Categories
bupati cirebon Nasional PDIP

KPK Garap PDIP Diduga Kecipratan Duit Korupsi Bupati Cirebon, Dana Ngalir ke Acara Ini

POJOkSATU.id, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa mantan presenter yang juga politisi PDI Perjuangan Nico Siahaan.
Terkait posisinya sebagai ketua Panitia Sumpah Pemuda Satu Indonesia Kita PDIP 2018.
Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, terdapat dugaan aliran dana dalam acara tersebut dari tersangka suap mutasi jabatan di Kabupaten Cirebon yakni Bupati Cirebon non aktif Sunjaya Purwadi Satra.
“Diduga uang tersebut diberikan tersangka SUN (Sunjaya Purwadi Satra),” kata Febri kepada wartawan, Jumat (30/11).
Dia menjelaskan, KPK telah menerima pengembalian dana sebesar Rp 250 juta yang diakui sebagai sumbangan untuk kegiatan peringatan sumpah pemuda PDIP 2018.
“Sehingga pengembalian tersebut dibuatkan berita acara dan menjadi bagian dari berkas perkara ini,” ujar Febri.
Untuk itu, KPK mengimbau pihak-pihak yang terkait dengan penyelenggaraan peringatan sumpah pemuda PDIP 2018 untuk mengembalikan dana yang diduga diberikan oleh Bupati Sunjaya.
Bupati Sunjaya sendiri telah diberhentikan dari keanggotaan partai banteng setelah terjaring operasi tangkap tangan KPK pada 24 Oktober lalu.
(wah/rmol/pojoksatu)

Categories
bupati cirebon bupati cirebon ditangkap Nasional

KPK Sikat Terus Keluarga Bupati Cirebon, Rumah Anak Tertua Digeledah, Ini Foto-foto dan Videonya

POJOKJABAR.com, CIREBON – Setelah KPK menggeledah ruang kerja Bupati Cirebon, kini lembaga anti rasuah tersebut obok-obok rumah anak tertuanya bernama Satria Robi Saputra di Kinaya Regency, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.
KPK datang ke rumah tersebut sekitar 16.00 WIB tadi dengan mengendarai dua unit mobil dengan nopol H 8597 SE dan E 1178 LH.
Penggeledahan tersebut, tampak dijaga ketat oleh pihak keamanan, yang dilengkapi dengan senjata laras panjang.
Sebelumnya, KPK telah menggeledah rumah dinas Bupati Cirebon, Sunjaya Purwadisastra, di Jalan Kartini Kota Cirebon nomor 1 sekitar pukul 10.30 WIB.
Berikut foto-foto dan videonya:

(alw/pojokjabar)

Categories
bupati cirebon kasus korupsi KPK Nasional

Rumdin dan Rumah Pribadi Sekda Ikut Digeledah KPK

POJOKSATU.id, CIREBON – KPK tetapkan Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra dan Sekdis PUPR Kabupaten Cirebon Gatot Rachmanto sebagai tersangka suap jual beli jabatan dan setoran pengusaha.
Perkembangan pengeledahan secara maraton dilakukan. Rumah mantan ajudan Bupati Cirebon Deni Syafrudin digeledah Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan didapatkan aset-aset serfitikat.
Usai rumah ajudan Bupati Cirebon, KPK berlanjut menuju rumah dinas Daerah (Sekda) Cirebon.
KPK bergerak menggeledah rumah dinas yang ada di Jalan Fatahillah, Kelurahan Perbutulan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Sabtu (27/10/2018).
Informasi yang berhasil dihimpun pojokjabar.com di lapangan, dari rumah dinas Sekda, tim KPK berhasil membawa 2 tas koper berisi berkas-berkas penting.
Usai menggeledah rumah dinas Sekda, sekitar pukul 13.00 WIB tim KPK tiba di kediaman pribadi Sekda di Jalan Soka, Gang Cempaka, Nomor 10 RT 01 RW 03, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.
Tim KPK yang berjumlah 6 orang langsung memasuki kediaman pribadi Sekda Rahmat Sutrisno dan dijaga ketat oleh aparat kepolisian.
(Kir/pojokjabar/pojoksatu)

Categories
bupati cirebon kasus korupsi KPK Nasional

Rumah Ajudan Bupati Cirebon di Geledah

POJOKSATU.id, CIREBON – Tim KPK bergerak kembali dengan menggeledah kediaman Deni Syafrudin ajudan Bupati Cirebon, Sabtu (27/10/2018).
Rumah tersebut berlokasi di Perumahan Kedawung Regency 3, Jalan Sultan Ageng Tirtayasa, Kedawung, Kabupaten Cirebon.
KPK tiba di rumah ajudan Bupati Cirebon Deni sekitar pukul 10.45 WIB dengan menggunakan 3 unit mobil dan dikawal ketat aparat kepolisian.
Dari pantauan Pojokjabar.com di lokasi kediaman Deni, kurang lebih sudah 2 jam lamanya tim KPK menggeledah ruangan kamar di dalam rumah tersebut.

Namun belum diketahui apa yang dihasilkan dan petugas juga belum terlihat membawa berkas satupun ke dalam kendaraan.
Diketahui sebelimnya, KPK telah menggeledah dua tempat yakni ruangan kerja Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra dan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) kemarin.
(Kir/pojokjabar/pojoksatu)

Categories
bupati cirebon bupati cirebon ditangkap Nasional

Bupati Cirebon Diseret KPK, Pendopo Ditinggalkan Keluarga Besar, Cuma Ini yang Tersisa

POJOKJABAR.com, CIREBON – Pasca Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  keluarga besar Bupati yang biasanya tinggal di rumah jabatan Pendopo Bupati kini tidak terlihat lagi menempati pendopo.
Dari pantauan Pojokjabar.com, pintu gerbang pendopo di jaga ketat oleh pihak keamanan, dan selalu terkunci, dan tidak terlihat ada kendaraan roda empat yang terpakir di depan teras pendopo. Biasanya, saat Sunjaya masih aktif sebagai Bupati, teras pendopo selalu dipenuhi kendaraan roda empat.
Selain itu, menurut pengakuan petugas Satpol PP yang berjaga di pos terdepan, kondisi pendopo sudah sepi, karena keluarga besar Bupati, seperti istri dan anak – anaknya sudah pergi meninggal kan pendopo semenjak Sunjaya di bawa ke Jakarta oleh KPK. Hanya yang tersisa petugas kebersihan dan pengamanan saja yang berada di dalam pendopo.
“Saya tidak tahu kemana, di sini hanya keamanan saja dan petugas kebersihan,” tuturnya
Petugas Satpol PP yang tidak mau disebutkan namanya tersebut menambahkan, keluarga besar Sunjaya sudah pergi meninggalkan pendopo sejak kemarin. Saat pergi, keluarga Bupati tidak mengatakan apa – apa kepada petugas jaga, membuka kaca mobil pun tidak. Sehingga petugas tidak mengetahui tujuan keluarga Bupati saat meninggalkan pendopo.
“Mereka gak ngomong apa-apa, buka kaca mobil saja tidak, kami hanya membukaan pintu gerbang saja,” pungkasnya.
Semenjak Sunjaya dibawa oleh KPK, Istri Bupati Cirebon Wahyu Ciptaningsih, tidak terlihat batang hidungnya. Bahkan wanita yang juga menjabat Ketua KONI Kabupaten Cirebon, sudah tidak terlihat lagi di tempat tugasnya
(kir/pojokjabar)

Categories
bupati cirebon kasus korupsi kasus suap KPK kronologis Nasional tersanka

KPK Beberkan Kronologis Detik-detik Penangkapan Bupati Cirebon, Seperti FIlm

POJOKSATU.id, JAKARTA – Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Demikian disampaikan Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta, Kamis (25/10/2018) malam.
Kader PDIP yang langsung dipecat itu terjaring OTT terkait kasus dugaan suap dugaan jual beli jabatan, proyek dan perizinan di Kabupaten Cirebon.
BACA:
Resmi Tersangka, KPK Beberkan Kasus Bupati Cirebon, Ternyata Dobel
Pergoki Bupati Cirebon dan Janda Eli di Hotel, Rakhmat Langsung Dimutasi
PNS Cirebon Syukuran Bupatinya Ditangkap KPK, Tebar Uang dari Atas Gedung
“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan menetapkan dua orang sebagai tersangka,” ungkap Alex.
Selain Sunjaya, KPK juga menetapkan Seketaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Cirebon, Gatot Rachmanto sebagai tersangka.
Gatot diduga berperan sebagai pemberi suap terkait mutasi jabatan di lingkungan Pemkab Cirebon.
Alex menjelaskan, operasi senyap itu berawal dari adanya laporan masyarakat.
BACA:
Perjalanan Hidup Sunjaya Purwadi, Bupati Cirebon yang Ditangkap KPK
Hasto Kristiyanto Pastikan Bupati Cirebon Dipecat dari PDIP
Kena OTT KPK, Partainya Jokowi Pastikan Bupati Cirebon Bernasib Tambah Apes
Ini Daftar 8 Kepala Daerah Kader PDIP Ketangkap KPK Sepanjang 2018
Yakni adanya dugaan akan terjadinya transaksi suap jual-beli jabatan dan gratifikasi kepada Sunjaya.
Informasi itu kemudian dilanjutkan tim penyidik yang langsung menuju ke kediaman ajudan Sunjaya, DS.
Di sana, petugas mengamankan uang tunai total Rp116 juta dalam pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu.

Categories
bupati cirebon kasus korupsi kasus suap KPK Nasional OTT KPK tersangka

Resmi Tersangka, KPK Beberkan Kasus Bupati Cirebon, Ternyata Dobel

POJOKSATU.id, JAKARTA – Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
Demikian disampaikan Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta, Kamis (25/10/2018) malam.
Kader PDIP yang langsung dipecat itu ditangkap terkait kasus dugaan suap dugaan jual beli jabatan, proyek dan perizinan di Kabupaten Cirebon.
BACA:
Pergoki Bupati Cirebon dan Janda Eli di Hotel, Rakhmat Langsung Dimutasi
PNS Cirebon Syukuran Bupatinya Ditangkap KPK, Tebar Uang dari Atas Gedung
Perjalanan Hidup Sunjaya Purwadi, Bupati Cirebon yang Ditangkap KPK
Pergoki Bupati Cirebon dan Janda Eli di Hotel, Rakhmat Langsung Dimutasi
“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dengan menetapkan dua orang sebagai tersangka,” ungkap Alex.
Wakil Ketua KPK Alexander Marwata bersama penyidik menunjukkan barang bukti kasus suap Bupati Cirebon
Selain Sunjaya, KPK juga menetapkan Seketaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Cirebon, Gatot Rachmanto sebagai tersangka.
Gatot diduga berperan sebagai pemberi suap terkait mutasi jabatan di lingkungan Pemkab Cirebon.
BACA:
Hasto Kristiyanto Pastikan Bupati Cirebon Dipecat dari PDIP
Kena OTT KPK, Partainya Jokowi Pastikan Bupati Cirebon Bernasib Tambah Apes
Ini Daftar 8 Kepala Daerah Kader PDIP Ketangkap KPK Sepanjang 2018
Alex menambahkan, Sunjaya diduga menerima hadiah atau janji terkait mutasi, rotasi dan promosi jabatan.
Juga, terkait proyek dan perizinan Pemkab Cirebon. Dalam kasus tersebut, Sunjaya diduga menerima fee sebesar Rp6,4 Miliar.
“Diduga pemberian oleh GAR (Gatot Rachmanto) kepada SUN melalui ajudan Bupati sebesar Rp100 juta,”

Categories
bupati cirebon bupati cirebon ditangkap Nasional

Pergoki Bupati Cirebon dan Janda Eli di Hotel, Rakhmat Langsung Dimutasi

POJOKSATU.id, CIREBON – PNS Cirebon, Rakhmat Hidayat mengaku pernah menjadi korban mutasi Bupati Cirebon, Sunjaya Purwadi Sastra.
Rakhmat mengatakan, dia dimutasi ke Puskesmas Kalimaro Kecamatan Gebang karena memergoki Bupati Cirebon dan janda Eli di salah satu hotel.
Meskipun dimutasi ke daerah yang sangat jauh, Rahmat tetap menjalankan tugas barunya di Puskesmas Kalimaro.
Rakhmat terpaksa mengeluarkan ongkos sebesar Rp 100 ribu per hari lantaran Puskesmas Kalimaro sangat jauh dari tempat tinggalnya.
“Saya tidak pernah takut dengan bupati, saya dipindahkan dari RS Arjawinangun ke puskesmas karena saya melawan bupati yang menerima suap,” tuturnya kepada Pojokjabar.com, Kamis (25/10/2018).
BACA: PNS Cirebon Syukuran Bupatinya Ditangkap KPK, Tebar Uang dari Atas Gedung
Rakhmat mengajak PNS yang lain untuk berani keluar untuk menyuarakan nasibnya yang dulu menjadi korban mutasi Bupati Sunjaya.
Saat ini, Sunjaya telah tumbang karena sikap arogannya terhadap PNS di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Cirebon.
“Saya jadi simbol ASN yang melawan sikap arogan Bupati Cirebon, dan mengajak ASN lain untuk berani menyuarakan ketidakadilan selama ini,” tandasnya.
Rakhmat dan sejumlah warga sujud syukur atas ditangkapnya Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
BACA: Kena OTT KPK, Partainya Jokowi Pastikan Bupati Cirebon Bernasib Tambah Apes 
Rakhmat bersama para pegiat anti korupsi yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Peduli Anti Korupsi (KOMPAK) sujud syukur di depan kantor Bupati Cirebon. Mereka bersyuku Bupati  Cirebon ditangkap KPK.
Rakhmat membeberkan kasus-kasus suap yang selama ini digeluti Sunjaya. Salah satunya kasus suap untuk menjadi Kepala Puskesmas (Kapus) harus membayar Rp 100 juta.
“Sunjaya memindahkan saya ke puskesmas paling timur dan paling jauh dari wilayah RS Arjawinangun karena alasan saya berusaha membongkar sindikat korupsinya dengan membuat video. Waktu itu terkait suap dan kasus janda Eli di Hotel Prima,” beber Rakhmat.
(dat/one/pojoksatu)

Categories
bupati cirebon bupati cirebon ditangkap Nasional pns cirebon

PNS Cirebon Syukuran Bupatinya Ditangkap KPK, Tebar Uang dari Atas Gedung

POJOKSATU.id, CIREBON – Seorang PNS Cirebon bernama Rakhmat Hidayat menunaikan nazarnya setelah Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra, ditangkap KPK.
PNS yang bertugas di Puskesmas Kalimaro Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon Jawa Barat itu mewujudkan nazarnya dengan cara menebar uang dari atas gedung. Dalam video yang beredar, Rakhmat berdiri di atas gedung.
Rakhmat tampak membawa uang koin di sebuah wadah. Sementara di bawah tanah, tampak belasan orang menunggu Rakhmat bagi-bagi duit.
Sebelum membagikan uang, Rakhmat yang mengenakan baju batik mengatakan, dia menyawer warga di Puskesmas Kalimaro untuk melunasi nazar.
“Janji saya, nazar, kalau Sunjaya ditangkap KPK, saya akan sawer di Puskesmas Kalimaro,” ucap Rakhmat.
BACA: KPK Masuk Saat PNS Hendak Pulang, Bupati Cirebon Pasrah, Begini Kronologisnya
Ia kemudian melemparkan uang koin dari atas gedung. Belasan emak-emak, pria dan wanita berebutan memungut uang yang dibuang Rakhmat.
Rakhmat diketahui tergabung dalam Komunitas Masyarakat Peduli Anti Korupsi (KOMPAK). Selain sawer dengan koin, dia juga melakukan sujud syukur di depan Kantor Bupati Cirebon, Kamis (25/10/2018).
Rakhmat memuji langkah kongkret KPK yang menangkap Bupati Cirebon pada Rabu (24/10) kemarin.
Rakhmat menegaskan, pihaknya tidak akan takut untuk memerangi dan melawan para antek korupsi.
Bersama Kompak, Rakhmat mengajak semua PNS untuk menyatukan barisan dalam memberantas korupsi di lingkungan pemerintahan, khususnya di Kabupaten Cirebon.
“PNS di Kabupaten Cirebon tidak usah takut. Saya yang selaku mencetus pembuka kasus korupsi PKRS di RS Arjawinangun, sampai sekarang saya masih hidup dan tetap menjadi PNS walaupun dengan tegas saya berani dan melawan pemerintah yang korup,” tegasnya.
BACA: Kena OTT KPK, Partainya Jokowi Pastikan Bupati Cirebon Bernasib Tambah Apes 
Rakhmat membeberkan kasus-kasus suap yang selama ini digeluti Sunjaya, salah satunya kasus suap untuk menjadi Kepala Puskesmas (Kapus) harus membayar Rp100 juta.
“Sunjaya memindahkan saya ke Puskesmas paling timur dan paling jauh dari wilayah RS Arjawinangun karena alasan saya berusaha membongkar sindikat korupsinya dengan membuat video, waktu itu terkait suap dan kasus janda Elly di Hotel Prima,” bebernya.
Berikut video PNS Cirebon Rakhmat Hidayat tebar uang dari atas gedung:

(one/pojoksatu)

Categories
bupati cirebon bupati cirebon ditangkap Nasional

Perjalanan Hidup Sunjaya Purwadi, Bupati Cirebon yang Ditangkap KPK

POJOKSATU.id, CIREBON – Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Sunjaya adalah bupati Cirebon periode 2014-2019. Bersama H Tasiya Soemadi atau yang akrab biasa “Gotas”, ia terpilih melalui pilkada dua putaran.
Sunjaya juga seorang purnawirawan TNI AU. Ia lahir pada 1 Juni 1965 (53 tahun) di Beberan, Palimanan, Cirebon merupakan politikus PDIP.
Ayahnya H Sobana bin Tarkasih, keturunan Trusmi, Plered, Cirebon, seorang Kepala Desa Beberan yang dikenal dan disegani dari unsur TNI AU.
Ibunya Hj Sumaeni binti Kaban Purwadi Sastra putra seorang Kepala Sekolah yang juga Kepala Desa Slendra, Gegesik, Cirebon.
Dilansir Wikipedia, Sunjaya adalah anak ke tujuh dari sembilan bersaudara. Akibat konflik politik di era 1965, Hj. Sumaeni sebagai istri Kepala Desa sangat disibukan dengan kegiatan-kegiatan organisasi untuk mendukung kegiatan suaminya Pak Kuwu Sobana.
Maka pada usia dua bulan Sunjaya dititipkan kepada Mbok Jenah (pembantu) dan disusui oleh anak Mbok Jenah bernama Bi Tuminah.
Sejak berusia dua bulan, Sunjaya sudah tidak tinggal bersama kedua orangtuanya melainkan dengan pembantunya Mbok Jenah yang kebetulan punya anak laki-laki seusia Sunjaya.
BACA: KPK Masuk Saat PNS Hendak Pulang, Bupati Cirebon Pasrah, Begini Kronologisnya
Sunjaya kecil dibesarkan di keluarga Mbok Jenah (pembantu) dan bahkan tidak mengenal saudara-saudaranya, karena merasa dirinya seorang anak pembantu.
Pada usia enam atau tujuh tahun Sunjaya mulai ingat tentang perjalanan hidupnya di mana hampir setiap hari digendong Mbok Jenah yang datang kerumah Kuwu Sobana (majikannya) dan sore harinya pulang kerumah Mbok Jenah.
Pada usia Sembilan Tahun Sunjaya sudah mandiri dengan jualan ES Lilin yang mengambilnya dari Pabrik Gula Gempol, dengan berjalan kaki kurang lebih 3 (tiga) kilo meter dengan teman-temannya yang sama-sama seprofesi berjualan ES Lilin.
Sunjaya kecil berjualan ES Lilin di Sekolah dan kampungnya berkeliling untuk mencari keuntungan dan hasilnya diserahkan Pada Mbok Jenah. Tentu hal ini dilakukannya hampir setiap hari dan bahkan ada beberapa orang mengatakan.
Hal inipun menjadi pertanyaan Sunjaya, kenapa saya dibilang anaknya Pak Kuwu. Padahal sehari-hari saya selalu hidup dengan Mbok Jenah.
Sunjaya mulai sadar dan percaya setelah lulus Sekolah Dasar, yang mana di ijazah tercantum nama orangtuanya adalah Pak Kuwu Sobana.
Pada tahun 1996 Sunjaya menikah dengan gadis Surabaya pilihannya bernama Hj. Wahyu Tjiptaningsih, S.E. (Ayu) Putri Tunggal dari pasangan H. Sukanto dan Hj. Mudjiasri. H.
Sukanto adalah Purnawirawan ABRI yang sukses dengan usaha istrinya sebagai pengusaha beras antar pulau dan grosir sembako yang kemudian dilanjutkan oleh putrinya Hj. Ayu dengan mengembangkan usaha importir beras yang didatangkan dari Thailand, Jepang, China dan bahkan dari Amerika Serikat.
BACA: Bupati Cirebon Sudah di KPK, Total 7 Orang Ditangkap, Ini Identitasnya 
Sebelumnya, KPK mengkonfirmasi penangkapan kepala daerah di Cirebon, Jawa Barat.
“Ada unsur kepala daerah yang ikut diamankan,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo melalui pesan elektronik kepada redaksi, Rabu (24/10).
Beredar informasi salah satu yang ditangkap adalah Bupati Cirebon Sunjaya Purwadi Sastra. Terkait ini, Agus meminta juruwarta bersabar. “Tunggu konpers (konferensi pers) besok,” singkatnya.
Agus membenarkan hari ini tim KPK turun ke Kota Udang. Namun dia belum mau merinci nama-nama yang ditangkap, termasuk soal perkara pidana korupsi yang terjadi. “Masih diperlukan pendalaman,” tukasnya.
Sekretaris Jendral PDIP Hasto Kristiyanto memastikan Sunjaya akan mendapat sanksi tegas dari PDIP.
“Sanksi pemecatan! Karena itu yang berlaku di PDIP,” tegas Hasto saat dikonfirmasi, Rabu (24/10/2018).
Hasto juga menyesalkan banyaknya kepala daerah yang masih terjaring OTT KPK.
Padahal, diakui anak buah Megawati itu, pihaknya sudah melakukan berbagai cara agar kadernya yang menjadi kepala daerah tidak melakukan pelanggaran hukum.
“Kami sudah memberikan imbauan melalui surat, sanksi pemecatan kepada yang sebelum-sebelumnya, sudah diberikan tanpa pandang bulu,” ujarnya.
Oleh karenanya, PDIP menilai harus ada mekanisme pencegahan yang efektif agar peraktik suap atau korupsi kepala daerah tidak terus terulang kembali.
“Proses ini selalu berulang, menimpa seluruh parpol, di seluruh lini pemerintahan. Harus dipikirkan sistem pencegahan yang efektif,” jelasnya.
(one/pojoksatu)