Categories
Ali Kolara baku tembak Nasional Polri Sulawesi tengah Teroris TNI

Teroris Kelompok Ali Kalora Tinggal 7 Orang dan Kekurangan Logistik, Sebentar Lagi Diberangus

POJOKSATU.id, JAKARTA – Anggota Kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora semakin berkurang setelah tiga orang diantaranya tewas ditembak Satgas Tinombala gabungan TNI/Polri.
Ketiganya tewas setelah terlibat baku tembak dengan aparat di area pegunungan Desa Marete, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, pergerakan kelompok tersebut semakin sempit. Saat ini, mereka terus diburu Satgas Tinombala.
Dedi menerangkan, Ali Kalora membagi kelompoknya menjadi dua berisi 6 orang dengan kelompok pertama yang dipimpin langsung oleh Ali Kalora dengan bersembunyi di sisi kanan Pegunungan Marate.
Kemudian kelompok kedua dipimpin oleh Qatar alias Farel dengan jumlah yang sama. Kelompok kedua ini kerap kali diketahui turun ke desa.
Pada 4 Maret 2019 lau, satu anggota MIT tewas di tangan Satgas Tinombala dan satu lainnya selamat.
Sementara, pada 19 Maret 2019 lalu, warga diancam kelompok tersebut agar diberi perbekalan.
Kemarin, dalam baku tembak, tiga anggota kelompok teroris itu berhasil dilumpuhkan.
“Tinggal tujuh (anggota Ali Kalora).”
Foto wajah kelompok teroris MIT pimpinan Ali Kolara di Sulawesi Tengah
“Semoga dalam waktu dekat ini semuanya berhasil diamankan oleh aparat penegak hukum, khususnya oleh Satgas Tinombala,” ujar Dedi di Komplek Mabes Polri, Jakarta, Jumat (22/3/2019).
Diyakini, senjata api yang dipegang kelompok itu hanya beberapa pucuk saja.
“Tinggal satu laras panjng, dua senpi laras pendek,” ungkap Dedi.
Namun yang dikhawatirkan Satgas bukanlah senjata api, melainkan bom lontong yang selalu dirakit dan dibawa kelompok tersebut dalam pelariannya.
“Mereka cukup ahli merakit bom lontong,” tegas jenderal bintang satu itu.
Di sisi lain, perbekalan kelompok Ali Kalora terbilang menipis dan kekurangan logistik hingga akhirnya terjun ke desa untuk mencarinya.
Untung saja, masyarakat sudah mulai paham kapan kelompoknya tersebut akan turun mencari perbekalan.
Informasi itulah yang disampaikan ke intelijen untuk selanjutkan diteruskan kepada Satgas Tinombala.
“Secepatnya dianalisa, titik koordinat tertentu sudah ada tim dari TNI, di kolam A dari Brimob, kolam B sama-sama bergerak mempersempit ruang gerak dan ruang larinya kelompok tersebut,” jelas Dedi.
Sementara itu, Satgas terus mengimbau melakui pihak keluarga agar Ali Kalora dan rekan-rekannya segera menyerahkan diri dan mengikuti proses peradilan yang berlaku.
“Daripada mereka melakukan perlawanan dan pada akhirnya mereka akan berhadapan dengan Satgas Tinombala yang memiliki kemampuan terlatih,” pungkas Dedi.
(jpg/ruh/pojoksatu)