Categories
anggota polri capim kpk Nasional seleksi capim KPK

Liciknya Oknum KPK And The Gank, Pakai Cara Komunis Singkirkan Capim dari Polri

POJOKSATU.id, JAKARTA- Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai soal polemik seleksi calon pimpinan KPK yang terus dikritik oleh sejumlah elemen antikorupsi termasuk oleh oknum Wadah Pegawai KPK (WP KPK) itu sendiri.
Menurut Neta, oknum tersebut terkesan menggunakan cara- cara komunis yang menghalalkan berbagai cara untuk menolak hasil kerja Pansel KPK
“Cara komunis yang dilakukan oknum WP KPK and the Gank itu terungkap dalam surat terbuka pegawai KPK yang dikirim hari ini ke berbagai pihak, termasuk ke Pansel KPK,” ungkap Neta dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/8).
Menurut Neta, diduga oknum WP KPK and the Gank itu mengatasnamakan dirinya sebagai Koalisi Kawal Capim KPK dan Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi yang membawa- bawa keberadaan pegawai KPK.
Para oknum ini tidak ikhlas kalau Capim dari polri terpilih menjadi pimpinan KPK. Bahkan oknum tersebut telah mencatut 500 pegawai KPK untuk menolak Irjen Firli menjadi capim KPK.
“Oknum WP KPK ini telah melakukan persekongkolan jahat untuk mengkriminalisasi capim KPK dari Polri. Bahkan diduga mereka membiayai aksi politisasi untuk membenturkan karyawan KPK, Pansel dan Capim KPK, dengan cara cara komunis yang menghalalkan berbagai cara,” ungkap Neta.
Karena itu, pansel KPK harus bekerja serius untuk menuntaskan target kerjanya yang tanggal 2  September 2019 harus menyerahkan 10 nama capim KPK ke Presiden.
“10 capim itu harus segera diserahkan ke presiden,” ungkapnya.
(fir/pojoksatu)

Categories
anggota polri kerusuhan papua korban Nasional TNI

Tuntut Referendum, Deiyai Papua Rusuh, Ini Nama 6 TNI-Polri Dipanah dan Dibacok

POJOKSATU.id, JAKARTA – Aksi unjuk rasa di Deiyai, Papua, berakhir kerusuhan sekitar pukul 15.20 WIT, Rabu (28/8/2019). Akibat kerusuhan tersebut, enam anggota TNI/Polri menjadi korban.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, aksi massa tersebut menuntut Bupati Deiyai menyetujui referendum Papua.
Kerusuhan terjadi saat massa aksi tengah melakukan negosiasi dengan bupati.
BACA: Selesaikan Konflik, Gubernur Papua Pengen Minta Bantuan Asing, Mahasiswa Geram Bukan Main
Tiba-tiba ada sekelompok massa aksi yang menyerang hingga akhirnya beberapa aparat keamanan menjadi korban.
“Tiga polisi yang luka-luka. Dari TNI satu meninggal, dua lainnya mengalami luka,” kata Dedi, di Mabes Polri, Rabu (28/8/2019).
Saat ini, lanjutnya, jenazah aparat keamanan dan yang mengalami luka sudah dirawat di RSUD Paniai.
BACA: Ada OPM di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya, Ini Penjelasan Lukas Enembe
Rencananya, aparat keamanan yang menjadi korban akan diterbangkan ke Nabire atau Timika.
“Direncanakan besok akan di evakuasi ke Nabire atau Timika menggunakan pesawat terbang ataupun helikopter,” jelasnya.
Berikut nama-nama anggota TNI-Polri yang menjadi korban:

Categories
aksi dukung KPK anggota polri Nasional

Dikritik Keras, KPK Disebut Nggak Berani Benahi Korupsi di Instansi Polri

POJOKSATU.id, JAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebut Komisi Pemberantasan Korupsi belum bisa membenahi kasus-kasus korupsi yang terjadi di tubuh Polri.
Menurut Koordinator ICW Adnan Topan Husodo, yang bisa membenahi praktik korupsi di kepolisian hanyalah instansi itu sendiri.
“Reformasi di kepolisian itu hanya bisa diakukan oleh polisi sendiri. Kenapa, KPK tidak bisa, KPK bahkan tidak berani melakukannya,” jelasnya di Pacific Place, Jakarta, Senin (24/9).
Bahkan, saat ini KPK tercatat belum mampu menghadirkan pihak kepolisian ketika terjadi dugaan korupsi yang melibatkan institusi tersebut.
“Sekarang bahkan lebih buruk lagi situasinya. Karena kalau ada kasus kepolisian yang dipanggil oleh KPK mereka sendiri juga tidak bisa panggil,” tambah Adnan.
Padahal, KPK merupakan pihak yang diandalkan masyarakat dan ditunjuk undang-undang untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi di Indonesia.
“Artinya, KPK sendiri yang begitu diharapkan oleh undang-undang tidak bisa membenahi itu. Tidak bisa melakukannya,” ujar Adnan.
(wah/rmol/pojoksatu)