Categories
AHY andi arief Daftar Pemilih Tetap (DPT) demokrat Mahkamah Konstitusi Nasional prabowo-sandi sby

Andi Arief Serang Prabowo-Sandi: Demokrat Dituduh Abu-abu karena Tak Mau Gabung Bohongi Rakyat Soal DPT

POJOKSATU.id, JAKARTA – Serangan keras dilontarkan Andi Arief yang ia tujukan untuk kubu Prabowo-Sandi. Hal itu berkendaan posisi Partai Demokrat dalam koalisi 02.
Serangan keras itu dilontarkan Andi Arief melalui akun Twitter pribadinya, Rabu (19/6/2019).
Anak buah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menyatakan, selama ini Partai Demokrat dituduh sebagai partai abu-abu.
Bahkan, serangan itu juga ditujukan kepada Ketua Umum Partai Demokrat, SBY dan Kogasma Partai Demokrat AHY.
Tak hanya itu, serangan juga ditujukan kepada almarhum Ani Yudhoyono saat masih mejalani perawatan medis di Singapura.
“Partai Demokrat dituduh abu-abu, SBY dan AHY dianggap penghianat, Ibu Ani dibilang pura-pura sakit,” cuitnya.
Politisi yang menjadi orang dekat keluarga SBY itu lantas menyebut bahwa semua itu dikarenakan sikap Partai Demokrat selama ini.

Yakni tidak mau bergabung dalam upaya membohongi rakyat dengan memakai isu kecurangan terkait daftar pemiliih tetap (DPT) Pemilu 2019.
“Hanya karena tidak mau bergabung dalam upaya membohongi rakyat dengan isu curang sistematis yang payungnya DPT,” tegasnya.
Sosok yang pernah menyebut Prabowo Subianto sebagai jendral kardus itu juga menyatakan, bahwa keterangan saksi Prabowo-Sandi di MK, Agus Maksum, sama sekali tidak dapat dipercaya.
Karena itu, ia meminta Agus Maksum dan BPN Prabowo-Sandi harus ikut bertanggungjawab atas kebohongan atas tudingan DPT sebagai payung kecurangan.
“Agus Maksum dan BPN harus bertanggung jawab atas tuduhan DPT sebagai payung kecurangan,” katanya.
Andi Arief menyebut, kesaksian Agus Maksum soal kejanggalan DPT Pilpres 2019 tak lebih hanyalah sebuah bualan alias kebohongan.

“Jutaan rakyat “tertipu’ bahkan ada yang lakukan tindakan tidak rasional karena mempercayai informasi itu,” lanjutnya.
Andi Arief menambahkan, dengan mempercayai Agus Maksum, sama artinya dengan mempercayai akun anonim media sosial pendukung Prabowo-Sandi.
“Mempercayai Agus Maksum sama dengan mempercayai akun anonim yang selama ini mendukung 02,” katanya.
Andi Arief lantas menyarankan agar MK langsung melanjutkan pemeriksaan terhadap Said Didu terkait status BUMN.
Alasannya, kualitas saksi dan materi selanjutnya tidak akan relevan terhadap tudingan kecurangan dimaksud.
“Karena payung kecurangan DPT yang didengung-dengungkan sudah hancur. Dibohongi Agus Maksum,” tulis Andi Arief.

(ruh/pojoksatu)

Categories
AHY Nasional Partai Demokrat

AHY Disebut Saatnya Naik Kelas Jadi Ketum Partai Demokrat, Lewat KLB?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono tepat menggantikan sang ayah, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ketua umum Partai Demokrat pada Kongres Partai Demokrat 2020.
“AHY ini sudah saatnya naik kelas, tapi bukan melalui KLB. Kalau enggak sekarang ya dia tidak akan meningkat skill politiknya,” kata pengamat politik, Adi Prayitno, Selasa (18/6).
Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat 2019 yang diwacanakan sebagian kecil kader, bukan momen yang tepat untuk AHY naik kelas jadi ketum.
“Seandainya terlaksana, KLB ini tidak bagus juga bagi AHY untuk menjadi penerus estafet SBY di Partai Demokrat,” sebut Adi.
Dia menilai KLB merupakan tindakan yang dapat dilakukan partai politik ketika menghadapi kondisi tertentu untuk menyelamatkan partai.
“KLB ini kan image-nya seram, misalnya dilakukan oleh Partai Golkar waktu ketua umum mereka Setya Novanto terjerat kasus korupsi,” jelasnya.
“Sedangkan bagi Partai Demokrat tidak terlalu sigfikan alasan untuk KLB karena hanya dimunculkan sebagai kekecewaan sejumlah kader mereka terhadap penurunan prestasi di Pemilu 2019 dibandingkan tahun 2014,” ujar Adi menambahkan.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
AHY Nasional Partai Demokrat sby

SBY dan Sekjen Diserang, AHY Dipuji-puji, Inikah Tujuan Petinggi Demokrat?

SBY dan Hinca Diserang, AHY Dipuji, Apa Maksud Petinggi Partai Demokrat Ini?
POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua DPP Partai Demokrat Subur Sembiring mengaku salut dengan kinerja putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.
AHY, dikatakannya berhasil mengkonsolidasikan kader partainya untuk meraih kesuksesan partai saat Pileg dan Pilpres 2019 lalu.
“Saya salut dan bangga kepada Pak AHY sebagai Ketua Kogasma merespons pileg dan pilpres ketika menerima amanah itu,” ujarnya, Minggu (16/6/2019).
Menurutnya, AHY benar-benar memberikan bantuan dukungan kepada kader partai yang berjuang masuk ke parlemen.
“Nyata betul perjuangannya juga untuk membantu teman-teman caleg dalam hal petunjuk-petunjuk yang diberikan,” ungkapnya.
Subur justru membeberkan kesalahan Ketua Umum SBY yang dianggapnya menyalahi konsititusi partai.
Ia menyampaikan SBY telah melakukan kesalahan ketika memberikan mandat tugas pengurus harian DPP PD para Februari 2019 lalu kepada Sekjen Hinca Panjaitan.
Padahal menurutnya tugas itu berdasarkan aturan partai seharusnya diserahkan kepada Waketum.
“Ketika mandat diberikan kepada seorang sekjen, maka sesungguhnya hal ini telah menyimpang dari konstitusional partai,” kata dia.
SBY memang saat itu tengah memfokuskan pikiran dan tenaganya untuk mendampingi Ani Yudhoyono menjalani perawatan sakit kankernya di Singapura.
Hinca juga ternyata, ungkap Subur, tidak menjalankan tugasnya dengan baik sesuai konstitusi partai.
Ia merasa tidak pernah diajak rapat sebagai bagian dari pengurus struktur tinggi Demokrat.
“Selama empat bulan sekjen menerima amanah tersebut kita ketahui, saya sebagai Ketua DPP PD, tidak pernah ada rapat-rapat menyangkut soal kegiatan internal PD dan tidak pernah ada juga petunjuk-petunjuk langsung yang beliau sampaikan tentang bagaimana seorang pelaksana harian PD menjalankan roda organisasi dan membesarkan PD,” bebernya.
Ia bahkan kecewa berat, bukan hanya menyalahi aturan, Hinca juga disebutnya tidak melakukan tugasnya dengan baik.
“Sebagai pelaksana harian, Sekjen DPP PD Hinca Pandjaitan saya harus katakan Anda tidak berbuat apa-apa,” tegasnya.
Belakangan isu digelarnya Kongres Luar Biasa digulirkan demi memulihkan kondisi internal partai yang dianggapnya sudah di luar jalur.
Sejumlah elite penting Partai Demokrat membentuk Geralan Moral Penyelamat Partai untuk memberikan arah baru bagi partai yang dipimpin SBY itu. Salah satu elite di dalamnya adalah Max Sopacua.
Adakah KLB digulirkan demi mengupayakan kepemimpinan baru di tubuh internal agar Partai menjadi jelas sikap dan arahnya di dalam dinamika politik terkini?
(sta/pojoksatu)

Categories
AHY ani yudhoyono Foto Kaesang Pangarep Nasional Partai Demokrat sby Singapura

Melayat Ani Yudhoyono, Kaesang Bikin Elite Demokrat Angkat Topi: Anak Muda Berbudi

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kedatangan Putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) melayat Ani Yudhoyono di Singapura mendapat apresiasi tinggi dari elite Partai Demokrat.
Wakil Sekjen Partai Demokrat, Andi Arief, yang biasa melontarkan kritik pedas kepada Jokowi pun ‘mengangkat topi’ kepada Kaesang.
Menurutnya, Kaesang adalah sosok pemuda yang sederhana. Terlebih, Kaesang memilih ikut mengantri bersama masyarakat Indonesia di Singapura yang juga ikut melayat di KBRI.
Demikian disampaikan Andi Arief melalui akun Twitter pribadinya, Minggu (2/6/2019).

“Setelah shalat jenazah Ibu Ani di mesjid KBRI Singapura, ada anak muda yang sederhana setengah duduk mencium tangan Pak SBY, lalu SBY berdiri memeluknya,” cuitnya.
“Anak muda itu sebelumnya mengantri bersama masyarakat untuk mendoakan Ibu Ani, anak itu namanya @kaesangp,” lanjut Andi Arief.
Pujian serupa juga datang dari Wakil Sekjen Partai Demokrat, Rachlan Nasidik yang mangaku sampai terharu melihat sikap Kaesang saat itu.
“Kemarin, saat Jenazah Ibu Ani dishalatkan di Mesjid KBRI, Kaesang datang. Ia antri menunggu,” tulisnya dalam akun Twitter @RachlanNashidik, Minggu (2/6).
Usai ikut mengantri, Kaesang pun mendekati SBY untuk menyampaikan rasa duka cita dengan mencium tangan SBY.

“Saat giliran tiba, ia menunduk takzim dan mencium tangan Pak SBY,” lanjutnya.
Hal yang sama, lanjutnya, juga akan dilakukan Kaesang kepada Ibas dan AHY, yakni mencium tangan. Akan tetapi, kedua putra SBY itu langsung memeluk Kaesang.
“Ia bahkan akan mencium tangan EBY dan AHY tapi langsung dipeluk. Anak muda berbudi. Saya terharu menyaksikan momen itu,” ungkap Rachland.
Untuk diketahui, Kaesang Pangarep datang ke KBRI Singapura, Sabtu (1/6) bersama masyarakat Indonesia disana untuk menyampaikan belasungkawa.
Saat itu, ia memakai celana jeans warna biru muda dan kaos lengan panjang warna biru dongker.
Dari foto yang beredar, Kaesang pun tampak menunduk usai bersalaman dengan SBY dan kedua putranya.
Kaesang melayat Ani Yudhoyono di KBRI Singapura. Foto ANTARA FOTO
(ruh/pojoksatu)

Categories
AHY Jokowi Nasional sby

SBY Kecewa Berat: Habis Ketemu Jokowi, AHY Dibully dengan Sadis dan Kejam

POJOKSATU.id, JAKARTA – Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut ada pihak yang tidak senang bila Joko Widodo dan Prabowo Subianto bertemu.
“Ada yang bersikap, bahwa adalah tabu dan dilarang keras pihak 02 berkomunikasi dengan 01, atau sebaliknya,” kata SBY dalam rekaman video yang diputar dalam acara buka puasa bersama Partai Demokrat, Senin (27/5).
Selain menyebut ada pihak-pihak yang ‘mengharamkan’ pertemuan itu. SBY dalam kesempatan yang sama juga menyinggung soal adanya kalangan tertentu yang menyerang dirinya maupun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Partai Demokrat.
Menurut SBY, hal tersebut terjadi usai anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.
“Akibat pertemuan itu, AHY, SBY, dan Partai Demokrat diserang habis oleh kalangan tertentu,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dalam pertemuan dengan Jokowi, AHY tidak mewakili langsung Partai Demokrat dan tidak merepresentasikan kubu capres Prabowo. Selain itu, AHY juga tidak membicarakan kursi di pemerintahan maupun silang pendapat di KPU.
SBY melanjutkan, dalam pertemuan itu, AHY juga menyampaikan bahwa Jokowi berharap bisa memelihara komunikasi dengan dirinya.
SBY menilai harapan itu sama seperti substansi pertemuan Jokowi dengan para mantan presiden yang lain, baik B.J. Habibie maupun Megawati Soekarnoputri.
Selain itu, masih menurut SBY, pertemuan Jokowi dengan AHY terjadi lantaran dirinya belum bisa kembali ke tanah air, karena menemani Ani Yudhoyono yang sedang dirawat di Singapura.
“Segera setelah pertemuan itu, saya tahu AHY ‘dibully’ dengan kata-kata yang sadis dan kejam,” pungkasnya.
(aza/rmol/pojoksatu)

Categories
AHY andi arief demokrat hasil Pemilu 2019 hasil pilpres 2019 Nasional prabowo-sandi sby twiter

Andi Arief Lempar Sindiran, “Demikian Petuah Ini buat Para Ulat Bulu dan Buaya Manjat”

POJOKSATU.id, JAKARTA – Politisi Partai Demokrat Andi Arief kembali bersuara dan melontarkan sindiran. Kali ini, ia bicara soal kekalahan dalam sebuah kompetisi pemilihan umum.
Kendati tak secara jelas kepada siapa sindiran itu ditujukan, tapi ia mengindikasikan membalas cercaan yang ditujukan kepada Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Kogasma Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Orang dekat keluarga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mengaku, baru pemilu kali ini ada calon yang kalah, bukan lantaran kalah suara.
“Sepanjang pemilu yang pernah ada, baru kali ini nasib atau kekalahan calon disebabkan tokoh lain yang tidak ikut berkompetisi,” cuitnya di akun @AndiArief__, Jumat (17/5/2019).
Andi Arief juga sepertinya menyindir pihak-pihak yang selama ini menganggap Ketua Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai pengkhianat koalisi Prabowo-Sandi.
“Bahkan anak tokoh lain itu juga disalahkan. Sedemikian lemahkah calonmu?” sindirnya.
Sebaliknya, Andi Arief menyebut bahwa ‘kekalahan’ tersebut tidak lain dari buah calon yang dijagokan.
“Ini perang calonmu. Bukan perang orang lain. Salahkan calonmu kalau tidak sanggup berperang,” sindirnya lagi.
Seperti mengulangi peristiwa ‘jendral kardus’, Andi Arief pun kembali mengungkap situasi saat dipilihnya Sandiaga Uno oleh Prabowo Subianto.
“Perang itu merangkul yg bisa membawa kemenangan, bukan merangkul yang punya uang,” tulisnya.
Sebagai ciri khas-nya, Andi Arief pun membuat istilah baru. Jika sebelumnya ‘setan gundul’ kali ini ‘ulat bulu’ dan ‘buaya manjat’.
“Demikian petuah ini buat para ulat bulu dan buaya manjat,” tegasnya.
Ia juga lantas melontarkan saran agar tak usah menyalahkan orang lain atas kekalahan dalam sebuah pemilu.
Sebalikya, ia menyarankan untuk melampiaskan kemarahan dan cemooh kepada jagoannya sendiri.
“Marah dan umpatlah calonmu yang menjadi sumber kakalahan ini. Itulah cara move on,” katanya.
Andi Arief juga menegaskan, adalah sebuah kesalahan jika melontarkan umpatan dan amarah kepada SBY dan AHY atas sebuah kekalahan.
“Selama salah alamat umpatan mu -pada SBY dan AHY- maka hidupmu semakin sempit di dalam ruang yang sudah sempit,” ingatnya.
Karena itu, Andia Arief menyarankan agar banyak belajar kepada SBY dan AHY serta Demokrat.
“Tidak jumawa saat SBY menang dua pilpres, tidak patah saat AHY kalah di Pilgub DKI,” tutupnya.
(ruh/pojoksatu)

Categories
AHY Jokowi Nasional Pilpres 2019

AHY Ketemu Jokowi Pasca Pilpres, “Saya Rasa Jatah Politik Wajar Saja”

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pertemuan antara Komandan Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY dengan Presiden Jokowi dinilai mampu mendinginkan suasana pasca Pemilu 2019.
Sebab, pertemuan keduanya dianggap ampuh meredakan suhu politik yang memanas.
Hal itu diungkapkan pengamat politik, Veri Muhlis Arifuzzaman dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (4/5).
“Di tengah nuansa sisa-sisa panas Pilpres, pertemuan para pemimpin kekuatan politik bisa meredakan suasana,” kata Veri.
Menurut Veri, apabila pasca pertemuan tersebut muncul asumsi dan tudingan yang mengarah pada dugaan bagi-bagi jatah kursi kementerian merupakan hal wajar.
Sebab, sikap para petinggi partai politik sudah semestinya bersikap rasional dan menenteramkan suasana gaduh.
“Itu hal wajar, sepanjang tujuannya adalah kerukunan politik yang muaranya pada kerukunan warga dan pendukung kedua kubu. Saya rasa jatah-jatahan kursi politik model begitu bisa dipahami,” jelasnya.
Direktur Lembaga Survei Konsep Indonesia ini menambahkan, agenda strategis nasional ke depan ialah menjaga persatuan dan kesatuan. Karenanya, Veri meminta kepada kedua kubu baik 01 maupun 02 menerima kekalahan dengan legowo.
“Yang kalah harus legawa dan yang menang wajib merangkul yang kalah. Merangkul yang kalah, akan merekatkan pendukung,” tutur Veri.
Lebih lanjut, Veri meminta masyarakat khususnya kedua pendukung pasangan calon untuk menerima apa yang nantinya akan menjadi keputusan final dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Sebab, keharmonisan antar warga bangsa merupakan hal mutlak yang tidak dapat ditolerir lagi.
“Setelah rekapitulasi dan keputusan KPU keluar, siapapun yang kalah wajib mengakui hasilnya. Terpilih atau tersingkir adalah hal biasa. Semua pihak mesti saling mengakui dan saling menghormati,” ujar Veri.
(dik/rmol/pojoksatu)

Categories
AHY demokrat Jokowi-Ma'ruf Megawati Soekarnoputri Nasional PDIP sby

Kans Demokrat Gabung Jokowi-Ma’ruf Besar, Asal SBY dan Megawati…

POJOKSATU.id, JAKARTA – Pertemuan empat mata antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bukan tidak mungkin menjadi pintu masuk Demokrat masuk ke pemerintahan.
Demikian disampaikan pengamat politik Ujang Komarudin dikutip PojokSatu.id dari JawaPos.com, Jumat (3/5/2019).
Menurutnya, pertemuan antarelite yang dilakukan pasca Pemilu 2019 bisa jadi menentukan arah koalisi untuk lima tahun pemerintahan ke depan.
“Masuknya Demokrat ke koalisi pemerintah memang sangat mungkin terjadi,” tuturnya.
Akan tetapi, Ujang menyebut ada dua tantangan yang harus bisa dilewati partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu untuk bisa benar-benar masuk ke dalam pemerintahan.
“Pertama, Demokrat harus bisa membangun komunikasi yang baik dengan partai pengusung Jokowi. Sebab, harus diakui bahwa Demokrat tidak ikut berdarah-darah dalam proses pemenangan,” bebernya.
Tantangan kedua, tentu saja partai berlambang bintang mercy itu mau tak mau harus membangun komunikasi dengan PDI Perjuangan dan juga Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum-nya.
Di tantangan kedua inilah, kata Ujang, menjadi tantangan tersulit mengingat hubungan SBY dan Megawati yang hingga kini masih meninggalkan ganjalan di masing-masing pihak.
“Sudah menjadi rahasia umum bahwa hubungan Megawati dengan Demokrat, khususnya SBY tidak terlalu harmonis. Pada titik itu, kita patut menunggu kelihaian lobi Partai Demokrat,” jelasnya.
Meski sulit, sambung Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu, dalam politik tidak ada yang mustahil.
“Kuncinya ada pada lobi. Apalagi, jika merujuk pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang menginginkan 80 persen suara di parlemen. Kans masuknya Demokrat sangat terbuka,” ulas dia.
Ujang juga menyebut, selain Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN) juga memiliki kans yang sama besa bergabung ke kubu Jokowi-Ma’ruf.
“Apalagi, secara historis, PAN memiliki kedekatan (dengan kubu Jokowi),” ungkapnya.
Jika skenario tersebut terealisasi, sambung Ujang, maka posisi oposisi di parlemen tinggal menyisakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerindra saja.
Secara historis, kans kedua partai itu untuk masuk ke kubu Jokowi memang relatif sulit.
“Terlebih jika melihat pertarungan keras yang tampak kuat di hadapan publik. Namun, sekali lagi, politik sangat cair. Apa pun bisa terjadi,” tutupnya.
(ruh/pojoksatu)

Categories
AHY Jokowi Nasional Pilpres 20198

AHY Gak Mau Buka-bukaan Ungkap Hasil Pertemuan dengan Jokowi, tapi Ada Saran Menarik, Apa?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden Jokowi di Istana Negara, Kamis (2/4/2019).
Komandan Kogasma itu mengungkapkan bahwa pertemuannya bagian dari silaturahmi semata.
“Silaturrahmi bisa setiap saat. Silaturrahmi seperti ini juga terus dilakukan, ini penting, komunikasi tidak harus berbicara politik pragmatis,” kata AHY kepada wartawan usai bertemu empat mata dengan Jokowi.
Menurutnya, ada hal-hal lain yang mereka bicarakan. Yaitu, saling memberikan masukan positif.
“Ada juga hal-hal lainnya, kita juga selalu harus bisa membangun semangat Indonesia,” ujar AHY.
Pada pertemuan itu, lanjut AHY, dia juga menyampaikan salam orang tuanya kepada Jokowi.
“Saya menyampaikan salam hormat pak SBY dan ibu Ani karena tadi pagi sempat berkomunikasi, yang intinya adalah salam hormat ke pak Presiden. Saya juga sebagai warga negara mendapat kesempatan diundang oleh pak Presiden dan tatap muka langsung di tengah-tengah kesibukan beliau,” tutupnya.
AHY berharap pasca Pemilu 2019 lalu bisa tenang dan sabar melihat perkembangan hasilnya hingga 22 Mei 2019.
“Mari kita melihat secara dewasa, namanya politik pasti ada perbedaan dan sikap politik, tapi kita tetap berharap KPU bisa menjalankan tugasnya,” ujarnya.
“Mudah-mudahan tanggal 22 Mei nanti semua pihak bisa menerima apapun hasilnya,” tandas AHY.
(sta/rmol/pojoksatu)

Categories
AHY Nasional Pilpres 2019 prabowo-sandi

Prabowo Diserang Kader Demokrat Gara-gara Pidato Menyinggung, AHY Malah Bersikap Begini

POJOKSATU.id, JAKARTA – Sempat dibumbui adegan ketidakpuasan kader Partai Demokrat pada pidato Prabowo Subianto di Debat Pilpres, Sabtu (13/4) malam, Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus harimurti Yudhoyono memastikan akan solid dan tetap mendukung Paslon 02.
Usai acara, AHY yang sempat didaulat naik ke panggung bersama pendukung BPN lainnya menyatakan tetap mensupport 02.
“Kami solid dan kami hadir di sini bisa memberikan support bagi pilpres,” ujar putra sulung Presiden ke lima RI, Soesilo Bambang Yudhoyono ini kepada wartawan, Sabtu (13/4).
AHY juga meminta kepada media untuk tidak memanaskan suasana dengan menyebar isu koalisi tidak solid.
Mengenai tentang pernyataan Prabowo yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia sudah salah jalan dan sudah terjadi belasan bahkan puluhan tahun, AHY enggan berkomentar.
“Saya tidak igin mengomentari lebih jauh. Yang jelas, bagi saya, tiap-tiap yang telah dilakukan oleh generasi pendahulu itu wajib diapresiasi,” kata AHY.
Dikatakan AHY, tugas pemimpin selanjutnya adalah memperbaiki kekurangan yang ada pada pemerintahan sebelumnya.
“Artinya, yang sebaiknya kita inginkan adalah para pemimpin yang terus menghargai para pendahulunya dengan semangat untuk lebih baik dari pendahulunya,” ujar AHY.
Sejumlah kader Demokrat bereaksi saat Prabowo menyebut kegagalan perekonomian saat ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Presiden Joko Widodo.
“Saya tidak menyalahkan Pak Jokowi. Ini masalah kita sebagai bangsa dan sudah berjalan belasan bahkan puluhan tahun. Tapi kita harus berani mengkoreksi diri,” kata Prabowo.
(tuh/rmol/pokjoksatu)