Categories
balaroa BNPB fenomena Gempa Nasional Palu

1.747 Rumah di Balaroa Palu ‘Ditelan’ Lumpur, BNPB Ungkap Fenomena Menakutkan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Gempa Palu dan Donggala yang disertai tsunami pada Jumat (28/9/2018) lalu telah memporak-porandakan dua wilayah tersebut.
Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Perumnas Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan, setidaknya terdapat 1.747 rumah di wilayah tersebut.
Semuanya, tertimbun lumpur akibat gempa Palu dan Donggala lalu.
BACA:
Bendera Putih Berkibar Dimana-mana, Balaroa Palu jadi Kuburan Massal
45 Pelaku Penjarahan adalah Warga Palu, Kena Pasal Ini
45 Korba Gempa Palu Penjarah Toko Tetap Diproses Hukum, Ini Penjelasan Polri
Lumpur itu sendiri muncul dari bawah permukaan tanah, hingga akhirnya ‘menelan’ segala bentuk bangunan yang ada di atasnya.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, fenomena tanah yang berubah menjadi lumpur dan kehilangan kekuatan disebut likuifaksi.
Efek likuifaksi tersebut seolah-olah membuat perumahan Balaroa terkesan hanyut dan ditelan bumi.
Hal itu disebabkan oleh massa dan volume lumpur yang keluar dalam jumlah besar saat gempa.
BACA:
Sebagian Narapidana di Palu Sudah Menyerahkan Diri, Ini Alasan Mereka Kabur
Gerindra Kecewa dengan Penganggaran BMKG, “Ini Membuat Kami Walk Out Saat Rapat”
Video Detik-detik Tim Basarnas Evakuasi Atlet Paralayang di Hotel Roa-roa Palu
“Perumnas Balaroa terjadi pengangkatan dan penurunan. Perkiraan sementara 1.747 rumah,” kata Sutopo, Selasa (2/10/2018).
Kendati demikian, BNPB belum bisa memastikan berapa jumlah korban jiwa yang ada di Perumnas Balaroa.
Hal ini lantaran alat berat sulit menjangkau kawasan tersebut akibat daerahnya yang didominasi oleh lumpur.