Categories
Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia dahnil anzar simanjutak Nasional

Polisi Janji Periksa Petinggi GP Ansor dan Kemenpora

POJOKSATU.id, JAKARTA – Penyidik Polda Metro Jaya memastikan akan memanggil saksi-saksi dari GP Ansor dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk dimintai keterangan terkait dugaan korupsi acara Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia 2017.
Kedua pihak tersebut telah memenuhi panggilan saat kasus masih tahap penyelidikan. Kini, ketika kasus naik ke tahap penyidikan, GP Ansor dan Kemenpora akan dipanggil lagi guna dimintai keterangan sebagai saksi.
“Nanti akan jelas ketika kita menggali keterangan-keterangan saksi yang lain,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Adi Deriyan, Sabtu (24/11).
Sejauh ini, pihak kepolisian baru memanggil Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak dan perwakilan PP Pemuda Muhammadiyah, Ahmad Fanani yang merupakan ketua pelaksana kegiatan. Keduanya diperiksa sebagai saksi Jumat kemarin (23/11).
Sementara, Kepala Sub Direktorat Tindak Pidana Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, AKBP Bhakti Suhendarwan mengatakan pemanggilan kedua pihak sebagai saksi tersebut akan dilakukan pekan depan.
“Besok, minggu depan kita mau periksa Pejabat Pembuat Komitmen Kemenpora,” kata Bhakti.
Polisi belum membeberkan siapa saja dari Kemenpora maupun GP Ansor yang akan dimintai keterangan.
(lov/rmol/pojoksatu)

Categories
dahnil anzar simanjutak Nasional

Istri Dahnil: Suami Saya Gak Ada Urusan dengan Uang Itu, Harusnya Menpora Bertanggung Jawab

POJOKSATU.id, JAKARTA – Istri Dahnil Anzar Simanjuntak, Heni Novitasari membantah suaminya yang mengembalikan uang Rp2 miliar ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sebelum menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya.
Menurut Heni, uang itu dikembalikan oleh panitia, bukan pribadi Dahnil. Sebab, dana Apel dan Perkemahan Pemuda Islam Indonesia 2017 itu tidak ada sangkut pautnya dengan Dahnil.
Dikatakan Heni, uang senilai Rp 2 miliar tersebut dari awal masuk ke rekening Pemuda Muhammadiyah, bukan ke rekening Dahnil, suaminya.
“Ya, ke rekening Pemuda Muhammadiyah, bukan ke rekening Dahnil Anzar, Ahmad Fanani dll. Saya ulang ya, masuk ke rekening Pemuda Muhammadiyah. Dan dana Rp 2 miliar itu feur digunakan untuk membiayai saat acara tersebut (Perkemahan Pemuda Islam),” ujar Heni, Sabtu (24/11).
Heni heran, hal itu justru menjadi masalah. Seharusnya, kata dia, Menpora Imam Nahrawi yang muncul dan bertanggung jawab atas dikeluarkannya dana tersebut.
“Harusnya Menpora yang muncul dan bertanggung jawab atas dana yang dikeluarkan. Kenapa Pemuda Muhammadiyah yang disoroti. Toh kapasitas Pemuda Muhammadiyah saat itu diajak dan Pemuda Muhammadiyah telah membantu pemerintah untuk meredam isu-isu (anti-Islam) itu,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Heni, uang Rp 2 miliar tersebut telah dikembalikan panitia kepada pihak Kemenpora.
“Ya, oleh panitia, bukan dikembalikan oleh Dahnil Anzar, karena suami saya nggak ada urusan dengan uang itu,” ujarnya.
Dikatakan Heni, Perkemahan Pemuda Islam Indonesia 2017 itu digelar untuk meredam isu-isu yang berkembang saat itu.
Hal itu diketahui Heni lantaran pernah menemani suaminya, Dahnil saat dipanggil Imam Nahrawi membicarakan ikhwal acara tersebut.
“Isu pemerintahan Pak Jokowi anti Islam, kriminalisasi agama, PKI dan sebagainya,” kata Heni, Sabtu (24/11).
Lantas, kata Heni, atas saran dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan kesepakatan anggota Pemuda Muhammadiyah untuk menerima tawaran penyelenggaraan acara tersebut.
“Ditunjuklah Ahmad Fanani sebagai ketua panitia. Dalam acara itu Menpora diberikan dana 2 M dan GP Anshor 3 M,” ujar Heni.
(lov/rmol/pojoksatu)

Categories
dahnil anzar simanjutak gp ansor Nasional

Cerita Dahnil Diundang ke Rumah Imam Nahrawi, Ketum GP Ansor Lebih Dulu Tiba

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menceritakan awal mula diadakannya Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia 2017.
Menurut Dahnil, awalnya dia diundang oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi ke kediamannya pada September 2017.
Saat Dahnil tiba di kediaman Imam Nahrawi, Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas sudah lebih dahulu berada di sana.
Dalam pertemuan tersebut, Imam Nahrawi menyampaikan niatnya untuk menggelar kegiatan bersama natara PP Muhammadiyah dan GP Ansor.
Kegiatan itu dimaksudkan untuk menepis isu yang menyebut Jokowi anti Islam dan kriminalisasi ulama.
Setelah mendengar keinginan Imam Nahrawi menggelar satu kegiatan yang dapat meredakan ketegangan horizontal, Dahnil berjanji akan membicarakan hal itu dengan pengurus PP Muhammadiyah.
Menurut Dahnil, pihaknya baru menyambut ajakan Menpora Imam Harawi itu pada bulan Oktober, atau sebulan setelah Menpora Imam Nahrawi menyampaikan usul tersebut.
Saat membicarakan ajakan Menpora Imam Hanrawi, pengurus PP Muhammadiyah sudah mengingatkan Dahnil agar berhati-hati supaya tidak dikerjai.
“Tapi hati-hati dan waspada. Kami hanya khawatir kalian dikerjai,” ujar pengurus PP Muhammadiyah seperti ditirukan Dahnil dalam keterangannya usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jumat malam (23/11).
PP Muhammadiyah adalah organisasi induk yang membawahi organisasi-organisasi pemuda otonom dengan bendera Muhammadiyah, termasuk Pemuda Muhammadiyah.
“Pada prinsipinya mengapa kami setuju dengan ajakan Menpora adalah membantu pemerintah, menjawab tuduhan pada Pak Jokowi anti Islam, juga atas isu kriminalisasi ulama,” imbuh Dahnil.
Dahnil mengaku telah mengembalikan uang Rp2 miliar itu ke Kemenpora. Semua dana kegiatan dari Kemenpora telah dikembalikan.
Dahnil menyebut bukan hanya PP Muhammadiyah yang menerima dana kegiatan Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia 2017. GP Ansor justru menerima dana lebih besar. GP Ansor menerima dana Rp3,5 miliar.
“Pemuda Muhammadiyah diberikan fasilitasi untuk memobilisasi peserta sekitar Rp 2 miliar. Nah sedangkan GP Ansor Rp 3,5 miliar,” ujar Dahnil.
(rus/rmol/pojoksatu)

Categories
dahnil anzar simanjutak Nasional

Dahnil Diperiksa, Ketua GP Ansor Tak Tersentuh, Penyidik: Suka-Suka Kami

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Ahmad Fanani menyebut ada beberapa kejanggalan terkait penanganan kasus Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia 2017.
Fanani merasa pengurus Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah diperlakukan tidak adil. “Kasus ini seperti dikejar-kejar,” kata Fanani, Sabtu (24/11).
Kasus yang ditangani Ditreskrimsus Polda Metro Jaya ini baru dibuka pekan lalu. Pada hari Senin (19/11), sudah ada pemanggilan terhadap tiga saksi.
Mereka adalah Abdul Latif dari Kemenpora, Safarudin selaku ketua kegiatan dari GP Ansor, dan Ahmad Fanani selaku ketua kegiatan dari Pemuda Muhammadiyah. Fanani sendiri tidak memenuhi panggilan.
Fanani mengaku sudah meminta kepada penyidik agar pemeriksaannya ditangguhkan karena sedang persiapan Muktamar XVII Pemuda Muhammadiyah pada 25-28 November 2018 di Yogyakarta.
Fanani yang juga salah satu calon ketua umum di Muktamar PP Muhammadiyah nanti meminta agar pemeriksaannya dilakukan sesudah gelaran Muktamar.
Seolah tidak memperdulikan permintaan tersebut, penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya kembali memanggil Fanani pada hari Rabu (21/11). Fanani kembali meminta penjadwalan ulang.
Penyidik tidak mau kalah, mereka kembali melayangkan surat panggilan pada hari Jumat (23/11). Bersama Fanani, juga dipanggil Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak.
BACA: Ini Alasan Dahnil Kembalikan Dana Rp2 Miliar, GP Ansor Kebagian Rp3,5 Miliar
Anehnya, Ketua GP Ansor tidak dipanggil. Padahal, GP Ansor menerima dana lebih besar dariketimbang PP Muhammadiyah. GP Ansor menerima Rp3,5 miliar dari Kemenpora, sedangkan Muhammadiyah hanya menerima Rp2 miliar.
Saat datang ke Polda Metro Jaya, Dahnil dan Fanani didampingi tim kuasa hukum. Dahnil dan Fanani memenuhi panggilan penyidik sebelum salat Jumat.
Dijelaskan Fanani, pemanggilan pada hari Rabu, dia sudah mendapat pesan pendek (SMS) bernada ancaman, bahwa kasus sudah naik dari penyelidikan ke penyidikan. Dia tidak menjelaskan detail SMS tersebut.
Dan saat proses pemeriksaan kemarin, Fanani sempat menanyakan kepada salah satu penyidik, kenapa pemanggilan terhadap mereka maraton, tidak sama seperti yang dilakukan kepada inisiator dan penyelenggara kegiatan.
Mendapat pertanyaan itu, sang penyidik malah menjawab enteng. “Suka-suka kami,” ujar Fanani menirukan omongan penyidik. Jawaban penyidik tersebut juga didengar tim pengacara.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku telah mengembalikan uang Rp2 miliar ke Kemenpora. Semua dana kegiatan dari Kemenpora telah dikembalikan.
Dahnil menyebut bukan hanya PP Muhammadiyah yang menerima dana kegiatan Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia 2017. GP Ansor justru menerima dana lebih besar. GP Ansor menerima dana Rp3,5 miliar.
Dahnil Anzar mengatakan, kegiatan bersama Pemuda Muhammadiyah dan GP Ansor diinisiasi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi.
“Pemuda Muhammadiyah diberikan fasilitasi untuk memobilisasi peserta sekitar Rp 2 miliar. Nah sedangkan GP Ansor Rp 3,5 miliar,” ujar Dahnil,
(rus/rmol/pojoksatu)

Categories
dahnil anzar simanjutak gp ansor Muhammadiyah Nasional

Ini Alasan Dahnil Kembalikan Dana Rp2 Miliar, GP Ansor Kebagian Rp3,5 Miliar

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku telah mengembalikan uang Rp2 miliar ke Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Namun Dahnil menyebut bukan hanya PP Muhammadiyah yang menerima dana kegiatan Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia 2017. GP Ansor justru menerima dana lebih besar. GP Ansor menerima dana Rp3,5 miliar.
Dahnil Anzar mengatakan, kegiatan bersama Pemuda Muhammadiyah dan GP Ansor diinisiasi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi.
“Pemuda Muhammadiyah diberikan fasilitasi untuk memobilisasi peserta sekitar Rp 2 miliar. Nah sedangkan GP Ansor Rp 3,5 miliar,” ujar Dahnil, Sabtu (24/11).
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Ahmad Fanani mengatakan, ada dua alasan PP Muhammadiyah mengembalikan duit Rp 2 miliar kepada Kemenpora.
Alasan pertama, soal harga diri. Pemuda Muhammadiyah sangat lantang menyuarakan pemberantasan korupsi, misalnya dengan mendirikan Madrasah Antikorupsi.
Namun sekarang, Pemuda Muhammadiyah diframing seolah-olah melakukan tindak pidana korupsi.
“Tuduhan ini terang mendelegitimasi apa yang kami suarakan,” terang Ahmad Fanani yang saat itu menjadi ketua panitia dari Pemuda Muhammadiyah, Sabtu (24/11).
Menurutnya. Muhammadiyah sudah terbiasa mandiri. Apalagi pada acara Apel dan Kemah Pemuda Islam Indonesia 2017 yang kini dipermasalahkan, Pemuda Muhammadiyah bukan pada posisi meminta-minta atau mengejar-ngejar.
“Bahkan kami yang dikejar-kejar, sampai pengajuan (kegiatan) ditagih pihak Kemenpora. Sekarang dituduh penggelapan, ini kan harga diri, makanya kami kembalikan uang itu,” tutur Ahmad Fanani.
Alasan kedua, ada ketidaksesuaian antara poin-poin yang disepakati dalam kontrak kerjasama dengan realisasi kegiatan.
Misalnya, kegiatan yang diajukan Pemuda Muhammadiyah adalah Pengajian Akbar dan digelar di beberapa titik, tapi faktanya apel dan hanya dipusatkan di satu titik yaitu Prambanan, Sleman.
Selanjutnya, Pemuda Muhammadiyah juga meminta agar organisasi kepemudaan Islam yang lain juga diajak, tapi tidak teralisasi. Soal tanggal kegiatan juga di luar kesepatan, dari tanggal 10 Desember menjadi 16 Desember 2017.
“Pada waktu itu kami tidak curiga, karena niat kami ingin membantu pemerintah terkait kekhawatiran dengan potensi konflik horizontal yang semakin meluas, isu anti-Pancasila dan isu antitoleransi. Kalau memang kami mau dikerjain, makanya kami balikkan (uangnya),” sebut Ahmad Fanani.
“Jadi, kami ikuti pasal 9 dalam perjanjian (kontrak) tentang kewajiban dan sanksi. Apabila kami tidak merealisasikan kegiatan yang dimaksud maka perjanjian ini batal demi hukum. Maka kami harus mengembalikan seluruh dana bantuan. Ini sebagai komitmen kami ya kami kembalikan,” tambahnya.
Di awal, masih kata Ahmad Fanani, pihaknya juga sudah berusaha agar bantuan Kemenpora berupa program bukan uang cash, tapi itu tidak terwujud.
Akhirnya Muhammadiyah menerima uang tersebut sebagai mobilisasi. Mereka juga tidak terlibat dalam penyelenggaraan yang semuanya ditangani GP Ansor.
Adapun sumber pengembalian dana Rp 2 miliar ke Kemenpora pada Jumat kemarin berasal dari dana internal Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
GP Ansor: Dana Kita Gunakan Sesuai Prosedur
Panitia Kemah Pemuda Islam dari GP Ansor, Safaruddin membenarkan bahwa GP Ansor kebagian dana dari Kemenpora Rp3,5 miliar. Namun penggunaan dana itu sudah sesuai prosedur.
“Ya betul (ada dana Rp 3,5 miliar), dan kita sudah sesuai prosedur. Secara prosedur kita ikuti, sesuai aturan. Dari awal sampai akhir, secara teknis GP Ansor telah terpenuhi, begitu,” kata Safaruddin, seperti dilansir detikcom, Sabtu (24/11/2018).
Safaruddin merupakan panitia kemah pemuda yang mewakili GP Ansor memenuhi panggilan Polda Metro Jaya pada Senin (19/11) lalu. Safaruddin menyebut diperiksa polisi sejak pukul 10.00 WIB hingga tengah hari.
“Kita jelaskan teknis pelaksanaan seperti apa. Secara administrasi seperti apa, dua hal itu, yang penting kita dari GP Ansor secara prosedural memenuhi, secara teknis dari pelaksanaan kegiatan kita jalankan, sehingga clear tidak ada masalah,” tutur Safaruddin.
Mengenai rincian peruntukkan Rp 3,5 miliar yang diterima GP Ansor, Safaruddin menyebut keterangan itu sudah menjadi domain polisi.
“Kalau itu kan di penyidik sudah kita sampaikan, kaitan sama isi penyelidikan, mungkin bisa konfirmasi ke sana. Tapi kita clear, dari polisi dari audit, kan ada audit BPK segala macam, dari Kemenpora juga ada fungsi pendampingan, selama ini kita tidak ada masalah,” terangnya.
(rus/rmol/pojoksatu)

Categories
dahnil anzar simanjutak Nasional

Usai Digarap Polisi, Dahnil Kembalikan Uang Rp 2 Miliar ke Kemenpora, Ini Rinciannya

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kepala Sub Direktorat Tindak Pidana Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya AKBP Bhakti Suhendarwan menyebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengembalikan uang sejumlah Rp 2 miliar terkait kasus dugaan penyelewengan dana acara kemah dan apel Pemuda Islam Indonesia.
Uang itu dikembalikan ke Kementerian Pemuda dan Olahraga. Hal ini diakui Dahnil saat diperiksa sebagai saksi dalam kasus itu hari ini.
“Dahnil mengembalikan Rp 2 miliar ke Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga). Hari ini mengembalikan Rp 2 miliar,” kata dia saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (23/11).
Anggaran dalam acara kemah sejatinya Rp 5 miliar kemudian dana itu diberikan oleh Kemenpora pada PP Pemuda Muhammadiyah dan GP Anshor.
Keduanya sama-sama mengajukan proposal untuk acara itu pada Kemenpora.
“Untuk kegiatan itu nilai anggaran lima miliar, dibagi jadi dua proposal,” ujarnya lagi.
(fir/pojoksatu)

Categories
dahnil anzar simanjutak Nasional

Kasus Dahnil Anzar Ditingkatkan ke Penyidikan, Bakal Jadi Tersangka?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Penyidik Polda Metro Jaya akhirnya menaikkan kasus dugaan penyimpangan anggaran kegiatan kemah dan apel Pemuda Islam Indonesia (PII) ke tahap penyidikan.
Kasus tersebut menyeret nama Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak yang saat ini menjadi Koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga Uno.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Adi Deriyan mengatakan, penyidik menaikkan kasusDahnil Anzar lantaran adanya dugaan tindak pidana.
“Kemarin ya kita naikkan menjadi penyidikan. Alasan kita temukan dugaan tindak pidana dalam kasus tersebut,” kata Adi Dery di Jakarta, Kamis (22/11).
Sebelumnya, Kasubdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Bhakti Suhendarwan mengatakan, pihaknya akan menjadwalkan pemanggilan Dahnil Anzar Simanjuntak pada Jumat besok.
Selain Dahnil, ketua panitia apel Pemuda Islam Indonesia (PII) Ahmad Fanani juga dijadwalkan untuk dipriksa.
“Besok kita panggil sekitar jam 10.00 pagi. Keduanya masih saksi juga ya,” kata Bhakti.
(fir/pojoksatu)

Categories
dahnil anzar simanjutak Nasional

Timses Prabowo Dahnil Anzar Digarap Polisi, Kasusnya Dugaan Penyimpangan Anggaran

POJOKSATU.id, JAKARTA – Polda Metro Jaya memanggil Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak.
Koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga itu akan diperiksa pada Jum’at (23/11) besok.
Kasubdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Bhakti Suhendarwan mengatakan, pemanggilan Dahnil kali ini, terkait kasus dugaan penyimpangan anggaran kegiatan kemah dan apel Pemuda Islam Indonesia (PII) yang digelar Kemenpora RI Desember lalu.
“Besok kita panggil sekitar jam 10.00 pagi,” kata Bhakti saat dikonfirmasi, Kamis (22/11).
Menurut Bhakti, Dahnil dipanggil sebagai saksi. Selain Dahnil, penyidik juga akan memanggil ulang Ketua Panitia PII. Mengingat, ketiga saksi juga sudah dilakukan pemeriksaan.
Ketiganya yakni Ketua Panitia PII, Ahmad Fanani, kemudian Abdul Latif dari Kemenpora, dan Safarudin selaku ketua kegiatan dari GP Ansor.
“Ahmad Fanani sebagi ketua panitia kita juga akan panggil. Keduanya masih saksi juga ya,” tandasnya.
Untuk diketahui, kegiatan kemah dan apel Pemuda Islam Indonesia digelar dengan menggunakan dana APBN Kemenpora RI di Pelataran Candi Prambanan, Jawa Tengah pada 16-17 Desember 2017 lalu. Dari kegiatan itu, ada dugaan penyelewengan anggaran.
Atas dasar itu, Polda Metro Jaya berkoordinasi dengan Kemenpora untuk mengumpulkan sejumlah barang bukti terkait dugaan penyelewengan anggaran dalam tersebut.
(fir/pojoksatu)

Categories
dahnil anzar simanjutak minta maaf Nasional pidato prabowo tampang boyolalii

Video Prabowo Minta Maaf ‘Tampang Boyolali’ tapi Tetap Pakai Banyak Embel-embel

POJOKSATU.id, JAKARTA – Prabowo Subianto akhirnya meminta maaf terkait pidato ‘tampang Boyolali’ yang dianggap melecehkan warga Boyolali.
Akan tetapi, permintaan maaf itu masih disertai dengan berbagai argumentasi dan penjelasan.
Video permintaan maaf itu diunggah melalui akun media sosial Koordinator Jurubicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Dahnil Anzar Simanjuntak, Selasa (6/11/2018).
BACA:
Djoko Santoso Tegaskan Prabowo Gak Pernah Janji Stop Impor, Siapa Pembohong?
Janji Prabowo Gak Akan Impor Dibalas JK Menohok: Gak Ada Negara Ekspor Melulu
Dari Sini Ternyata Prabowo Dapat Istilah Tampang Boyolali, “Cuma Seloroh Dua Menit”
Dalam vlog tersebut, Dahnil mengawalinya dengan pertanyaan.
“Lagi rame nih pak. Katanya pak Prabowo dituduh menghina orang Boyolali karena menyebut tampang Boyolali. Padahal bapak kan tampang Bojongkoneng. Gimana pak?” tanya Dahnil.
Pertanyaan itu langsung dijawab Prabowo yang menganggap bahwa tuduhan dirinya sengaja menghina itu adalah berlebihan.
BACA:
Soal Tampang Boyolali, Prabowo Siap Diajak Dialog, “Kalo Gak Boleh Melucu, Tidur Semua Nanti”
Prabowo Minta Maaf, Tegaskan Tampang Boyolali Cuma Empati, “Kalau di Brebes Ya Tampang Brebes”
50 Persen Warga Jabar Belum Tentukan Pilihan Capres, Tapi Ogah Didekati Parpol, Kecuali…
“Saya kira itu mungkin berlebihan ya. Saya tidak ada niat sama sekali,” katanya.
Menurutnya, apa yang ia sampaikan dalam pidato itu menggunakan bahasa-bahasa yang familiar.
“Itu kan cara saya kalau bicara familiar, mungkin bahasanya sebagai seorang teman,” lanjutnya.

Part 1. Pesan Pak @prabowo terkait pidato beliau di Boyolali. pic.twitter.com/dIKaYnCKlF
— Dahnil A Simanjuntak (@Dahnilanzar) November 6, 2018

Categories
dahnil anzar simanjutak Nasional Pilpres 2019 Prabowo Subianto

Prabowo Minta Maaf, Tegaskan Tampang Boyolali Cuma Empati, “Kalau di Brebes Ya Tampang Brebes”

POJOKSATU.id, JAKARTA – Potongan video calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto tentang “tampang Boyolali” menuai kecaman dari berbagai pihak, khususnya dari pendukung pasangan capres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin.
Terkait hal itu, Prabowo mengatakan ucapannya tersebut justru merupakan bentuk empati kepada masyarakat Boyolali.
“Justru empati. Jadi, kalau saya bicara tampang di Boyolali, tampang Boyolali, di Brebes tampang Brebes. Itu selorohnya dalam arti empati saya, solidaritas saya dengan orang,” ujar Prabowo dalam video di akun Twitter yang diunggah Jurubicara Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, @Dahnilanzar, Selasa (6/11).
Prabowo mengatakan, mengetahui kondisi yang dialami masyarakat. Yang jadi masalah, menurutnya, adalah ketidakadilan, kesenjangan, ketimpangan di Indonesia yang semakin lebar, makin tidak adil.
“Yang menikmati kekayaan Indonesia kan hanya segelintir orang saja. Jadi maksud saya itu,” kata Prabowo.
Di awal video, Dahnil menyebut Prabowo lebih cocok disebut sebagai orang yang denngan “tampang Bojong Koneng”. Bojong Koneng sendiri merupakan daerah tempat tinggal Prabowo, di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
“Tapi maksud saya tidak negatif, tapi kalau ada kalau ada yang tersinggung saya minta maaf, maksud saya tidak seperti itu,” ungkap Prabowo.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 
Sobat apa kata Pak Prabowo tentang Pidato yang dipotong dan dipolitisasi oleh pihak-pihak tertentu seolah Pak Prabowo menghina orang Boyolali. Ini dia…pernyataan beliau. Oh ya, Pak @prabowo mengaku tampang Bojong Koneng-Hambalang, Bogor lho brooooooo…..politik itu bawa asyik jangan baperan ya sob.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Dahnil Anzar Simanjuntak (@dahnil_anzar_simanjuntak) pada 6 Nov 2018 jam 5:54 PST

(lov/rmol/pojoksatu)