Categories
Gempa 9 Gempa Megathrust ibu kota pindah Nasional

Ibu Kota dan Pengusaha Pindah, Takut Tsunami Tenggelamkan Jakarta?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Presiden Joko Widodo telah memutuskan untuk memindahkan ibu kota ke Pulau Kalimantan.
“Ibu kota negara kita akan pindah ke Pulau Kalimantan. Letaknya bisa di Kalteng, Kaltim, atau Kalsel,” kata Jokowi melalui akun Twitter pribadinya @jokowi, 8 Agustus 2019 lalu.
Menurut Jokowi, segala aspeknya sedang dikaji secara mendalam agar keputusan pemindahan Ibu Kota sesuai dengan visi Indonesia ke depan.
“Visi besar berbangsa dan bernegara untuk 10, 50, 100 tahun ke depan,” tambahnya.
Kepastian pemindahan Ibu Kota juga disampaikan Jokowi saat memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa (6/8/2019).
BACA: Berkat Jokowi, Isu Gempa 9,0 SR dan Tsunami 20 Meter Tak Lagi Ditutupi
Dalam rapat tersebut, Jokowi meminta jajarannya untuk melakukan kajian rinci terhadap berbagai aspek di Kalimantan, termasuk kajian kebencanaan, lingkungan, sosial politik, hingga kajian keekonomian.
Jokowi menyebutkan, kajian rinci akan dilakukan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memastikan lokasi ibu kota baru.
“Kajian yang berkaitan dengan kebencanaan, baik itu banjir baik itu gempa bumi, kajian yang berkaitan dengan daya dukung lingkungan termasuk ketersediaan air, lahan, infrastruktur, dan kajian keekonomian,” kata Jokowi.
Presiden Jokowi tinjau calon ibu kota di Kalimantan
Penekanan Jokowi soal kajian kebencanaan seperti gempa bumi, menimbulkan spekulasi tentang alasan pemindahan ibu kota.
Alasan pemindahan ibu kota diduga tak hanya untuk mengurangi beban Jakarta dan pemerataan pembangunan di Indonesia Timur, tapi juga soal ancaman bencana gempa disertai tsunami di Jakarta.
Seperti diketahui, potensi gempa 8,0 – 9,0 SR dan tsunami 20 meter merupakan ancaman nyata bagi rakyat Indonesia, khususnya yang tinggal di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Potensi gempa yang sering disebut gempa Megathrust ini tak lagi ditutup-tutupi berkat Presiden Jokowi.
Jokowi memerintahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) buka-bukaan soal gempa dan ancaman tsunami yang bisa menenggelamkan Jakarta.
Jokowi tak bermaksud untuk meresahkan masyarakat. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu ingin agar masyarakat teredukasi soal gempa Megathrust.
“Kita harus secara besar-besaran memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa daerah kita memang rawan bencana,” kata Jokowi dalam acara Rakornas BMKG di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (23/7/2019).
BACA: Bukan Hoax, Bagaimana Nasib Tersangka Penyebar Info Gempa Megathrust?
Jokowi berharap masyarakat sadar bahwa mereka tinggal di wilayah yang memang berpotensi terjadi gempa.
Jokowi pun mencontohkan adanya potensi gempa megathrust di wilayah Indonesia. Bagi Jokowi, informasi seperti itu perlu disikapi dengan bijak.
“Seperti kemarin agak ramai potensi megathrust. Sampaikan apa adanya, memang ada potensi kok,” kata Jokowi.
Capture film mega tsunami paling menegangkan
Sementara itu, sejumlah pengusaha di Jakarta juga dikabarkan sudah bersiap-siap memindahkan usahanya dari ibu kota.
Para pengusaha itu telah melirik daerah yang terdekat dari Jakarta sebagai tempat meneruskan usahanya.
Belum diketahui alasan para pengusaha pindah dari Jakarta, apakah untuk menghindari UMK yang besar atau untuk mengantisipasi ancaman tsunami yang disebut-sebut bisa menenggelamkan Jakarta.
Para pengusaha itu pindah ke Bekasi, Bogor dan Depok yang notabene aman dari bencana tsunami.
Dilihat dari besaran UMK, daerah itu tidak jauh berbeda dengan UMK Jakarta. Bahkan, UMK Kota dan Kabupaten Bekasi lebih tinggi dibanding Jakarta.
UMK Kota Bekasi Rp 4.229.756, Kabupaten Bekasi Rp 4.146.126, DKI Jakarta Rp 3.940.973, Kota Depok Rp 3.872.551,72, Kota Bogor Rp 3.842.785 dan Kabupaten Bogor Rp 3.763.405.
(one/pojoksatu)

Categories
0 SR Gempa 9 Gempa Banten Gempa Megathrust Nasional

Berkat Jokowi, Isu Gempa 9,0 SR dan Tsunami 20 Meter Tak Lagi Ditutupi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Potensi gempa 9,0 SR dan tsunami 20 meter merupakan ancaman nyata bagi rakyat Indonesia, khususnya yang tinggal di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Potensi gempa yang sering disebut gempa Megathrust ini tak lagi ditutup-tutupi berkat Presiden Joko Widodo.
Jokowi memerintahkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) buka-bukaan soal gempa.
Jokowi tak bermaksud untuk meresahkan masyarakat. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu ingin agar masyarakat teredukasi soal gempa Megathrust.
“Kita harus secara besar-besaran memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa daerah kita memang rawan bencana,” kata Jokowi dalam acara Rakornas BMKG di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (23/7/2019).
Jokowi berharap masyarakat sadar bahwa mereka tinggal di wilayah yang memang berpotensi terjadi gempa dan bencana lanjutannya.
Jokowi pun mencontohkan adanya potensi gempa megathrust di wilayah Indonesia. Bagi Jokowi, informasi seperti itu perlu disikapi dengan bijak.
“Seperti kemarin agak ramai potensi megathrust. Sampaikan apa adanya, memang ada potensi kok,” kata Jokowi.
Menurut Jokowi, penjelasan BMKG terkait potensi gempa megathrust bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih waspada. Bukan untuk menakut-nakuti.
“Sampaikan dan tindakan apa yang akan kita lakukan. Itu edukasi, memberikan pelajaran kepada masyarakat. Lama-lama kita akan terbiasa,” kata Jokowi.
Apa Itu Gempa Megathrust?
Gempa megathrust berasal dari apa yang disebut zona megathrust, yaitu zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Berdasarkan ciri-cirinya, lempeng bumi dibagi menjadi dua: lempeng samudera dan lempeng benua. Lempeng benua lebih tipis dari lempeng samudera sehingga saat keduanya bertumbukan. Lempeng samudera bisa masuk ke dalam lempeng benua yang bagian atasnya adalah Pulau Jawa. Hal itu akan menyebabkan guncangan yang sangat besar.
Berdasarkan Peta Sumber Gempa Nasional 2017 yang diterbitkan oleh pemerintah melalui Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), zona yang berpotensi memunculkan gempa megathrust di Jawa berada di tiga lokasi, yaitu wilayah perairan Selat Sunda, wilayah selatan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah serta segmen Jawa Timur-Bali.
Zona gempa itu menyimpan potensi gempa besar karena energi dari gesekan dua lempeng itu masih tersimpan.
Kekuatan gempa di zona tersebut mencapai 8,6 hingga 9,0 skala richter dan menyebabkan tsunami.
BMKG mengakui ancaman gempa besar atau megathrust tersebut. Bahkan, BMKG telah melakukan langkah antisipasi dengan simulasi gempa di berbagai wilayah.
“Semua potensi gempa bumi sudah kami simulasikan apabila gempanya di Nias, di Mentawai, Pulau Enggano, semua sudah kami modelkan kira-kira kalau gempa (megathrust) itu terjadi,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, di Kantor BMKG, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (3/8).
Tsunami 20 Meter
Sebelumnya, pakar tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko mengatakan, potensi gempa 8,8 dan tsunami setinggi 20 meter diprakirakan menerjang pesisir pantai selatan Jawa.
Daerah yang berpotensi terkena dampak gelombang tsunami jika terjadi gempa besar di pantai selatan Jawa, terutama di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yaitu dari Cilacap hingga ke Jawa Timur.
“Ada segmen-segmen megathrust di sepanjang (pantai) selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda. Akibatnya, ada potensi gempa megathrust dengan magnitudo 8,5 hingga 8,8,” ucap Widjo dalam konferensi pers di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Rabu, 18 Juli 2019.
(one/pojoksatu)