Irma mengungkap, dari hasil survei tesebut, pasangan nomor irit 01 itu berhasil mempecundangi pasangan oposisi dengan keunggulan tipis.
Di provinsi paling barat di Pulau Jawa itu, Irma menyebut elektabilita pasangan petahana itu mencapai 36 persen.
“Saat ini persentase dukungan ke Pak Jokowi sudah 36,31 persen. Sementara dukungan untuk Pak Prabowo 34,64 persen,” ujar Irma di Rumah Cemara Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (14/12/2018).
Di Banten, lanjut Irma, setidaknya ada empat wilayah yang menjadi penyumbang suara terbesar untuk KIK.
Yakni Kota Tengerang Selatan, Kota Tangerang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Lebak.
“Itu yang saat ini menjadi lumbung kami,” tutur politisi Partai Nasdem itu.
Pihaknya memperkirakan, angka itu akan terus bergerak naik pada Januari tahun depan.
“Januari kami perkirakan posisi kami sudah ada di 40-45 persen,” lanjutnya.
Irma menambahkan, pihaknya memang sengsudah menetapkan target ager tingkat keterpilihan Jokowi-Ma’ruf bisa terus naik di wilayah Banten.
Sehingga, awal tahun depan, angkanya akan terus mengalami kenaikan di atas 40 persen.
“Kami bisa sampaikan dan pastikan di Januari 2019, survei kami di Banten bisa mencapai 40-45 persen,” tandasnya.
Untuk mencapai target tersebut, pihaknya menegaskan akan terus bekerja mensosialisasikan pasangan Jokowi-Ma’ruf.
“Melalui kampanye program dan keberhasilan Jokowi selama menjadi Presiden,” tutup Irma.
Untuk diketahui, pada Pilpres 2014 lalu, Banten menjadi salah satu lumbung suara bagi Prabowo yang kala itu berpasangan dengan Hatta Rajasa.
Prabowo-Hatta, menang telak dengan perolehan suara 57,10 persen atau 3.192.671 suara.
Sedangkan Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla hanya mendapat 42,90 persen atau 2.398.631.
(jpg/ruh/pojoksatu)