Categories
ani hasibuan Nasional Polda Metro Jaya

Polisi Beri Penjelasan, Ani Hasibuan Bukanlah Target, Melainkan Hanya Menindak Lanjuti Laporan Saja

POJOKSATU.id, JAKARTA- Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menegaskan polisi tidak menjadikan Ani Hasibuan sebagai target. Ia menegaskan polisi profesional dalam menangani laporan terhadap Ani.
“Tidak ada target apapun,” kata Argo, Jumat (17/5)
Argo mengatakan, polisi hanya menindaklanjuti adanya laporan. Jika ada laporan yang masuk, lanjutnya maka polisi akan memeriksanya.
“Saat ini kan masih tahap pemeriksaan saksi terlapor,” kata dia.
Menurutnya, apabila Ani tak merasa melakukan apa yang dituduhkan padanya, maka dia bisa datang untuk memenuhi panggilan selanjutnya kemudian melakukan klarifikasi. Polisi akan tetap menunggu kehadirannya di agenda selanjutnya.
“Jika saksi keberatan dengan tuduhannya silakan klarifikasi. Klarifikasi itu kan adalah waktu yang digunakan untuk membela diri dengan bukti-bukti atau dokumen yang ada. Jadi ya silakan saja Dr Ani untuk mengklarifikasi itu,” ujarnya lagi.
Sebelumnya diberitakan, pengacara Ani, Amin Fahrudi mencurigai bahwa kliennya menjadi target kriminalisasi. Alasannya, prosedur pemeriksaan tak lazim karena waktu antara tahap penyelidikan hingga penyidikan terlalu cepat.
“Kami duga Ibu Ani [Hasibuan] jadi target,” kata Amin kepada wartawan di Markas Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, Jumat, 17 Mei 2019.
Ani diperiksa untuk dugaan kasus tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas SARA dan atau menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat.
Informasi yang disampaikan Ani Hasibuan itu dimuat di portal berita Thanshnews.com pada 12 Mei 2019. Kasus ini dilaporkan oleh seorang bernama Carolus Andre Yulika pada 12 Mei 2019. Surat pemanggilan diterbitkan pada Selasa, 15 Mei 2019.
Ani merupakan dokter ahli syaraf. Pernyataannya menjadi kontroversi ketika dia menyebut faktor kelelahan tidak bisa membuat orang meninggal dunia. Karena itu, dia mempertanyakan sikap KPU yang tiba-tiba menyampaikan bahwa kematian para petugas KPPS karena kelelahan.
Dokter yang menelusuri misteri kematian para petugas KPPS hingga ke Yogyakarta itu menyampaikan, kejadian petugas KPPS meninggal dalam jumlah yang banyak dan dalam kurun waktu yang pendek adalah tragedi.
(dhe/pojoksatu)

Categories
ani hasibuan Nasional petugas kpps meninggal Polda Metro Jaya

Pengacara Ani Hasibuan: Klien Saya Tidak Pernah Menyebut Petugas KPPS Meninggal karena Senyawa Kimia

POJOKSATU.id, JAKARTA- Pengacara Ani Hasibuan, Amin Fahrudin menyebut kliennya tidak pernah menyebut apa yang ditulis dalam Thanshnews.com.
Dimana dalam portal berita itu tertulis Ani menyebut diduga ratusan petugas KPPS dalam Pemilu 2019 meninggal karena senyawa kimia pemusnah massal. Berita dalam portal ini kemudian jadi rujukan seseorang melaporkan kliennya.
“Itu bukanlah pernyataan atau statement dari klien kami dokter Ani Hasibuan, tapi media portal ini dia melakukan framming dan mengambil statment dari pernyataan beliau ketika wawancara di tvOne,” katanya,  Jumat (17/5)
Amin menjelaskan kliennya pernah ikut bertemu Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah beberapa waktu lalu. Saat itu Ani ikut bersama sejumlah advokat dan dokter yang meminta agar dibentuk tim untuk menyelidiki meninggalnya 540 petugas pemilu.
Di sanalah diduga ada salah satu dari mereka yang menyampaikan pernyataan dugaan ratusan KPPS meninggal karenana adanya senayawa kimia pemusnah massal yang ada dalam berita yang mencatut nama kliennya tadi. Untuk itu, ia menegaskan kliennya tidak pernah berkata demikian.
Kemudian, saat kliennya melakukan talk show di salah satu televisi swasta, Ani juga tidak pernah menyatakan pernyataan serupa seperti apa yang ditulis di Thanshnews.com. Dia menyebut apa yang ada dalam portal tersebut adalah penggiringan opini.
“Disitu tidak hanya bersumber dari Ibu Ani saja, tapi dari kelompok-kelompok lain. Memang ada kelompok lain atau pelapor lain yang menyinggung soal racun, tapi itu bukan statement dari Bu Ani,” ujarnya lagi.
Ani diperiksa untuk dugaan kasus tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas SARA dan atau menyiarkan berita atau pemberitaan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat.
Informasi yang disampaikan Ani Hasibuan itu dimuat di portal berita Thanshnews.com pada 12 Mei 2019. Kasus ini dilaporkan oleh seorang bernama Carolus Andre Yulika pada 12 Mei 2019. Surat pemanggilan diterbitkan pada Selasa, (15/5)
Ani merupakan dokter ahli syaraf. Pernyataannya menjadi kontroversi ketika dia menyebut faktor kelelahan tidak bisa membuat orang meninggal dunia. Karena itu, dia mempertanyakan sikap KPU yang tiba-tiba menyampaikan bahwa kematian para petugas KPPS karena kelelahan.
Dokter yang menelusuri misteri kematian para petugas KPPS hingga ke Yogyakarta itu menyampaikan, kejadian petugas KPPS meninggal dalam jumlah yang banyak dan dalam kurun waktu yang pendek adalah tragedi.
(dhe/pojoksatu)

Categories
ani hasibuan berita hoax dokter Nasional Polda Metro Jaya

Gak Terima, Ani Hasibuan Ancam Polisikan Tamsh-news.com, “Media Abal-abal”

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kuasa hukum Robiah Khairani Hasibuan alias dr Ani Hasibuan, Amin Fahrudin, menyatakan kliennya berencana mempolisikan salah satu portal berita tamsh-news.com.
Ia menyabut, pemperitaan yang telah dipublish portal tersebut isinya telah dipelintir.
“Iya akan kita laporkan ke penyidik Polri karena tidak memakai prinsip jurnalisme,” kata Amin di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (17/5/2019).
Menurut Amin, alasan pihaknya akan melaporkan portal berita tamsh-news.com itu, selain telah merusak nama baik kliennya.
Portal tersebut diduga media abal-abal.
“Apa itu tamsh-news.com. Itukan bukan media besar, apalagi kalau tidak ada redaksi resmi, bukan kantor berita resmi. Itu berita bohong. Maka yang akan kami laporkan,” ungkapnya.
Amin juga menyebut bahwa Ani Hasibuan tidak pernah diwawancarai oleh media dimaksud.
“Klien kami juga tidak pernah diwawancarai oleh media itu, ini sangat merugikan,” tuturnya.
Kendati demikian, Amin sendiri tidak membeberkan kapan pihaknya akan melayangkan laporan terhadap media portal tersebut.
Yang jelas, kata dia, saat ini laporan yang akan dilayangkan sedang dikaji.
“Kita masih mengkaji untuk membuat laporan ini,” ungkapnya.
Dalam konten tersebut, Ani Hasibuan menyebut ‘Gugurnya 573 KPPS Ditemukan Senyawa Kimia Pemusnahan Massal’. Padahal, kata Amin, pemberitaan di media tersebut sudah dipelintir.
“Buk Ani tak pernah menyampakan kematian KPPS karena racun, itu tidak benar,” kata Amin.
Ani Hasibuan pernah menyebut di salah satu televisi swasta, penyebab banyaknya petugas Kelompok Panitia Pemunggutan Suara (KPPS) pada Pemilu 2019 meningal dunia bukan karena faktor kelelahan akan tetapi ada faktor lain.
Namun hal itu disampaikan kliennya, kata Amin, hanyalah merupakan bentuk keperhatiannya kepada anggota KPPS.
“Dia kan sebagai dokter, jadi itu hanya bentuk keperhatiannya atas kematian KPPS,” ungkapnya.
Bahkan, statement yang ia lontarkan di salah satu televisi swasta itu pernah juga ia adukan ke wakil DPR RI, Fahri Hamzah.
Namun, aduan itu bukan atas nama pendukung Prabowo-Sandi, melainkan atas keperihatiannya sebagai dokter.
“Jadi awalnya menyampaikan ke Fahri Hamzah terkait kematian KPPS. Tapi itu bukan perwakilan kelompok tertentu akan tapi itu atas nama pribadi atas perhatiannya banyaknya kematian KPPS,” tegasnya.
Karena itu, Amin menilai, pemeriksaan kliennya sebagai saksi memang sudah menjadi target bidikan selanjutnya dari pihak penguasa.
Hal itu dibuktikan dengan surat pemanggilan kliennya yang dinilai janggal.
“Ini tanggal 12 Mei. Tapi pada tanggal 15 (Mei) sudah masuk penyelidikan dengan melayangkan surat pemanggilan Ibu Ani sebagai saksi. Ini waktunya sangat cepat,” ungkap Amin.
Amin menyebut kliennya itu saat ini tengah sakit. Tapi ia juga menyatakan bahwa kliennya tidak dirawat di rumah sakit, melainkan hanya di rumah saja.
“Ibu Ani kondisinya sakit di rumah, tidak dalam perawatan di rumah sakit. Tapi sakit di rumah,” kata Amin.
Menurut Amin, kliennya sakit lantaran kelelahan dengan jadwal yang begitu padat sebagai dokter.
Karena itu, Amin meminta agar penyidik menjadwalkan ulang pemeriksaan selanjutnya.
“Sakitnya over kelelahan. kami minta kepada pihak Polda Metro Jaya untuk melakukan penundaan pemeriksaan terhadap klien kami,” ungkapnya.
(fir/ruh/pojoksatu)