Categories
Aksi 22 Mei Kerusuhan 22 Mei Nasional

Polisi Beberkan Penembak Misterius 22 Mei Berambut Gondrong Kulit Hitam, Orangnya…

POJOKSATU.id, JAKARTA – Hasil penyelidikan tim investigasi internal Polri menemukan saksi baru yang melihat penembak misterius saat rusuh 21 dan 22 Mei di Jakarta.
Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo menyampaikan, saksi tersebut berada di tempat kejadian perkara (TKP) Petamburan.
“Kemarin saksinya dua, nambah satu lagi. Sudah tiga orang saksi yang melihat kejadian tersebut dan hampir sama (ciri-ciri pelaku) tipe gondrong agak item,” kata Dedi, Jumat (12/7).
Saat ini tim masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dengan memproses sketsa wajah pelaku dengan ciri-ciri yang disebutkan para saksi. Ia pun meminta semua pihak bersabar.
“Belum selesai (sketsa). Nanti, kalau buru-buru tidak tertangkap,” ujarnya.
Pasalnya, sketsa wajah ini dilakukan lantaran dari hasil analisa CCTV tidak menunjukan pelaku penembakan melainkan hanya memperlihatkan ketika korban jatuh usai diterjang peluru.
Jika itu terekam oleh CCTV, kata Dedi, juga akan sedikit mempersulit karena kualitas gambar CCTV sangat rendah sehingga Polisi tidak bisa melakukan face recognation.
Ia pun menyebutkan, tak menutup kemungkinan pelaku penembakan lebih dari satu orang. Sebab sembilan korban tewas ditemukan di empat lokasi kejadian.
“Ya ada kemungkinan. Ada empat TKP,” katanya.
Saat menyampaikan rilis hasil perkembangan penyelidikan, Polri berhasil mengidentifikasi pelaku penembakan Harun Al Rasyid, salah satu korban yang tewas dalam aksi kerusuhan 21-22 Mei.
Berdasarkan keterangan saksi, Harun ditembak pelaku dari jarak dekat, yaitu 11 meter.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
22 mei rusuh Aksi 22 Mei Kerusuhan 22 Mei Nasional

Polisi Kewalahan Ungkap Dalang Kerusuhan 21-22 Mei, Ternyata Ini Alasannya

POJOKSATU.id, JAKARTA – Jika tidak ada aral melintang, tim investigasi internal Polri atas kerusuhan 21 dan 22 Mei akan menyampaikan hasil penyelidikannya pada pekan depan.
Tim akan menyampaikan mulai dari kronologi lengkap, kenapa kerusuhan bisa terjadi. Termasuk penyebab adanya sembilan korban tewas.
Namun demikian, Polri mengaku belum menemukan aktor intelektual di balik kerusuhan di Jakarta itu.
“Belum (sampai aktor intelektual), saya sampaikan bahwa proses penyidikan itu tidak seperti kita membalikkan telapak tangan,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (4/7).
Terlebih, sambung Dedi, penyidikan harus didukung dengan pembuktian berdasarkan scientific crime investigation. Artinya, pembuktian tidak cukup hanya dua alat bukti.
“Alat-alat bukti pendukung lainnya juga harus kita tampilkan semuanya ketika nanti dilimpahkan ke JPU (Jaksa Penuntut Umum). Itu clear,” ujarnya.
Dengan begitu, sambung Dedi, saat persidangan digelar dengan seluruh alat bukti yang ada, hakim memiliki keyakinan pada dalil yang disampaikan.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
22 mei rusuh Aksi 22 Mei Jokowi Kerusuhan 22 Mei Nasional

Nasdem Minta Jokowi Ungkap Pelaku Pembunuhan 9 Orang Tewas 22 Mei sebelum Dilantik, Ada Bahaya Besar

POJOKSATU.id, JAKARTA – Presiden Joko Widodo harus mengungkap pelaku pembunuhan terhadap sembilan orang di kawasan Bawaslu, Jakarta pada 21 dan 22 Mei 2019. Siapa-siapa saja pelakunya harus dipastikan. Setelah itu pelakunya harus diproses secara hukum, termasuk kepada atasan dan komandan pelaku.
“Sebagai Capres yang sudah ditetapkan oleh KPU sebagai presiden terpilih, sebelum dilantik pak Jokowi perlu dibersihkan dari beban kematian sembilan orang anak bangsa kemarin,” ujar politisi Partai Nasdem, Kisman Latumakulita, Rabu (3/7)
Dijelaskan Kisman, hampir dipastikan peristiwa kematian sembilan orang itu sudah diketahui jaringan intelejen dunia melalui satelit dan google.
Para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) internasional juga mengetaui kenyataan ini. Peristiwa ini bisa menjadi beban pemerintah Jokowi di priode kedua nanti.
“Menemukan pelaku pembunuhan sembilan orang ini sangat penting dan strategis bagi pak Jokowi. Supaya ke depan, tidak menjadi beban politik yang menyandra pak Jokowi di mata masyarakat internasionbal, khususnya para pegiat HAM,” ujar Kisman mengingatkan
Ditambahkan Kisman, komunitas internasional, khususnya pegiat HAM dan lingkungan, biasanya suka mengaitkan, bahkan sampai menekan pemerintah atau lembaga keuangan internasional agar tidak memberikan pinjaman atau bantuan keuangan kepada pemerintah dari negara yang dinilai melanggar HAM dan merusak lingkungan.
Kenyataan ini sudah dialami bebarapa perusahaan raksasa atau konglomerat Indonesia. Produk mereka seperti minyak sawit diboikot di pasar internasional. Mereka juga gagal mendapatkan pinjaman dari bank papan Amerika Serikat Citibank karena dianggap merusak lingkungan.
Kasus boikot dari Amerika dan Uni Eropa terhadap minyak sawit Indonesia harus dijadikan pelajaran berharga. Penyebabnya Indonesia dituduh merusak lingkungan karekla membakar lahan hutan perkebunan sawit.
“Kematian sembilan orang di depan Bawaslu ini, jangan sampai dijadikan alasan Indonesia dutuduh pelanggar HAM seperti era di Orde Baru,” kata Kisman
Semoga tidak ada lagi pemboikotan dari masyarakat internasional terhadap produk ekspor Indonesia hanya karena dituduh melanggar HAM. Apalagi pemerintah Jokowi pada 2018 kemarin mendapat repor merah dari Konas HAM Indonesia terkait buruknya penegakan HAM di Indonesia.
“Untuk itu, sebaiknya sebelum dilantik pada 20 Oktober 2019 sebagai presiden Indonesia periode 2019-2024, Pak Jokowi harus memastikan dulu siapa-siapa saja pelaku pembuhanan sembilan orang di depan Bawaslu. Targetnya, agar pelakunya segera diproses secara hukum, termasuk kepada komandan dan atasan pelaku yang diduga memerintahkan,” himbau Kisman
Al-Quran memerintahkan setiap muslim untuk menyelamatkan setiap nyawa manusia. Sebab menyelamatkan setiap nyawa manusia, sama artinya dengan menyelamatkan seluruh nayawa manusia.
Sebaliknya, menghilangkan satu nyawa manusia, sama artinya dengan menghilangkan seluruh nyawa manusia
“Keanehan terkait dengan kematian sembilan orang di depan Bawaslu, karena Kapolri Tito Karnavian telah memerintahkan seluruh aparat keamanan untuk tidak menggunakan peluru tajam saat mengamankan demonstrasi di depan Bawaslu 21 dan 22 Mei 2019. Pertanyaan, apakah sembilan orang yang meninggal tersebut akibat terkena peluru tajam atau peluru karet dan peluru hampa?” tanya Kisman
Bila kematian ini akibat terkena peluru tajam, maka patut diduga ada institusi negara lain di luar kepolisian dan TNI yang ikut bermain di air keruh menunggangi peristriwa ini. Untuk itu, Jokowi harus dan terlibat menyelesaikan masalah ini agar tidak menjadi beban pada priode kedua.
“Konstitusi negara Pembukaan UUD 1945 memerintahkan negara melindungi seluruh tumpah darah Indonesia tanpa kecuali. Untuk itu, negara yang dewakili oleh pemerintah mutlak harus melakukan segala upaya untuk menemukan pelaku pembunuhan sembilan orang tersebut. Jika tidak, berpotensi Indonesia akan dikucilkan masyarakat internasional,” kata Kisman.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
Aksi 22 Mei Kerusuhan 22 Mei Nasional

Polisi Hampir Temukan Penembak Korban Rusuh 22 Mei, Peluru Teridentifikasi, Tapi…

POJOKSATU.id, JAKARTA – Hasil penyelidikan tim investigasi Polri terkait korban tewas kerusuhan 21-22 Mei yang diketuai oleh Irwasum Polri, Komjen Moechgiyarto baru sebatas mengidentifikasi proyektil peluru yang bersarang di tubuh korban.
Sedangkan untuk senjata yang digunakan, tim investigasi masih belum menemukannya.
“Untuk senjata belum ya. Kalau proyektil udah selesai, kaliber 5.56 dan 9 mm,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (26/6).
Lebih jauh, Dedi masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan korban yang tewas sudah dieksekusi terlebih dahulu di tempat lain kemudian baru dibawa ke TKP kerusuhan.
“Tentang itu nanti secara komprehensif tim investigasi gabungan akan rilis bersama Komnas HAM, Ombudsman, dan Kompolnas, soalnya harus sinergi. Tolong tanya Komnas HAM, berapa lama untuk melakukan investigasi itu, kalau Polri sudah,” ujar Dedi.
Jika semua institusi negara yang memiliki fungsi pengawasan itu telah rampung penyelidikannya, maka nantinya seluruh data akan dipadukan.
“Pada saat rilis nanti akan ada klarifikasi-klarifikasi data yang dimiliki mereka, hasil investigasi gabungan,” tandasnya.
Seperti diketahui, dalam insiden kerusuhan 21-22 Mei lalu, sebanyak sembilan orang dinyatakan meninggal dunia. Empat dari total korban jiwa tersebut diketahui meninggal karena tertembak peluru tajam.
(dik/rmol/pojoksatu)

Categories
Aksi 22 Mei hasil survei Nasional

Survei Terkini: Sempat Rusuh 22 Mei, Tak Disangka Masyarakat Puas Hasil Demokrasi Indonesia

POJOKSATU.id, JAKARTA – Masyarakat Indonesia secara umum masih memiliki tingkat kepuasan cukup tinggi terhadap perjalanan demokrasi yang terjadi di Indonesia saat ini.
Begitu dikatakan peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Sirojuddin Abbas dalam rilis survei Kondisi Demokrasi dan Ekonomi Politik Nasional Pasca Peristiwa 21-22 Mei di Kawasan Cikini, Menteng, Jakarta, Minggu (16/6).
“Angka yang kami peroleh, 59 persen masyarakat cukup puas dengan jalannya demokrasi, 7 persen merasa sangat puas, 26 persen kurang puas dan 4 persen sama sekali tidak puas,” ujar Abbas.
Tak hanya pasca peristiwa 21-22 Mei, Abbas juga menyebutkan bahwa demokrasi juga terjadi pada Pemilu 2019. Dari temuannya, masyarakat Indonesia menganggap Pemilu yang baru saja berlalu berlangsung dengan jujur dan adil.
“69 persen masyarakat beranggapan Pemilu 2019 sudah jurdil, angka ini sedikit lebih rendah dari Pemilu 2014, yaitu 70,7 persen,” jelasnya.
Survei tersebut dilakukan dalam periode 20 Mei-1 Juni 2019 dengan ditetapkan 1.220 responden dari seluruh Indonesia dengan usia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Dari jumlah sampel itu, hanya 1.078 sampel dapat dilakukan wawancara.
Metode yang dipakai dalam survei adalah simple random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan toleransi kesalahan plus minus 3,05 persen.
(dik/rmol/pojoksatu)

Categories
Aksi 22 Mei Jokowi Nasional

Menteri Jokowi Bela Mantan Danjen Kopassus Diduga Rencanakan Makar 22 Mei

POJOKSATU.id, JAKARTA – Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menyebut senjata api (senpi) yang menyeret mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko sebagai tersangka, bukan barang selundupan.
“Saya rasa bukan penyelundupan ya, senjata sudah ada dari dulu. Kan dia (Soenarko) perang terus itu orang, tim-tim di Aceh, mungkin senjata rampasan di situ,” ucap Ryamizard, Rabu (29/5/2019).
Namun, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu enggan menanggapi lebih jauh soal dugaan keterlibatan Soenarko dalam kerusuhan 22 Mei lalu.
“Saya tidak tahu,” tukasnya.
Jenderal TNI (Purn) itu menyatakan sejak awal mendorong pihak-pihak terkait dalam Pemilu untuk menunggu keputusan KPU. Kalau ada indikasi kecurangan, tinggal dibuktikan di mana kecurangannya.
Ke depan dia berharap penyelesaian sengketa Pemilu diselesaikan secara konstitusional, bukan dengan kerusuhan.
“Saya tidak suka terjadi kerusuhan. Mudah-mudahan enggak lah, cukup kemarin itu ya,” tandasnya.
(fat/jpnn/pojoksatu)

Categories
Aksi 22 Mei kerusuhan jakarta Nasional

Aktifis 98 Laporkan 9 Tokoh yang Diduga Aktor Kerusuhan 22 Mei, Ada Nama Prabowo dan Habib Rizieq

POJOKSATU.id, JAKARTA- Aktifis 98 mendatangi gedung Bareskrim Polri. Kedatangan mereka untuk melaporkan 9 tokoh yang diduga sebagai dalang kerusuhan 21- 22 Mei.
Ketua Aktifis 98, Said Junaidi menegaskan 9 tokoh ini diduga kuat sebagai aktor intelektual kerusuhan 21- 22 Mei.
“Kami mendesak hari ini dengan laporan resmi kami. Polri harus berani menangkap para aktor dan dalang kerusuhan aksi 22,” kata Said di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (29/5).
Sembilan tokoh yang dimaksud Junaidi yaitu Prabowo, Amin Rais, Titik Suharto, Bachtiar Nasir, Haikal Hasan, Kivlan Zen, Fadli Zon, Neno Warisma, Rizieq Shibab.
Menurutnya, para tokok tersebut telah memframing sejak awal bahwa Pemilu 2019 merupakan pemilu penuh dengan kecurangan.
“Awal kerusuhan ini adalah rangkaian. kata curang yang diframing  sejak awal karena ketidaksiapan Probowa cs menerima kekalahan,” ungkapnya.
Karena itu, Junaidi menilai, bahwa beberapa tokoh yang telah diamankan Polri belakangan ini hanyalah merupaan anak buah dari 9 tokoh aktor intelektual kerusuhan 22 Mei.
“Yang tetangkap hari ini itu adalah operator lapangan. Mereka hanya pion di lapangan,” ungkapnya.
Diketahui, dalam kerusuha 22 Mei tercatat hampir ratusan menjadi korban kerushan. Sementara 8 korban yang meninggal.
Hingga saat ini kurang lebih 257 tersangka yang diduga sebagai profokator yang diamankan Polda Metro Jaya.
(fir/pojoksatu)

Categories
Aksi 22 Mei gerindra Nasional

4 Tokoh Nasional Ini Mau Dibunuh, Gerindra: Kami Diancam Dibunuh, Pelakunya Bebas Aja

POJOKSATU.id, JAKARTA – Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengaku tidak mengetahui pihak yang berencana membunuh sejumlah tokoh nasional.
Pernyataan Fadli itu sebagai respons atas keterangan Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian tentang adanya plot pembunuhan terhadap Wiranto, Lutuh Pandjaitan, Budi Gunawan dan Gories Mere dalam rusuh 21 – 22 Mei 2019.
“Saya tidak tahu siapa yang melakukan ancaman itu. Siapa yang mau melakukan?” kata Fadli di gedung DPR, Jakarta, Selasa (28/5).
Wakil ketua umum Partai Gerindra itu justru mengaku pernah diancam bakal dibunuh. Fadli menerima ancaman itu melalui akunnya di Twitter.
“Kalau saya memang ada yang mengancam. Ada yang mau membunuh saya kemarin,” tuturnya.
Fadli mengaku sudah melaporkan ancaman hal itu ke polisi, tetapi tak ada kabar tentang tindak lanjutnya.
“Kalau tidak salah minggu lalu itu ada di twit atas nama Cindy, kemudian beberapa tahun lalu juga ada dan juga tidak diapa-apakan,” paparnya.
(boy/jpnn/pojoksatu)

Categories
Aksi 22 Mei Nasional tokoh nasional

Mau Dibunuh, 4 Tokoh Nasional Ini Langsung Dikawal Ketat

POJOKSATu.id, JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian membocorkan nama-nama pejabat negara yang menjadi sasaran rencana pembunuhan yang semula akan memanfaatkan kerusuhan 21 – 22 Mei 2019.
Menurut Tito, nama yang diancam akan dibunuh di antaranya yakni Menko Polhukam Wiranto dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan.
“Itu mereka menyampaikan nama, di antaranya Pak Wiranto, Pak Luhut, Pak Kepala BIN (Budi Gunawan), dan Pak Gories Mere dan pimpinan sejumlah pemimpin lembaga survei yang tidak saya sebut namanya,” kata Tito ditemui di kantor Kemenko Polhukam, Selasa (28/5) ini.
Menurut Tito, polisi mendapat informasi nama-nama pejabat negara yang terancam pembunuhan itu dari hasil penyelidikan.
Polisi sedikitnya menangkap lima orang terduga pelaku pembunuhan pejabat negara.
“Dasar kami BAP (Berita Acara Pemeriksaan). Itu resmi. Pro justitia. Bukan karena berdasarkan informasi intelijen,” ucap mantan Kapolda Metro Jaya itu.
Atas informasi itu, polisi segera menindaklanjuti. Polisi memberikan pengamanan ekstra kepada sosok yang diancam akan dibunuh oleh perusuh 22 Mei 2019.
“Kami begitu ada informasi selalu memberikan pengawalan,” pungkas dia.
(mg10/jpnn/pojoksatu)

Categories
Aksi 22 Mei Nasional

Ada Internal Polri Pinjami Atribut Petugas untuk Perusuh Aksi 22 Mei?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengungkap ada rencana untuk memfitnah aparat kepolisian dalam aksi rusuh 22 Mei lalu di Jakarta.
Pasalnya, selain menyita senjata api laras panjang dan pendek, petugas juga mendapati rompi antipeluru dengan tulisan polisi.
Diduga, rompi akan dipakai pelaku dan menembaki massa. Sehingga muncul dugaan polisi sengaja menembaki massa.
Rompi antipeluru tersebut disita dari tersangka HK alias Iwan yang berencana berbaur dengan ribuan peserta aksi unjuk rasa 21 Mei 2019 di depan gedung Bawaslu RI.
“Kami sedang dalami apakah ada kaitannya dengan kelompok ini yang mencoba meminjam profesi kami dan melakukan kekerasan di lapangan,” kata Iqbal kepada wartawan, Senin (27/5).
Polri juga mengungkap HK akan berbaur sambil membawa senjata api jenis revolver taurus 38 pada aksi unjuk rasa tersebut.
Diketahui, Polri menetapkan tersangka dengan inisial HK alias Iwan, AZ, IR, dan TJ sebagai eksekutor.
Sementara tersangka AD dan satu perempuan berinisial AF alias Vivi berperan sebagai penjual senjata api.
Iqbal mengatakan, komplotan kali ini berbeda dengan kelompok-kelompok yang sebelumnya telah diidentifikasi memanfaatkan momentum aksi unjuk rasa 21-22 Mei 2019 untuk menjalankan agenda tertentu.
“Ada dua kelompok yang memanfaatkan aksi 21-22 Mei untuk melaksanakan agendanya, kali ini beda dengan apa yang disampaikan Menko Polhukam dan Kapolri beberapa waktu lalu,” tegasnya.
Kemudian, masih ada kelompok teroris yang sebelumnya sudah ditangkap Densus 88 Antiteror.
“Mereka (teroris) mengakui memanfaatkan momentum demokrasi untuk mengganti sistem demokrasi itu,” tandas Iqbal.
(cuy/jpnn/pojoksatu)