Categories
Aldi Novel Adilang minahasa Nasional

Kisah Aldi Terombang Ambing 49 Hari di Laut, Hanyut di Minahasa Terdampar di Jepang

POJOKSATU.id, MINAHASA – Sosok Aldi Novel Adilang (19) membuat otoritas Jepang geleng-geleng kepala. Selama 49 hari dia berada di laut lepas dan nyaris jadi santapan hiu. Beruntung dengan kepiawaiannya dia bisa bertahan hidup di atas rompong (rumah rakit lautan).
Kisah Aldi ini bermula pada dua bulan lalu, tepatNYA 4 Juli 2018. Dia dinyatakan hanyut di laut lepas. Keluarganya Desa Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara (Sulut) pun berusaha mencari tapi tidak menemukan.
Hingga akhirnya, pemuda asal Minahasa itu ditemukan oleh petugas laut di Perairan Jepang pada Jumat (31/8/2018) lalu. Saat ditemukan pemuda 19 tahun itu kondisinya masih selamat.
“Aldi hanyut selama 49 hari. Waktu itu dia pergi mencari ikan,” ungkap Alvian Adilang (49), ayah Aldi Novel Adilang saat ditemui Manado Post (Jawa Pos Group/pojoksatu.id) pada Sabtu malam (22/9/2018).
Awalnya keluarga tidak mengira Aldi akan terdampar begitu jauh. Sebab keluarga hanya mengira dia sekadar bekerja untuk mencari ikan. Lantas pada 31 Agustus lalu, datang petugas dari tempat Aldi bekerja bersama aparat kepolisian.
Mereka memberi tahu bahwa putranya ditemukan di Osaka, Jepang. Beruntung saat ditemukan kondisinya masih selamat.
Aldi Novel Adilang di laut bebas. (Twitter/@naztaaa)
Sebelum ditemukan petugas Jepang, imbuh Alvian, Aldi hidup penuh dengan ancaman. Pasalnya ketika itu dia melaut dengan menumpangi rompong (rumah rakit lautan).
Rombong itu tidaklah begitu kuat menghadapai gelombang di laut lepas. Bersyukur selama di laut lepas Aldi tidak diterpa gelombang yang begitu besar.
Hanya saja, Aldi kerap diancam hiu. Ikan pemangsa itu kerap menunjukkan sosoknya di sektiar rompong. “Selama di kelilingi hiu, Aldi mengaku hanya banyak berdoa,” ungkapnya.
BACA: Ajaib! Terseret Ombak di Minahasa, Aldi Ditemukan di Jepang, 46 Hari di Laut
Sementara untuk bertahan hidup, Aldi lebih banyak memanfaatkan ikan-ikan yang ada di lautan untuk konsumsi sehari-hari.
“Sekarang dia sudah kembali lagi ke rumah. Dia juga sudah kembali melaut untuk mencari nafkah,” tandas Alvian menutup pembicaraan.
Aldi Novel Adilang diselamatkan awak kapal berbendera Panama. ([email protected])
Terpisah, Kapolresta Manado Kombes Pol FX Surya Kumara menjelaskan, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Osaka, awalnya dihubungi oleh Japan Coast Guard (JCG) bahwa mereka baru saja menyelamatkan nelayan.
Nelayan yang berada di atas rakit itu bertemu dengan kapal berbendera Panama MV Arpeggio di perairan sekitar Guam.
Lantas pada Kamis (6/9), menurut laporan JCG korban dibawa ke Tokuyama Jepang. Selanjutnya KJRI berkomunikasi dengan kapten kapal MV Arpeggio. Komunikasi itu untuk menghubungi pihak keluarga.
“KJRI langsung minta bantuan Polresta Manado juga untuk menghubungi keluarga karena mereka kesulitan mendapatkan nomor kontak keluarga korban,” jelas mantan kapolres Minahasa Selatan tersebut.
Aldi Novel Adilang bersama kapten kapal yang menolongnya. (Twitter/@naztaaa)
Usai mendapat laporan, Kumara langsung menginstruksikan jajaran yang ada di Polsek Wori untuk menindaklanjuti informasi tersebut.
“Petugas kami pun berhasil menghubungi keluarga korban. Selanjutnya meminta kepada perusahaan tempat korban bekerja supaya memulangkannya. Konsul Indonesia di Osaka juga telah menelpon saya, supaya meminta kepada keluarganya untuk mengirimkan KK (kartu keluarga) dan KTP, korban untuk dibuatkan paspor,” pungkas Kumara.
Diketahui, KJRI Osaka lewat unggahan facebook menjelaskan, jika Aldi Novel Adilang (19 thn), penjaga lampu di rompong, hanyut terbawa arus pada pertengahan Juli 2018 hingga sampai di Perairan Guam.
Ketika tengah berada di perairan berjarak 125 km dari pesisir utara Manado, Aldi ditemukan oleh kapal berbendera Panama MV Arpeggio, 31 Agustus.
“KJRI Osaka telah menjemput Aldi pada 6 September 2018 di Tokuyama, Prefektur Yamaguchi, Jepang setelah kapal bersandar untuk memastikan Aldi dalam kondisi yang baik dan selanjutnya mengawal hingga mendapat izin kepulangan ke Indonesia dari otoritas imigrasi Jepang,” jelas akun resmi KJRI Osaka.
Aldi Novel Adilang dijemput keluarganya. (Twitter/@naztaaa)
Pada 8 September 2018, KJRI Osaka telah mendampingi kepulangan Aldi ke Manado dengan Garuda Indonesia melalui Tokyo. Kini Aldi telah berkumpul dengan keluarganya di Wori, Manado, dan dalam keadaan sehat.
“KJRI Osaka mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu proses penyelamatan hingga kepulangan Aldi dengan selamat ke Tanah Air.”
Lewat unggahan foto terlihat tim penyelemat sempat memotret Aldi saat masih berada di rompong. Kemudian dirinya dievakuasi. Selanjutnya diperiksa oleh tim medis, yang didampingi petugas dari KJRI Osaka.
(iil/jpg/jpc/pojoksatu)

Categories
Aldi Novel Adilang minahasa Nasional

Ajaib! Terseret Ombak di Minahasa, Aldi Ditemukan di Jepang, 46 Hari di Laut

POJOKSATU.id, MINAHASA – Aldi Novel Adilang mendadak jadi perbincangan ramai di media sosial. Remaja 19 tahun ini baru saja mengalami kejadian dramatis yang nyaris merenggut nyawanya.
Aldi terseret ombak di Minahasa Utara, Sulawesi Utara hingga terdampar di lautan Jepang. Aldi terombang-ambing selama 46 hari di laut sebelum diselamatkan kapal berbendera Panama.
Kisah remaja asal Wori, Minahasa Utara itu diceritakan oleh Natanel Anastasye di akun Twitternya, @naztaaa pada Sabtu (22/9/2018).
Menurut Anastasye, peristiwa yang dialami Aldi terjadi pada bulan Juli lalu. Saat itu, Aldi baru saja selesai menangkap ikan di Pulau Doi, Ternate.
Kala itu, Aldi berada di dalam rumah rakit. Di dalam rumah rakit itu ada perlengkapan untuk bertahan hidup, misalnya generator, HT, beras, baju, dan kelengkapan dapur lainnya.
Rumah rakit ini biasanya buat tempat istirahat sesudah menangkap ikan. Aldi ini bertugas sebagai penjaga lampu agar nelayan gampang nyari patokan.
Pagi itu karena adanya angin kencang, tali rumah rakit lepas. Rakit Aldi terbawa arus. Aldi dan rumah rakit terseret ombak ke laut bebas.
Aldi Novel Adilang diselamatkan awak kapal berbendera Panama. ([email protected])
Aldi menghubungi temannya lewat HT kalau rakitnya lepas. Beberapa kapal penangkap ikan langsung mencari tapi tidak menemukannya.
“Namanya jg cuma ikut ikutan kalau diajak ke laut jadi pasti nggak bisa baca/tentukan koordinat. Mau ngasih patokan juga bingung karena semua laut,” tulis Anastasye.
“Ya kalau laut ada papan petunjuk atau perempatan. Ini sejauh mata memandang air gimana ngasih tahu lokasi. Makanya ada yang disebut kapten karena emang bisa baca posisi walau nggak ada kompas atau gps,” tambahnya.
Selama berhari-hari hanyut, dilakukan pencaharian tapi hasilnya nihil. Aldi bukannya tidak mencari pertolongan, dia tetap berusaha tapi kapal yang melintas tidak menggubris atau tidak kelihatan.
Aldi Novel Adilang. (Twitter/@naztaaa)
Hari berganti minggu. Aldi tetap terombang ambing di lautan bebas. Persediaan makanan sudah mau habis. Jadi biar survive dia mesti makan ikan mentah dan minum air laut. Aldi bahkan harus berjuang selamat dari kejaran ikan buas.
“Masuk minggu ketiga, Aldi melihat sirip ikan hiu yang mengitari rakitnya. Kayak di film kan ya, mitosnya hiu bisa muncul karena merasakan ketakutan gitu,” imbuhnya.
“Selama seharian itu hiu mengitari rakitnya. Setelah hiunya pergi eh nongol ikan raksasa segede gaban tapi cuma nongol separuh badan. ibarat abis lolos dari hiu eh muncul megalodon,” katanya lagi.
Aldi Novel Adilang menjalani pemeriksaan kesehatan.(Twitter/@naztaaa)
Aldi berusaha menenangkan diri. Banyak doa. Tapi tidak bisa dibawa tidur.
Minggu berganti bulan. Pada hari ke 46 sebuah kapal berbendera Panama lewat. Kapal ini sudah melewati rakit sejauh 1 mil. Melalui HT Aldi berusaha melakukan kontak. Kapten kapal bingung, lah kok ada sinyal kecil di tengah laut.
Kapten kapal kaget pas melihat ada rakit kecil mengapung. Sang kapten langsung menyuruh anak buahnya buat nolongin. Aldi langsung dikasih makan, diganti bajunya baru ditanya-tanyai. Saat itu, posisinya sudah ada di Perairan Guam.
Aldi Novel Adilang bersama kapten kapal yang menolongnya. (Twitter/@naztaaa)
Besok harinya sang kapten berbaik hati menghubungi kedutaan Indonesia terdekat. Setelah koordinasi, mereka diizinkan membawa Aldi berlabuh di Jepang.
Aldi dijemput KJRI Osaka di Tokuyama, prefektur Yamaguchi, Jepang. Izin kepulangan diurus sama otoritas imigrasi Jepang.
Pemerintah Jepang sangat kooperatif dan bekerja cepat membantu proses kepulangan Aldi ke Indonesia. Bahkan dibantu cek kondisi kesehatan dulu sebelum balik.
Aldi Novel Adilang dijemput keluarganya. (Twitter/@naztaaa)
Tanggal 8 September, KJRI Osaka mengantar Aldi ke Manado lewat penerbangan dari Tokyo naik Garuda Indonesia.
Aldi dijemput keluarganya dan saat ini sudah kembali ke Wori dengan keadaan sehat.
“Gue nemu kan kontak si Aldi terus klean tahu dia lagi ngapain sekarang? Melaut lagi. 2-3 hari ke depan baru balik,” pungkas Anastasye.

(one/pojoksatu)