Categories
1 Ramadhan 1440 H bulan puasa cebong hasil Pemilu 2019 hasil pilpres 2019 Imbauan MUI kampret Nasional

Woi Puasa Nih! Jangan Ada Lagi Cebong dan Kampret

POJOKSATU.id, JAKARTA – Memasuki bulan suci Ramadhan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar tak ada lagi penyebutan cebong dan kampret.
Karena itu, MUI mengajak seluruh umat Islam menyambut Ramadan dengan mengedepankan toleransi dan semangat persaudaraan.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi dalam keterangannya, Minggu (5/5/2019).
Imbauan tersebut disampaikan mengingat masyarakat Indonesia telah terbelah pada penyelenggaraan Pilpres 2019 lalu.
Apalagi, pencobolosan pada tanggal 17 April lalu juga telah berlalu.
“Agar seluruh masyarakat kembali merajut tali silaturahmi dan persaudaraan yang selama ini tercabik-cabik, terkotak-kotak, dan terpecah belah karena perbedaan pilihan politik,” tutur Zainut.
Zainut mengatakan, berpuasa merupakan implementasi dari nilai-nilai Islam tentang perdamaian, kasih sayang, dan keadilan.
Khususnya dalam mengembangkan kembali semangat persaudaraan dan kebangsaan.
Bersamaan dengan momentum datangnya Ramadan yang mulia ini, ujar Zainut, pihaknya juga mengajak seluruh pihak untuk mengakhiri semua silang sengketa, saling tuduh, fitnah dan saling olok.
Pihaknya juga tidak mau, ke depan masih ada lagi penyebutan kampret dan cebong.
“Marilah kita kembali menjadi manusia yang mulia karena kita adalah saudara,” ujarnya.
Selain itu, MUI juga mengingatkan lembaga penyiaran meningkatkan kepatuhannya pada UU Penyiaran serta Pedoman Perilaku dan Standard Program Siaran (P3SPS) yang dikeluarkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) di bulan Ramadan.
Sebaliknya, tidak boleh adanya tayangan yang kurang baik.
“Siaran-siaran yang kurang baik seperti tayangan yang mengandung kekerasan, perilaku seks menyimpang, hal-hal gaib, paranormal, klenik dan candaan yang berlebihan,” tegasnya.
MUI juga meminta para penyelenggara jasa hiburan malam seperti singing hall, karaoke, sauna, spa, massage, dan billiard untuk tutup selama bulan Ramadhan.
Begitu pun kepada para pengusaha jasa restoran dan warung makan, bisa mengatur waktu jam operasionalnya atau membuka usahanya dengan tidak secara terbuka, atraktif dan terang-terangan.
(jpg/ruh/pojoksatu)