Categories
Airlangga Hartarato golkar Nasional

“Jokowi Ketua Umum Golkar, Itu Kata Orang”

POJOKSATU.id, JAKARTA – Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 2019 sedikit banyaknya dapat dipengaruhi oleh Presiden Jokowi lantaran punya kedekatan dengan elite partai pohon beringin.
Politisi PDIP Effendi Simbolon berkelakar tentang rencana Munas Golkar yang akan dilangsungkan pada Desember mendatang.
Dia menyebut pemilihan ketua umum Golkar ibarat memilih ketua pelaksana harian partai.
“Ya kita memang taunya begitu. Memang Golkar ada ketua umumnya? Kan ketua umumnya Pak Jokowi, itu kata orang,” seloroh Effendi di sela-sela diskusi Polemik bertajuk ‘Ngebut Munas Parpol Jelang Kabinet Baru’ di Jalan Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7).
Sebelumnya, Effendi menegaskan bahwa partainya tegas dalam menyatakan sikap politik.
Menurutnya, ketua umum partai bukanlah orang suruhan pemerintah karena itu Megawati Soekarnoputri tegas dan dipatuhi oleh kader-kadernya.
“Karena ketua umum partai itu bukan direktur utama, bukan jadi bonekanya pemerintah. PDI Perjuangan punya integritas dan jati diri,” kata Effendi.
Pembicara lain dalam diskusi, politis Partai Golkar Lawrence Siburian membenarkan apa yang diungkapkan Effendi.
Menurutnya, sosok ketum Golkar yang sekarang Airlangga Hartarto cenderung manut dengan pemerintah.
“Kita ingin ketua umum Partai Golkar itu amodatif ya. Jadi saya kira karakter menteri dengan ketua umum itu berbeda,” kata Lawrence.
Narasumber lain selain Effendi dan Lawrence, politisi PKB Maman Imanul Haq dan politisi PPP Ahmad Baidowi.
Airlangga Hartarto vs Bambang Soesatyo
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lili Romli menyadari belakangan ini kandidat di bursa pemilihan Ketua Umum Golkar menguat pada sosok Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo atau Bamsoet. Keduanya memiliki basis dukungan masing-masing.
Namun demikian, kepemimpinan Bamsoet dinilai lebih baik dibandingkan petahana jika ditinjau dari prestasi di Golkar dan DPR.
“Bambang sudah membuktikan ketika kepemimpinan di DPR ini mampu ternyata. Dia karirnya dari bawah, dari media massa, pengusaha, aktivis, terus masuk politik, kemudian puncak sekarang ketua DPR dan banyak terobosan. Penilaian DPR positif, tadinya terpuruk. Peluang dia menjadi saingan berat Airlangga,” kata Lili di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (21/7).
Sementara, Airlangga tak begitu cemerlang di Golkar dengan menurunnya suara partai dan berkurangnya kursi di DPR. Bahkan, Airlangga juga terlihat tidak menunjukkan kinerjanya sebagai menteri perindustrian.
Penurunan suara Golkar dan berkurangnya kursi di parlemen, kata Lili, berbanding terbalik dengan NasDem yang notabene pecahan partai berlambang beringin itu. NasDem secara suara dan perolehan kursi di parlemen naik signifikan dibanding Pemilu 2014.
“Memang terlalu low profile Pak Airlangga ini, memimpin partai enggak bisa. Sebagai partai besar kan harus menunjukkan juga hasil kepemimpinan yang menunjukkan partai besar. Dia kan low profile saya lihat. Itu bisa jadi kemudian faktor-faktor titik lemah dia,” jelas dia.
Lili melihat Airlangga tidak banyak tampil dan melahirkan terobosan selama memimpin Golkar. Selama dua tahun memimpin Golkar, kata Lili, terlihat datar dan bahkan tak mampu mengonsolidasikan kekuatan partai.
“Sekarang tantangan untuk kepemimpinan Golkar itu dua. Pertama, mengembalikan kepercayaan kepada Golkar yang terpuruk dirundung konflik terus pecah. Sekarang turun suaranya gimana gitu bisa lanjut. Kedua, bisa mempersatukan di antara faksi yang ada. Silakan peserta (caketum) itu bersaing,” tutup Lili.
(rmol/pojoksatu)

Categories
airlangga hartarto Bambang Soesatyo Bamsoet golkar Nasional

Bamsoet Deklarasi Caketum Golkar, Airlangga Bodo Amat: Munasnya Aja Belum

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Umun Partai Golkar, Airlangga Hartarto tidak ambil pusing dengan deklarasi Ketua DPR Bambang Soesatyo untuk maju sebagai calon ketua Golkar.
Airlangga dan Bamsoet adalah dua nama yang potensial menjadi calon ketum dalam Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 2019 akhir tahun ini.
Bamsoet sebagai penantang telah mendeklarasikan diri siang tadi untuk menjadi calon ketum.
“Munasnya saja kan belum (dijadwalkan),” ujar Airlangga menanggapai deklarasi Bamsoet, di Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/7).
Airlangga enggan memberikan jawaban saat wartawan bertanya kapan dia akan mendeklarasikan dir secara resmi untuk menjadi calon ketum Golkar periode 2019-2024.
“Nanti saja menjelang Munas,” singkat Menteri Perindustrian ini.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
Bambang Soesatyo Bamsoet golkar Nasional

Tak Dukung Bamsoet, DPD II Golkar Diancam, “Kami Konsisten Dukung Beliau Caketum”

POJOKSATU.id, JAKARTA – DPD Golkar DKI Jakarta bergejolak. Ini terkait penarikan dukungan kepada kandidat ketua umum Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet).
Ketua DPD II Golkar Jakarta Selatan, M. Ikhsan Ingratubun, menegaskan bakal konsisten mendukung Bamsoet menggantikan Airlangga Hartarto di pucuk pimpinan partai.
Dukungan tersebut diklaim akan tetap solid meski sebelumnya ada sinyal “ancaman” dari DPP Golkar terkait pencopotan pengurus 10 DPD II Maluku.
“Kami tetap konsisten meminta dan mendukung Bamsoet untuk maju menjadi Caketum Partai Golkar pada perhelatan Munas yang akan diselenggarakan pada tahun ini. Munas memang harus dilaksanakan secara demokratis karena sudah diatur dalam AD/ART partai,” kata Ikhsan kepada wartawan, di Jakarta, Sabtu (13/7).
Menurut Ikhsan, setiap kader berhak mencalonkan dirinya sebagai ketua umum. Yang terpenting adalah semua berkomitmen akan tetap bersatu di dalam Golkar.
“Perbedaan dukungan itu dinamika dalam politik, maka saya tegaskan untuk terus mendukung Mas Bamsoet maju sebagai Caketum. Dengan niat barokah dan membawa Partai Golkar ke arah yang lebih baik dan dapat meningkatkan citra partai di era milenial ini,” ucap Ikhsan.

(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
golkar Jokowi Nasional

Terbukti Golkar Kurang Kontribusi buat Jokowi di Pilpres, Akhirnya Cuma Dapat Kursi Menteri Segini

POJOKSATU.id, JAKARTA – Jatah kursi kabinet masing-masing partai politik pendukung Jokowi-Maruf harus disesuaikan dengan kontribusi dan kerja parpol dalam memenangkan 01, bukan semata-mata hanya ditentukan oleh jumlah perolehan kursi.
Dengan begitu, parpol besar yang minim kontribusi tak akan disamakan dengan parpol yang optimal memenangkan Jokowi-Maruf. Salah satunya adalah Partai Golkar.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti menilai Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto tidak memperlihatkan kontribusi yang besar dalam memenangkan capres petahana.
Oleh karenanya, wajar bila partai berlambang pohon beringin ini diberi kursi menteri lebih sedikit.
“Saya melihat bahwa Partai Golkar cukup mendapatkan dua kursi kabinet. Alasan utamanya adalah konsolidasi partai ini dalam menyukseskan Jokowi sebagai presiden kurang optimal,” kata Ray di Jakarta, Jumat (12/7).
Ray mencontohkan, tidak optimalnya Golkar dalam memenangkan Jokowi adalah merosotnya Jokowi di daerah yang dikenal sebagai basis tradisionil Golkar.
“Sebut saja Banten, Jabar, dan Sulsel. Tiga daerah yang dikenal sebagai basis Golkar, tapi suara Jokowi tidak signifikan di dalamnya. Dengan pertimbangan ini, saya melihat Golkar sepantasnya hanya dapat dua kursi kabinet,” tegas Ray.
Yang tak kalah mengherankan, tiga wilayah itu suara Golkar tetap tinggi.
Di Sulawesi Selatan, Golkar menjadi pemenang dengan perolehan suara tertinggi disusul Gerindra dan Nasdem.
Namun hasil ini tak sejalan dengan Pilpres yang mengunggulkan Prabowo-Sandi di atas 50 persen di Sulsel.
Pun demikian di Jawa Barat dan Banten yang menjadi basis suara Golkar pada Pemilu 2014 lalu. Di dua wilayah ini, baik suara Golkar maupun Jokowi merosot.
Sementara itu, untuk jatah partai lain, Ray menilai PKB layak mendapat empat kursi dan PPP dua kursi. PSI dan Hanura masing-masing satu kursi.
“Perindo dugaan saya minta tapi saya kira gak akan dilibatkan pertimbangannya, keuntungan politik untuk pak Jokowi. PBB dugaan saya juga gak akan dapat, paling jadi Wantimpres Yusril dapat,” tutupnya.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
airlangga hartarto Bambang Soesatyo Bamsoet Dedi Mulyadi golkar Nasional

Pengurus Partai Loyalis Bamsoet: Golkar Mirip Kerajaan, Ada Raja Dedi Mulyadi, Ada Raja Airlangga

POJOKSATU.id, JAKARTA – Wakil Koordinator Bidang Pratama DPP Partai Golkar Bambang Soesatyo sebelumnya mempersilakan kepada Ketua DPD yang mendukungnya maju sebagai calon ketua umum Golkar untuk menarik dukungan pasca pemecatan 10 DPD II Golkar beberapa waktu lalu.
Namun demikian, imbauan tersebut tak diindahkan. Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Buru yang juga Bupati Kabupaten Buru, Ramly Ibrahim Umasugi mengaku seluruh DPD II Partai Golkar di Maluku tetap mendukung Bamsoet.
“Kami tetap setia dan tidak akan mencabut dukungan, siap melawan apapun risikonya” Kata Ramly di usai bertemu Bambang Soesatyo di Kompleks DPR, Senayan, Jumat (11/07).
Sejauh ini, Ramly menjelaskan bahwa alasan perolehan suara Partai Golkar turun di Maluku yang menjadi landasan pemecatan dirinya adalah alasan yang aneh. Seharusnya DPP Partai Golkar bercermin karena perolehan suara Partai Golkar secara nasional turun tajam, kehilangan 1,2 juta suara dan 6 kursi di DPR RI.
Senada dengan Ramly, Ketua DPD II Partai Golkar Kota Cirebon, Toto Sunarto korban menyampaikan bahwa alasan DPD I Partai Golkar mem-Plt-kan dirinya adalah alasan yang mengada-ada.
Toto mengungkapkan, pada saat halal bihalal DPD Partai Golkar Jawa Barat, pengurus tingkat II diminta datang dan membawa cap partai untuk memberikan dukungan kepada Airlangga Hartarto.
“Namun karena Kota Cirebon sepakat mendukung Mas Bambang, kami tidak memberikan dukungan. Kami melihat cara-cara yang dipakai DPP dan DPD I jauh dari nilai demokratis. Seharusnya daerah diberikan kesempatan menentukan kepada siapa dukungan diberikan. Jika diarahkan, maka Golkar bukan lagi seperti partai politik, tapi tak ubahnya kerajaan. Ada Raja Dedi Mulyadi, Ada Raja Airlangga,” jelas Toto.
Dalam kesempatan yang sama, Bamsoet menyesalkan pemecatan terhadap mereka lantaran dinilai sebagai wujud sikap kepemimpinan yang otoriter di bawah Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto. Ia sepakat bahwa sikap tirani ini harus dilawan.
“Saya sepakat bahwa sikap otoriter ini, sikap tirani ini menjadi musuh kita bersama di Partai Golkar. Harus kita lawan,” kata Bamsoet.
Di sisi lain, dibanding menyerang para DPD Golkar, mantan Ketua Komisi III DPR RI ini menyebut siap digantikan dalam jabatan apapun di kepartaian.
“Silakan gunakan kekuasaan itu sesukanya kepada saya, tetapi jangan kepada para pengurus daerah yang sudah berdarah-darah memenangkan Partai Golkar dan pasangan Joko Widodo-KH Maruf Amin pada Pemilu 2019 lalu. Jangan karena beda pendapat urusan dukung-mendukung calon ketua umum, lantas air susu dibalas air tuba,” tandas Bamsoet.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
airlangga hartarto golkar Nasional

Airlangga Ingin Munaslub Golkar setelah Jokowi Dilantik, Ternyata Modus Biar Dapat Ini

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar), Airlangga Hartarto menghendaki Musyarawah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar digelar pada Desember 2019 mendatang. Namun beberapa pihak menginginkan adanya percepatan waktu Munaslub.
Melihat dinamika partai beringin ini, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review, Ujang Komaruddin menyarankan bahwa Munaslub Golkar dipercepat sebelum pelantikan Joko Widodo-Maruf Amin pada Oktober 2019 mendatang.
“Kalau kami dorong saja dipercepat supaya bisa bersama-sama bekerja dengan pemerintahan Jokowi,” kata Ujang saat dihubungi, Rabu (3/7).
Dengan mempercepat Munaslub itu, siapapun pemimpin Golkar bisa langsung segera bekerja termasuk menyusun kabinet dan pimpinan DPR-MPR.
Di sisi lain, Ujang menyadari Airlangga menginginkan Munaslub digelar setelah pelantikan presiden dan wakil presiden. Sebab dengan demikian, Airlangga bisa leluasa menyusun orang-orangnya di kabinet dan pimpinan DPR-MPR.
“Sekarang yang menentukan menteri di kabinet di Golkar Airlangga, yang mengondisikan wakil ketua DPR dan pimpinan MPR dan lain-lain kan Airlangga. Jadi memang Airlangga pengin menang lagi setelah Oktober. Makanya dia mati-matian pengin Munaslub pada Desember,” jelas Ujang.
Ujang menjelaskan, potensi kemenangan menteri perindustrian itu sangat besar jika Munaslub dilangsungkan Desember.
Namun jika sebelum pelantikan Jokowi-Maruf, posisi Ketum cenderung lemah dengan lawan-lawannya, seperti Ketua DPR Bambang Soesatyo yang santer maju sebagai kandidat ketua umum Golkar.
Di samping itu, lanjut Ujang, sebenarnya kepemimpinan Airlangga selama lima tahun ini tergolong gagal. Hal itu dilihat dari raihan kursi Golkar yang cenderung menurun dibanding periode sebelumnya.
“Kalau saya ukuran akademik kuantitatif saja. Saya malah anggap kurang berhasil karena tahun ini targetnya 110 kursi. Lalu 2014, 91 kursi sementara saat ini 85 kursi. Artinya tidak sesuai target malah kehilangan enam kursi,” jelas dia.
Ujang juga mengingat janji Airlangga pada Munaslub Golkar 2017 yang disebutkan akan menyerahkan jabatannya kepada kader lain jika dianggap gagal memimpin.
“Lalu jika berhasil akan diteruskan. Artinya ada tolak ukur kesuksesan dan kegagalan sebagai pemimpin. Hari ini kami lihat Golkar kurang berhasil,” tandas Ujang.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
akbar tanjung Bambang Soesatyo golkar Nasional

Akbar Tanjung Isyaratkan Dukungan pada Bamsoet

POJOKSATU.id, JAKARTA – Jelang musyawarah nasional (munas), politikus senior Akbar Tanjung mengisyaratkan dukungannya tentang calon ketua umum Partai Golkar.
Mantan ketua umum Golkar itu mendorong Bambang Soesatyo (Bamsoet) untuk maju sebagai kandidat orang nomor 1 di partai berlambang beringin hitam tersebut.
Akbar menyampaikan syaratnya saat menghadiri halalbihalal KAHMI di rumah dinas Ketua DPR RI, Widya Candra, Jakarta, Kamis (27/6) malam.
Ketua DPR periode 1999-2004 itu menasihati Bamsoet agar pandai-pandai dalam berpolitik.
“Saya dengar Adinda Bamsoet yang saat ini ketua DPR ingin maju sebagai calon ketua umum Partai Golkar. Saya pernah menjadi ketua umum Partai Golkar karena kepandaian dan kemampuan saya. Jadi kalau ingin menjadi ketua umum haruslah pandai-pandai,” ujar Akbar.
Lebih lanjut, Akbar mengatakan, KAHMI harus mendukung kader-kadernya menempati posisi penting.
“Saya dukung karena kita sepakat kader-kader kita harus menduduki berbagai posisi penting,” papar wakil ketua Dewan Kehormatan Golkar itu.
Tokoh asal Sibolga, Sumatera Utara itu juga mengaku bangga karena banyak kader KAHMI yang kini menduduki posisi penting di lembaga-lembaga negara.
Mantan menteri sekretaris negara itu lantas menyebut nama Bamsoet yang kini menjadi ketua DPR, ataupun Hamdan Zoelva yang memimpin MK periode 2013-2015.
Akbar menyebut hal itu menjadi bukti pengaderan di HMI sudah berjalan baik. “Pengaderan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan kader HMI yang mampu menduduki berbagai posisi penting di bidang politik, sosial, kemasyarakatan serta profesi,” papar ketua Dewan Penasihat KAHMI itu.
(jpg/pojoksatu)

Categories
airlangga hartarto golkar Nasional Yorrys Raweyai

Yorrys Cegah Airlangga Jadi Ketum Golkar Lagi: Aburizal Bakrie Saja Kami Lawan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Politikus Partai Golkar Yorrys Raweyai mengingatkan Airlangga Hartarto agar tak maju sebagai calon ketua umum pada musyawarah nasional (munas) mendatang.
Alasannya, Golkar sebaiknya meneruskan tradisi ketua umum hanya menjabat selama satu periode.
Yorrys mengatakan, sah-sah saja bagi Airlangga yang kini memimpin Golkar untuk maju sebagai calon ketua umum. Sebab, Airlangga juga punya hak politik.
“Itu hak. Mencoba kan boleh-boleh saja, tetapi enggak mungkin,” ujar Yorrys Raweyai dalam diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (22/6).
Menurut Yorrys, sulit bagi kader-kader menjadi ketua umum Partai Golkar selama dua periode. Selain itu, katanya, partai berlambang beringin itu juga memiliki banyak kader mumpuni yang berpeluang menjadi ketua umum.
“Ini organisasi kader. Masa partai kayak begini mau dikuasai, ini partai terbuka,” katanya.
Lebih lanjut Yorrys mengatakan, dalam sejarah Golkar baru Akbar Tandjung yang menduduki ketua umum selama dua periode. Setelah itu tidak pernah ada yang berhasil.
Yorrys lantas mencontohkan upaya Aburizal Bakrie alias Ical menjadi ketua umum selama dua periode. Nyatanya, katanya, upaya Ical kandas karena ada pihak-pihak di Golkar yang menentangnya.
“Dahulu Aburizal paling solid paling kuat saja kami melawan. Ini kan partai kader,” jelasnya.
Oleh sebab itu Yorrys mengaku akan menjadi kader Golkar yang terdepan dalam melawan jika Airlangga mau menjadi ketua umum lagi.
Alasannya, Golkar yang memiliki banyak kader mumpuni juga butuh regenerasi kepemimpinan.
“Jadi enggak boleh. Kalau ada yang bercita-cita dua kali saya akan berdiri paling depan,” ungkapnya.
(sta/jpc/pojoksatu)

Categories
Bambang Soesatyo golkar Nasional

Bamsoet Diusulkan Jadi Ketum Golkar: Jangan Ribut Dulu sampai Ada Keputusan MK

POJOKSATU.id, JAKARTA – Politikus Partai Golkar, Bambang Soesatyo tidak terlalu berminat menjadi ketua umum seiring desakan percepatan Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 2019.
Bambang yang kini menjadi ketua DPR RI menjadi nama yang disodorkan Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG). BPPG juga mendesak Munas dimajukan dari seharusnya dilaksanakan pada Desember tahun ini.
“Saya tidak memiliki keinginan apapun kecuali ingin menyelesaikan tugas dan tanggung jawab saya sebagai ketua DPR RI,” ujar Bambang di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (17/6/2019).
Bamsoet begitu dia akrab disapa, meminta kepada para kader muda Golkar untuk bersabar. Setidaknya, sampai ada putusan Mahkamah Konstitusi atas calon dukungan mereka di Pilpres, Jokowi-Maruf.
“Perlu saya sampaikan agar kita semua menahan diri, jangan ribut-ribut dulu sampai hasil keputusan MK yang menetapkan Pak Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia 2019-2024,” jelasnya.
Meski begitu, lanjut Bamsoet, bagus juga bagi Partai Golkar untuk memunculkan kader muda partai dalam bursa pencalonan ketua umum saat Munas nanti.
“Semakin banyak semakin bagus bagi Partai Golkar. Artinya kaderisasi berjalan dengan baik,” tukasnya.
(wid/rmol/pojoksatu)

Categories
agun gunandjar sudarsa golkar Jokowi Nasional pilres 201

Golkar Sebut Program Jokowi, Cerdas dan Realistis

POJOKSATU.id, JAKARTA – Politisi senior Partai Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa menyebut program yang ditawarkan pasangan nomor urut 01, Joko Widodo – Maruf Amin pada Pilpres 2019 ini, cerdas dan realistis.
Hal itu pula yang menjadi alasan Partai Golkar mendukung Jokowi di Musyawarah Nasional lalu. Menurut Agun, Golkar yakin capres petahana itu bisa mengakhiri penderitaan dan menyejahterakan rakyat.
BACA JUGA: Ternyata Ini Alasan Pelaku Mutilasi di Blitar Potong Kepala Korban
Demikian dikatakan politisi senior Partai Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa di Jakarta, Senin (8/4/2019).
“Jokowi-Maruf menawarkan program yang jelas, reastis dan menyentuh masyarakat,” ujarnya.
Politkus Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa
Pertumbuhan ekonomi yang terus naik selama 4,5 tahun terakhir ini, lanjut Agun, menunjukkan iklim usaha di Indonesia sangat kondusif dan kemampuan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Di samping itu juga pengelolaan Dana Desa sejak 2014-2019 meningkat signifikan selama periode Jokowi. Hal ini membuat pergerakan ekonomi menggeliat lebih dari Rp 200 triliun.
BACA JUGA: Jika Terbukti Lakukan Politik Uang, Capres Bakal Didiskualifikasi
Agun menyatakan, justru dengan adanya Program Keluarga Harapan (PKH) taraf hidup dan daya beli masyarakat jadi lebih baik. Belum lagi program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Bantuan Pemerintah Non Tunai (BPNT).
“Konsep ini dapat mengentaskan kemiskinan,” ujarnya.
Jaminan sosial, pendidikan dan kesehatan di era Jokowi juga sudah merata hampir di seluruh Indonesia.
Menurut dia, Jokowi membuat program-program yang cerdas, sangat realistis dan memudahkan masyarakat.
“Golkar menilai pembangunan dan program yang sudah berjalan saat ini perlu dilanjutkan lagi agar menjadi lebih baik,” pungkas anggota Komisi XI DPR ini.
(rmol/fat/pojoksatu)