Categories
Berita Terbaru Dahlan Iskan Catatan Dahlan Iskan Dahlan Iskan Nasional

Sayap RSS

Oleh : Dahlan Iskan
Mereka menyebutnya bukan ‘menunggangi agama’. Justru dengan sengaja membawa bendera agama. Untuk memenangi Pemilu di India. Yang sedang berlangsung sekarang ini.
Itulah pola perjuangan partai BJP (Bharatiya Janata Party). Yang lima tahun lalu menang besar. Atas rival lamanya, Partai Kongres. Termasuk menghabisi partai lokal Dalit. Yang mewakili rakyat terbawah. Di bawah kasta terbawah. Yang sebelumnya menguasai negara bagian Uttar Pradesh.
Kali ini BJP kelihatannya akan menang lagi. Dengan mudah. Dengan tema yang sama: pembawa misi agama. Hindu. Terang-terangan. Terbuka. Melawan partai Kongres yang mereka anggap sekuler.
Kejayaan BJP itu tidak datang tiba-tiba. Di dalam partai itu dibangun sayap militan. Isinya anak-anak muda. Ideologis. Dilatih kemiliteran. Terorganisasi dengan rapi.
Nama organisasi ini RSS: Rashtriya Swayamsevak Sangh. Yang sebenarnya kelompok lama. Sejak zaman penjajahan. Tapi baru mau masuk politik setelah tahun 2000.
RSS punya 6 juta anggota. Yang tersebar di 60 ribu cabangnya.
Di Pemilu lima tahun lalu RSS-lah yang ‘menghabisi’ suara Dalit di Uttar Pradesh. Sampai partai wong cilik itu tidak meraih satu pun kursi di DPR.
Caranya pun sangat militan. Satu orang anggota RSS harus membuat daftar 100 orang pemilih. Orang itulah yang bertanggungjawab: 100 orang itu akan mencoblos BJP. Termasuk pagi-pagi harus membangunkan mereka. Di hari pencoblosan. Bahkan harus mengantarkan mereka ke TPS. Dengan kendaraan RSS.
Semua itu dibalut dengan isu tunggal: demi kejayaan agama.
Putusan masuk ke politik pun tidak mudah. Sulit mencari partai yang seide. Yang mau memperjuangkan agama secara total. Politik dianggap terlalu kompromistis. Politik itu kotor. Seperti toilet.
Tapi mereka juga sadar. Tanpa politik sulit mencapai tujuan perjuangan. Dengan politik misi RSS mudah tercapai. Syaratnya: harus menang pemilu. Agar bisa mengendalikan negara.
“Kalau politik itu kotor kitalah yang harus membersihkan,” ujar tokoh RSS, seperti dikutip New York Times.
Akhirnya RSS masuk politik. Dicarilah partai yang mau didukung RSS. Dengan kontrak: harus menjadikan India negara Hindu sepenuhnya.
Partai BJP mau.
Mulailah RSS bergerak. Sebagai sasarannya adalah Pemilu 2014. Yang harus dimenangkannya. Mereka juga menemukan tokoh yang sangat berprestasi: Narendra Modi. Yang pernah 10 tahun jadi gubernur Gujarat. Dengan prestasi luar biasa: ekonomi Gujarat tumbuh di atas 10 persen selama 10 tahun bertutut-turut.
Lalu RSS menerapkan kerja militannya di negara-negara bagian kunci. Misalnya di Uttar Pradesh tadi.
Model Uttar Pradesh itulah yang lantas dicopy. Untuk negara-negara bagian lain. Yang jumlah kursi DPR-nya besar. Termasuk untuk negara bagian yang dianggap rawan: yang perkembangan agama lainnya pesat. Seperti di West Bengal. Yang ibukotanya Calcutta. Yang selama 10 tahun terakhir penduduk Islamnya naik 2 persen. Menjadi 22 persen. Lebih tinggi dari rata-rata nasional yang 14 persen.
Khusus untuk West Bengal aktivis RSS juga harus bisa mengembangkan jihad cinta. Yakni mencegah terjadinya perkawinan yang menyebabkan wanita Hindu pindah agama di negara bagian itu.
Mimpi besar memang sedang dibangun oleh RSS di India. Terutama menjadikan Hindu resmi sebagai agama negara. Termasuk menjalankan syariatnya. Di dalamnya harus ada larangan menyembelih sapi secara nasional. Di seluruh wilayah negara.
Mimpi besar yang lain adalah: menemukan kembali sungai Irawati. Yang disebut dalam kitab suci Hindu. Tapi di peta India modern sungai itu tidak ada. Tidak ditemukan. Negara harus bisa menemukannya. Harus mengerahkan ahli dan ilmuwan untuk melakukan riset besar-besaran.
Sungai Irawati adalah sungai sakti. Tempat betara Indra mencegah datangnya bencana.
Kini memang ada Sungai Ravi. Yang mengalir dari India, bermuara di Pakistan. Lewat kota Lahore. Sungai ini dulu pernah disebut sungai Irawati. Tapi itu dianggap mengada-ada. Lalu ganti nama. Menjadi Sungai Ravi.
Di Myanmar kini juga ada Sungai Irawati. Sungai terbesar di Myanmar. Yang jadi urat nadi kehidupan negara itu. Tapi kitab suci menyebut Sungai Irawati ada di India. Bukan Myanmar.
Irawati, Irawadi, Iravati, Iravadi. Begitu banyak nama yang penulisannya beda.
Masih ada mimpi yang lebih besar. Yang terbesar. Yakni bagaimana bisa membangun pura suci di Ayodya. Di Uttar Pradesh. Di lokasi asli di mana Rama berada.
Mereka menemukan di mana tempat Rama yang asli. Di Ayodya itu.
Tapi sejak abad 16 lokasi itu ditempati bangunan masjid. Namanya Masjid Babri.
Mereka percaya sebelum Islam masuk ke India di lokasi itu ada bangunan pura. Pura Rama. Maka RSS memendam misi. Harus bisa membangun kembali Pura Rama di situ. RSS lantas menjadikan Pura Rama sebagai isu sentral yang sexy.
Masjid Babri itu pun hancur. Di tahun 1992. Dalam sebuah kerusuhan besar. Sekitar 2000 orang mati.
RSS kemudian dilarang pemerintah. Untuk keempat kalinya. Yang pertama melarang adalah pemerintahan penjajah Inggris. Dianggap anti penjajahan.
Hidup lagi. Sampai tiba larangan yang kedua: saat Mahatma Gandhi dibunuh. Oleh sayap radikal RSS. Gara-gara Gandhi memaafkan kelompok Islam.
Selalu saja RSS bisa hidup kembali. Dan kini menjadi sayap ideologis di partai BJP.
Begitulah zaman ini. Di mana-mana agama dan politik menyatu.
(Dahlan Iskan)

Categories
Berita Terbaru Dahlan Iskan Catatan Dahlan Iskan Dahlan Iskan Nasional Pilpres 2019

Debat M&S

Oleh: Dahlan Iskan
Jantung saya deg-degan. Saat debat cawapres memasuki babak sepertiga terakhir. Tiba-tiba gawang Liverpool kebobolan. Saat lawan Fulham kemarin malam. Di menit ke 74. Kok bisa. Begitu cerobohnya. Menjadi 1-1. Bila seperti itu sampai akhir habislah peluang Liverpool. Untuk menjadi juara Liga Inggris tahun ini.
Untunglah Liverpool akhirnya menang 1-2.
Pagi harinya saya terima WA dari seorang wanita Tionghoa. “Sandi menutup debat dengan bahasa Arab,” tulisnya. “Tapi saya tidak mengerti apa maksudnya,” tambahnya.
Saya terpaksa melihat YouTube. Untuk melihat bagian penutup debat cawapres itu. Bagian awalnya saya sudah lihat di televisi. Sebelum pertandingan Liverpool dimulai.
Ternyata ada lima kalimat Arab yang diucapkan Sandiaga Uno. Cawapresnya Prabowo itu. Salah satunya adalah kalimat penutup pidato yang sering dipakai kalangan NU:
Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq.
Artinya: Allah-lah yang memberikan taufiq kepada orang yang berada di jalan paling lurus.
Dalam debat itu ada bagian yang Sandi unggul. Ada bagian yang Kyai Ma’ruf Amin menang.
Cawapres pak Jokowi itu unggul di bagian instrumen untuk mengontrol anggaran pendidikan. Yang begitu besar. Yang pelaksanaannya diserahkan ke daerah.
Sandi kurang pas dalam menjawab pertanyaan Kyai Ma’ruf itu. Yang ditanyakan instrumen. Jawabannya muter-muter.
Sayangnya di momen ini gestur Kyai Ma’ruf cacat berat. Saat Sandi memberikan jawaban, Kyai Ma’ruf memperhatikan kertas krepekan-nya. Tidak memperhatikan lawan bicaranya. Kyai Ma’ruf seperti takut kehilangan ide apa yang harus dikatakan seterusnya.
Tapi krepekan-nya itu ternyata ampuh. Setelah Sandi muter-muter Kyai Ma’ruf langsung menunjukkan keunggulannya di bidang instrumen itu.
“Kami sudah punya instrumennya,” begitu kira-kira kata Kyai Ma’ruf. “Yakni NPD. Neraca Pendidikan Daerah,” ujar Kyai.
Sayang Kyai Ma’ruf tidak menjelaskan apa itu NPD. Bagaimana sistem kerjanya. Di mana manfaatnya.
Mendengar istilah NPD itu saya jadi ingat Anies Baswedan. Saat gubernur Jakarta itu baru menjabat menteri pendidikan. Dari paparan Anies-lah saya mendengar kata NPD. Untuk pertama kalinya.
Waktu itu Anies Baswedan hadir di pertemuan besar Forum Pemimpin Redaksi. Di Nusa Dua, Bali. Anies menjadi pembicara. Saya juga. Ia bicara di salah satu forum yang membahas pendidikan. Saya di forum lain. Tapi saya pilih ikut forumnya Anies. Ingin mendengar konsep pendidikan seorang menteri baru. Saya tinggalkan forum yang membahas ekonomi di ruang lain.
Saat itulah Anies menguraikan NPD. Dengan sangat bagusnya. Ia beberkan neraca masing-masing kabupaten/kota. Seperti neraca keuangan. Tapi ini neraca pendidikan.
Saya begitu ingin menulis apa yang dipaparkan Anies saat itu. Rakyat harus tahu. Para bupati/walikota harus tahu.
Tapi Anies minta semua data tadi dirahasiakan. Mengapa? Sangat mempermalukan kabupaten yang neracanya merah. Beberapa di antaranya kabupaten di Jatim. Yang dipimpin agamawan.
Ia memilih akan membicarakannya dengan para bupati bersangkutan dulu. “Ini kan baru pertama neraca kabupaten/kota dinilai. Mereka harus diberi waktu untuk berbenah,” katanya.
Saya menyesal tidak bertanya saat itu: apakah NPD itu idenya sendiri, ide tim ahli di kementeriannya, atau ide presiden yang harus ia laksanakan.
Saya merasa tidak penting menanyakan itu. Saya keburu yakin itu idenya sendiri. Bukankah ia seorang intelektual yang sangat konsen di bidang pendidikan?
Kemarin malam Sandi unggul pada pembicaraan soal susu ibu. Padahal topik ini berasal dari pertanyaan Kyai Ma’ruf. Soal program Sandi yang disebut ‘sedekah putih’. Untuk anak-anak yang kekurangan asupan susu ibu.
Kyai Ma’ruf bicara pada tataran doktrin. Bayi harus disusui ibunya selama dua tahun.
Sandi menunjukkan realitas. Kenyataannya tidak semua ibu mampu menyusui bayinya selama dua tahun.
“Istri saya sendiri contohnya,” ujar Sandi. Sambil menunjuk sang istri. Yang duduk di barisan depan. Sang istri berdiri.
Sandi pun bercerita: istrinya itu hamil lagi. Untuk ketiga kalinya. Saat usia sang istri 42 tahun. Tiba-tiba terjadilah. Saat bayinya, Sulaiman, berumur 6 bulan, air susu dari sang ibu tidak keluar lagi.
Maka diperlukanlah sumbangan susu dari orang lain. Dengan program ‘sedekah putih’.
Menjadikan istrinya sebagai contoh itu sangat menghidupkan forum. Juga sangat manusiawi. Mengena di hati ibu-ibu.
Lebih menarik simpati lagi ketika Sandi menegaskan ‘Ini bukan soal Prabowo-Sandi. Ini bukan soal menang kalah. Ini soal besar, bangsa kita’.
Yang Sandi juga mengesankan adalah ini: saat ia merogoh saku. Sambil minta hadirin mengeluarkan dompet masing-masing. Lalu mengeluarkan e-KTP. Cukup satu e-KTP untuk segala macam fasilitas. Tidak perlu banyak kartu. Seperti yang ditawarkan Ma’ruf.
Topik lain tidak perlu saya tulis. Apalagi soal dana riset itu. Sangat mengecewakan. Dua-duanya. Juga tentang kebudayaan. Bahkan Kyai Ma’ruf menyatakan akan membuat dana abadi kebudayaan. Entahlah apakah negara boleh punya dana abadi. Di luar APBN. Apakah ada pikiran suatu saat negara sampai tidak punya APBN sehingga perlu dana abadi. Dana abadi bisa tepat kalau yang mengucapkan, misalnya, direktur TIM.
Yang menyenangkan kemarin itu tidak ada serangan yang bersifat pribadi. Mungkin belajar dari serangan Jokowi ke tanah Prabowo. Yang sampai sekelas pak JK membuat klasifikasi.
Dari Sandi hanya ada ‘serangan’ tersembunyi. Misalnya saat Sandi mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kyai Ma’ruf. Yang diucapkan di awal acara. “…. yang ke 76” katanya.
Yang ingin diungkapkan Sandi barangkali “Pak Kyai ini sudah tua sekali, tidak pada tempatnya ikut memperebutkan jabatan”.
Tapi Kyai Ma’ruf juga punya senjata tersembunyi. Yang diucapkan di akhir acara.
“Saya memang sudah tua. Justru seluruh pengabdian saya nanti untuk anak cucu kita”, kurang lebih begitu ucapannya.
Maksudnya, tidak akan ada agenda memperkaya diri. Untuk apa. Kan sudah tua. Beda dengan yang masih muda.
Semua itu tafsir saya. Tidak tahu maksud terdalam di hati mereka masing-masing.
Yang jelas keduanya lulus melewati waktu. Pak Ma’ruf masih bisa bicara jelas. Meski penampilannya lebih tua dari yang saya perkirakan.
Beliau sangat tepat membawakan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab. Tentu. Tapi terasa dipaksakan untuk mengucapkan istilah ini dalam bahasa Inggris. “For 10 Years Challenge”. Sampai tiga kali.
Kyai Ma’ruf sempurna sekali dalam pakaian kekyaiannya. Sandi juga sempurna sekali dalam berpakaian jas. Jasnya bagus sekali.
Sandi juga sangat disiplin dalam menjalankan tata krama (manner) berjas. Ia selalu membuka kancing saat duduk. Dan mengancingkannya kembali saat berdiri.
Hanya sekali ia lupa mengancing jas saat berdiri. Yakni di akhir debat. Saat menjawab pertanyaan terakhir Kyai Ma’ruf.
Kalau boleh usul: lain kali warna merah dasinya bisa sedikit lebih merah. Dan lebar dasinya bisa sedikit dikurangi. Selebihnya Sandi keren habis dalam berpakaian kemarin malam.
(dahlan iskan)

Categories
Berita Terbaru Dahlan Iskan Dahlan Iskan Nasional

Andrian

Oleh: Dahlan Iskan
Saya sudah terlanjur meninggalkan Tainan. Sudah di dalam kereta. Menuju kota Kaoshiung. Kota paling Selatan di Taiwan.
Tapi Adrian sempat menjawab WA saya. Ia belum libur. Meski temannya sudah pada siap-siap merayakan tahun baru Imlek.
Saya bangga dengan anak Pak Lahuri ini. Pensiunan guru SD di Lumajang ini. Tepatnya di Sukodono. Sebuah desa di selatan Lumajang, Jatim.
Nama lengkap anak ini: Andrian Muzakki Firmansyah. Sebenarnya Andrian sudah lulus kuliah. Tahun lalu. Dari Tainan Shoufu University (台灣首付大學). Ia sarjana desain komputer.
Tapi Andrian belum mau pulang. Ingin mencari penghasilan dulu. Untuk bekal hidupnya di masa depan. Juga karena tidak tahu: kalau pulang akan kerja apa. Di mana. “Ilmu saya ini sepertinya belum banyak diterapkan di Indonesia,” katanya.
Di kota Tainan, Andrian bekerja di perusahaan software. Membuat desain program. Saya sebenarnya ingin ketemu bosnya. Tapi saya hanya satu malam di Tainan. Hanya sempat makan mie yang warungnya berumur 100 tahun itu. Yang dapurnya pernah tidak mati api selama 30 tahun terus menerus itu.
Andrian amat sibuk. Di rumahnya. Ya. Di rumahnya. Ia memang tidak perlu ngantor. Semuanya ia kerjakan di rumah yang disediakan perusahaan itu. Dengan seorang teman asli Taiwan.
“Saya baru keluar kalau ada klien perusahaan yang memanggil,” kata Andrian. Atau kalau mau salat Jumat di masjid kampus.
Rumah itu tiga kamar. Satu untuknya. Satunya lagi untuk temannya. Sedang kamar ketiga untuk tempat barang.
Resminya sudah enam bulan Andrian bekerja di perusahaan itu. Pun sejak sebelum lulus ia sudah diminta kerja. Begitulah mahasiswa yang baik di sana.
Ia juga jarang pulang ke Indonesia. Andrian baru pulang kalau Lebaran. Harus. Ia anak tunggal. Tapi bapak-ibunya rela anaknya bekerja di luar negeri. Hanya saja ibunya terus bertanya: kapan kawin?
Umur Andrian kini 29 tahun. Belum punya pacar. Masih pilih-pilih. Belum ada yang cocok.
Yang pasti ia tidak akan pacaran dengan gadis Taiwan. Ia tidak mau berpasangan dengan wanita yang kulturnya sangat berbeda.
Harus gadis Lumajangkah? “Tidak harus,” katanya. “Asal Indonesia,” tambahnya.
Karena itu Andrian juga belum tahu. Masa depannya akan di mana. Di Surabayakah? Tempatnya pernah kuliah di Stikom dan perhotelan dulu? Atau di Jakarta? “Bagi saya di mana saja. Tergantung jodoh saya nanti,” katanya. “Yang jelas tidak di Taiwan.”
Andrian mulai mengenal komputer sejak SMAN 2 Lumajang. Laboratorium sekolahnya menyediakan komputer. Di situlah ia mengenal program WS, internet dan chatting. Ia berani chatting dengan orang luar negeri. Dalam bahasa Inggris.
Setamat SMA Andrian kuliah di Stikom Surabaya. Ikut-ikutan teman, katanya. Tapi ia tidak krasan. Kemampuan komputernya sudah di atas mata kuliah.
Semester 4 Andrian men-DO-kan diri. Ingin jadi enterpreneur. Yang lagi ‘in’ di kalangan mahasiswa saat itu. Tapi, katanya, ternyata sulit.
Ia pindah jalur. Kuliah di perhotelan. Lalu kerja di hotel. Pernah di Shangrila Surabaya. Sebentar.
Di hotel itulah Andrian kenal banyak orang. Termasuk tamu-tamu Tionghoa. Ia mulai tertarik belajar bahasa Mandarin. Ia cari tempat kursus yang intensif. Tapi murah.
Ditemukanlah ITCC. Dua tahun Andrian kursus Mandarin di yayasan yang saya pimpin itu. Lalu mendapat bea siswa ke Taiwan.
Kenapa tidak ke Tiongkok? “Tawaran yang di Tiongkok jurusan pendidikan. Saya ingin memperdalam komputer,” katanya.
Selama di Taiwan Andrian sudah menghasilkan 15 program. Atas penugasan perusahaan. Bersama temannya itu.
Semua program yang ia buat dalam bahasa Mandarin. Berarti kemampuan Mandarinnya hebat. “Tidak juga lah,” katanya merendah. “Bahasa program kan tidak banyak,” tambahnya.
Ternyata saya juga hanya satu malam di Kaoshiung. Besoknya naik kereta lagi. Ke Hualien. Ke pusatnya agama Budha Tzu Chi. Yang keretanya bukan jenis yang cepat. Belum ada kereta cepat di jalur Kaoshiung-Hualien. Lokomotifnya masih pakai diesel. Tidak ada wifi di dalamnya. Tidak ada colokan untuk charger HP.
Kalah dengan bus. Yang selalu menyediakan wifi berkecepatan tinggi. Misalnya saat saya naik bus dari Taipei ke Taichung. Lalu, keesokan harinya, naik bus lagi. Dari Taichung ke Tainan. Wifinya sangat menggoda. Saking cepatnya.
Saya sempat berharap di kereta pun demikian. Dari Tainan ke Kaoshiung saya naik kereta express. Ternyata tidak ada wifi. Maka saat dari Kaoshiung ke Hualien saya tidak berharap lagi. Jadi tidak kecewa.
Harapan itu muncul lagi saat saya naik kereta cepat. Dari Hualien ke Taipei kemarin. Siapa tahu di kereta cepat sudah lebih modern. Ternyata sama saja.
Tapi baik juga tidak ada wifi. Sesekali puasa HP. Setidaknya selama lima jam.
(dahlan iskan)

Categories
Berita Terbaru Dahlan Iskan Catatan Dahlan Iskan Dahlan Iskan Nasional

Mimpi Istri Kandas di Tawau

Oleh: Dahlan Iskan
Di bandara ini ada dua koridor: untuk yang berpaspor Indonesia dan yang berpaspor Malaysia. Suami-istri itu harus di jalur yang terpisah.
Mereka punya anak kembar. Umur 1 tahunan. Belum bisa jalan sendiri. Masih harus digendong. Belum tahu arti paspor.
Orang tuanya tidak bingung. Yang suami memilih di antrean Indonesia. Istrinya di antrean Malaysia. Masing-masing menggendong satu anak.
Itulah suasana di terminal kedatangan bandara Tarakan. Yang sekarang berstatus bandara internasional. Meski rumput di tamannya tetap rumput lokal: yang sulit diatur, tidak dirapikan dan terlihat kotor. Seperti kompak dengan Tawau: dalam ketidakrapian.
Status bandara internasional Tarakan didapat karena: ada satu penerbangan dari Tawau itu. Yang setengah jam kemudian kembali ke Tawau itu. Seminggu tiga kali. Senin-Kamis-Sabtu.
Jarak terbangnya 45 menit. Dengan pesawat ATR. Milik anak perusahaan Malaysia Airlines: Mas Wing. Yang berbaling dua itu.
Hari itu saya kembali ke Indonesia. Lewat jalur ini. Berangkatnya dulu saya dari Surabaya. Ke Jogja. Lalu Jakarta. Palembang. Kuala Lumpur. Kota Kinabalu. Tawau. Terakhir Tarakan, Tanjung Selor, Berau dan Balikpapan.
Pesawat Tawau-Tarakan itu hampir penuh. Kapasitasnya 70 orang. Saya sulit menduga. Berapa yang WNI dan berapa yang WN Malaysia. Raut wajahnya sulit dibedakan. Penumpang Tionghoanya pun sulit saya tebak: Tionghoa Tawau atau Tionghoa Tarakan.
Body language mereka sama. Wajah mereka sama. Bahasa mereka sama.
Baru di antrean imigrasi itulah saya tahu. Yang antre di jalur paspor Indonesia ternyata sama panjang. Dengan yang di jalur paspor Malaysia.
Yang saya juga tidak tahu: berapa di antara mereka yang suami-istri. Kecuali yang satu itu. Yang punya anak kembar lucu itu. Yang berwajah Tionghoa itu.
Meski ada pembedaan jalur si kembar tidak jadi masalah: satu digendong ibunya. Yang warga Malaysia. Satu di gendong bapaknya. Yang warga negara Indonesia.
Suami istri ini memang mondar-mandir Tawau-Tarakan. Punya usaha di dua kota itu.
Si suami dulu memang sekolah di Tawau. Ayahnya orang Nunukan. Satu pulau yang letaknya di antara Tarakan dan Tawau.
Masih banyak lagi penumpang yang statusnya seperti itu. Suami-istri. Tapi beda paspor. Terlihat dari warna paspornya. Beda warga negara.
Yang berwajah non-Tionghoa umumnya asal Sulawesi. Yang sudah kawin-mawin di Sabah. Dari Tarakan nanti mereka terbang ke Makassar. Ke kampung halaman. Tiap hari ada penerbangan langsung Tarakan-Makassar p/p.
Hubungan Tawau Tarakan memang memiliki kekhasan. Bertetangga. Hanya renggang saat terjadi konfrontasi.
Sampai di Samarinda pun nama Tawau sangat harum. Dianggap lambang kemajuan. Lambang modernisasi. Kemajuan kotanya. Kehebatan kebun sawitnya. Murah ya barang-barangnya.
Tawau yang hebat hidup dalam mimpi kebanyakan orang Kaltim. Termasuk dalam mimpi istri saya. Yang asli Kaltim.
Saat di Samarinda dulu saya bisa ikut jadi saksinya: gelas kaca terbaik dari Tawau. Merknya duralex. Jatuh tidak pecah. Piring pun dari Tawau. Minuman kaleng dari Tawau. Apa pun barangnya, yang terlihat modern, berasal dari Tawau.
Mimpi Tawau modern itulah yang mengecewakan istri saya. Yang untuk pertama kali ke Tawau. Minggu lalu.
Tawau yang dia lihat tidak sama dengan mimpinya. Selama 60 tahun.
Saya tidak kecewa. Saya sudah beberapa kali ke Tawau. Bukan Tawau yang mengalami kemunduran. Kitalah yang maju. Lebih cepat dari kemajuan Tawau.
Saat ke Tawau pertama dulu saya lihat Kaltim masih seperti kampung. Waktu itu saya masih wartawan baru. Berada di kasta paling rendah.
Kini terasa Tawau jauh ketinggalan. Perkebunan besar sawit di sana rupanya tidak berhasil menyejahterakan rakyatnya. Perkebunan hanya memerlukan buruh. Dengan gaji rendah. Hasil perkebunannya diekspor. Uangnya tidak kembali ke daerah. Kecuali dalam bentuk upah yang rendah.
Bukankah itu problem Riau juga?
Istri saya begitu kecewa datang ke ‘negeri impian’ itu. Padahal sudah saya pilihkan hotel terbaik. Terbaru.
Lebih kecewa lagi ketika saya ajak ke pusat kota. Ke dekat pasar sentral. Masih seperti Samarinda tahun 1980-an. Pasar sentral Tawau sekarang seperti Pasar Pagi Samarinda 40 tahun lalu.
Jalan-jalannya memang tidak berlubang. Tapi tidak terawat. Parit kanan-kirinya kotor. Berbau. Rumputnya tumbuh liar.
Lalu saya ajak istri saya ke mall. Yang satu komplek dengan gedung-gedung apartemen. Kelihatan seperti sebuah super block. Dari jauh.
Setelah dekat, istri saya tidak mau masuk. Bahkan tidak mau turun dari mobil. Saya paksa dia. Tepatnya saya tipu: ayo kita nonton film Bohemian Rhapsody. Anda kan belum nonton. Saya mau nonton sekali lagi. Saking baiknya.
Di gerbang mall itu air menggenang. Saya minta mobil mepet trap. Agar istri terhindar dari genangan. Rumput tumbuh di sekitar trap.
Kami masuk mall. Nyaris gelap. Padahal baru jam 3 sore. Banyak kipas angin berputar. Rasanya ada AC. Tapi tidak dingin.
Saya menuju eskalator. Tidak bergerak. Saya menuju lift. Tidak tahu tempatnya. Tersembunyi di balik pintu. Seperti lift barang. Dari tiga lift di situ ada satu yang dijalankan. Menuju lantai 6. Bioskop.
Kami melewati deretan pedagang apa saja. Ditata seperti di pasar. Jauh dari rasa mall. Ternyata gambar wayang Bohemian Rhapsody tidak lagi diputar. Sudah tidak ada yang menonton.
Istri saya kecewa.
Saya senang: bisa tahu situasi lesunya mall itu. Dan suramnya.
Keesokan harinya saya ke bandara Tawau. Mau terbang ke Tarakan. Bandara Tawau seperti terminal bus. Tidak bersih. Tidak teratur. Setara dengan bandara Tarakan. Hanya lebih ramai.
Untunglah di akhir perjalanan ini saya terhibur. Setelah di Berau. Melihat bandara Kabupaten Berau. Kecil tapi bersih. Rapi. Terawat baik. Lebih terhibur lagi saat di bandara Balikpapan. Yang modern itu.
Berau sudah mengalahkan Tawau. Balikpapan sudah mengalahkan Kota Kinabalu. Sedikit lagi.
(Dahlan Iskan)

Categories
Berita Terbaru Dahlan Iskan Catatan Dahlan Iskan Dahlan Iskan Nasional

Nana Begitu Dibela Anak Autisnya

Oleh: Dahlan Iskan
Banyak yang punya anak autis. Tapi tidak seperti Nana. Yang habis-habisan. Mencarikan jalan keluar. Agar autis anaknya hilang selamanya.
Nana tinggalkan pekerjaannya. Dia lakukan penelitian. Dia temui banyak ahli. Dia baca banyak buku. Banyak artikel.
Berhasil.
Dia temukan ramuan yang cocok untuk menyembuhkan anak laki-lakinya itu.
Ramuan itu dirahasiakannya: hasil kombinasi biji-bijian. Yang dia olah menjadi susu bubuk. Dia minumkan ke anaknya itu tiap hari. Sebagai makanan utama sang anak.
Nana berharap banyak pada anaknya itu. Apalagi setelah Nana diceraikan oleh suaminya: seorang pengacara.
Setelah anaknya sembuh, Nana baru bisa tenang. Lantas berhasil kawin lagi. Dapat anak lagi. Perempuan. Normal. Lalu cerai lagi.
Saya bertemu Nana setelah itu. Setelah berstatus janda untuk yang kedua kalinya. Waktu itu umurnya masih 35 tahun. Kulitnya bersih terang. Wajahnya tampak cerdas. Kacamatanya agak tebal. Khas orang kebanyakan membaca. Model kacamatanya cocok dengan bentuk wajahnya yang agak bulat.
Dari nada bicaranya kelihatan jelas: Nana seorang yang antusias. Penuh semangat. Tapi juga sangat sopan.
Nana menemui saya untuk konsultasi. Mengenai usaha barunya: memproduksi susu bubuk untuk anak autis.
Saya mendengarkannya dengan tekun. Setengah kagum. Pada jalan hidupnya. Pada nasibnya sebagai wanita. Pada kegigihannya.
Tentu saya tidak perlu memberi saran apa-apa. Saya percaya Nana sudah punya segala-galanya: produk yang orisinal, tekat yang membara dan usia yang masih muda.
Nana pun pulang dengan hati yang mantap: memproduksi susu bubuk biji-bijian. Untuk anak autis.
Saya sering menghubungi Nana. Menanyakan kemajuan usaha kecilnya.
Lalu hubungan itu putus.
Saya disibukkan dengan urusan-urusan yang tidak masuk akal itu. Usaha sosiopreneur saya lainnya juga langsung terhenti.
Sampai datanglah tahun 2018.
Awal tahun tadi Nana menemui saya lagi. Sudah begitu lama tidak ada berita. Rasanya Nana tidak bertambah umurnya. Tatapan matanya tetap tajam cendekia. Jilbabnya kian bagus modelnya.
Masih tetap menjanda. Dengan dua anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Saya belum pernah melihat anaknya itu. Baik yang autis maupun adiknya.
Tentu saya langsung menanyakan ini: bagaimana perkembangan susu bubuk autisnya.
Nana tidak segera menjawab. Wajahnya menunduk. Matanya sembab.
Saya tahu apa yang terjadi di balik kesedihannya itu.
Nana menghentikan usahanya.
Mengapa?
Beberapa usaha makanan temannya digerebek. Tidak punya izin. Ilegal. Jadi perkara. Jadi pemberitaan media.
Nana tidak mau usahanya digerebek seperti itu. Nana pilih menghentikannya. Kepada pelanggannya Nana beralasan: lagi melakukan perbaikan alat-alat produksi.
Nana tahu itu bohong. Tapi dia ingin menyelamatkan resep rahasianya. Untuk masa depannya.
Tapi Nana juga tidak tahu: kapan bisa produksi lagi. Dengan izin yang resmi. Agar tidak digerebek.
Untuk dapat izin, alat-alat produksunya harus baik. Harus standar untuk peralatan produksi makanan dan minuman. Yang lebih ketat dibanding produksi apa pun.
Berarti perlu modal besar. Perlu lokasi dan bangunan yang memenuhi syarat pula.
Nana hampir saja menyerah: menjual resepnya itu. Ke perusahaan asing. Perusahaan susu dari Kanada.
Nana sudah sering dihubungi. Rupanya perusahaan Kanada itu sempat memonitor pemasaran susu bubuk milik Nana. Yang menjadi pesaing di kelasnya.
Itulah sebabnya Nana menemui saya. Minta pendapat saya.
Saya tidak sampai hati kalau Nana harus menyerah ke perusahaan asing. Itu melawan hati nuraninya.
Maka saya pun mencarikan jalan keluar. Saya ajak dia meninjau lokasi yang saya incar.
Tiba-tiba saya mendengar ini: Nana meninggal dunia.
Terkena kanker pankreas. Yang tidak pernah dia rasakan.
Kalah dengan antusiasmenya.
Saya pun melayat ke rumahnya. Setelah saya menjadi pembicara di seminar internasional Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia.
Tiba di rumahnya saya disambut seorang lelaki tua di kursi roda. ”Saya ayah Nana,” katanya lirih. ”Nama kita sama, Dahlan,” tambahnya.
Oh makanya nama lengkap Nana adalah Nana Dahlan. Ia seorang pensiunan jaksa.
Tapi jenazah Nana lagi dibawa ke masjid. Siap-siap dimakamkan setelah salat dzuhur.
Saya pun ke masjid. Berdoa di dekat kerandanya.
Lalu ada anak muda yang memperkenalkan diri. ”Nama saya Rangga,” katanya.
Itulah anak Nana yang dulunya autis. Sekarang smester pertama di fakultas hukum sebuah perguruan tinggi swasta.
Dari gaya bicaranya masih terlihat sisa-sisa autisnya.
”Mengapa memilih fakuktas hukum?,” tanya saya.
”Saya mau jadi jaksa. Saya akan hadapi bapak saya di sidang-sidang,” jawabnya.
Terasa pahit kata-katanya. Begitu tinggi pembelaan pada ibunya.
”Senang di fakultas hukum?” tanya saya lagi.
”Tidak,” jawabnya.
”Kesenangan Anda apa?,” tanya saya.
”Menciptakan permainan game di komputer,” jawabnya.
”Pakai sofware apa?,”
”Yang gratisan. Seperti Opentoonz, Krita, Shotcut dan Blender 3D,” jawabnya.
Ia pun sangat antusias membicarakan software apa saja. Di penciptaan game itu. Yang saya tidak sepenuhnya mengerti.
Begitu cerdas anak ini. Saya menjadi was-was: jangan-jangan lingkungannya tidak memahami kecerdasannya.
(dahlan iskan)