700 Hari Penyerangan Novel Baswedan, Tim Gabungan Kerjanya Apa?

POJOKSATU.id, JAKARTA – Koalisi masyarakat sipil dan Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar aksi solidaritas memperingati penyerangan terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, Selasa (12/3/2019). Aksi tersebut bertajuk ‘Aksi Diam 700 Hari Pasca Penyerangan Novel Baswedan’.
Sayangnya Novel Baswedan tidak bisa hadir dalam aksi solidaritas itu. Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Arif Maulana mengaku ada alasan kuat mengapa Novel tidak bisa hadir dalam aksi kali ini. Padahal, dalam beberapa kali aksi yang diselenggarakan, Novel tak pernah absen.
BACA JUGA: Siti Aisyah Pingsan Saat Tiba di Kampung Halaman
“Novel tak bisa hadir dan bergabung bersama kita karena sedang di Singapura. Tadi saya dapat kabar sekitar jam setengah 5 atau setengah 6,” ucapnya di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, dikutip dari Jawapos.com, Selasa (12/3/2019).
Dia menjelaskan, keberadaan Novel di Singapura guna menjalani proses pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dikatakan bahwa mata kiri Novel makin baik. Sementara mata kanan Novel yang sempat kurang baik sudah cukup stabil.
“Sebelumnya sempat turun matanya sekarang sudah mulai stabil dan kembali ke posisinya. Jadi, mulai membaik mata kanan. Itu kabar tidak lama sebelum kita melakukan konferensi pers pada sore ini,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Arif Maulana mengkritik kinerja tim gabungan yang dibentuk Polri pada Januari 2019 lalu yang belum ada hasil. Hingga kini, belum ada informasi apapun dari Kepolisian mengenai perkembangan penyidikan.
BACA JUGA: Ibu Pergoki 2 Anak Kandung Bercinta, Tak Disangka Ayah Juga Terlibat
Arif yang juga tim kuasa hukum Novel mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya telah mengirimkan surat kepada Polri. Tim kuasa hukum meminta penjelasan dari Polri mengenai kinerja tim gabungan.
“Kami minta tim gabungan untuk menyampaikan transparansi proses kerja yang mereka lakukan, karena belum ada hasil yang berarti,” ungkap Arif.
Senada disampaikan, aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) Lola Ester yang menyayangkan hingga 700 hari setelah kejadian tersebut, belum ada satupun tersangka yang ditetapkan oleh Kepolisian.
“Setelah 700 hari kita peringati kasus penyerangan, belum ada perkembangan signifikan,” kata Lola Ester di Gedung KPK Jakarta, Selasa (12/3).
Kemudian, Alghiffari Aqsa, yang juga anggota tim kuasa hukum Novel menekankan kritik tidak hanya kepada Presiden atau Kepolisian, tapi juga KPK.
BACA JUGA: Di Balik Video Prabowo Marah-marah di Cianjur, Netizen Ungkap Kejanggalan Plat Mobilnya
“Jika teman-teman KPK atau pimpinan KPK mendengar press conference hari ini, kami ingin mendengar segera ada tindak lanjut terkait laporan obstruction of justice,” tegasnya.
“Tim gabungan yang dibuat Polri ternyata tidak independen. Kedua, jika kita gabungkan atau kaitkan dengan laporan Komnas HAM terkait kasus Novel Baswedan ada abuse of process sehingga kasusnya berlarut-larut,” tuturnya.
Untuk diketahui, kasus penyerangan Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017 silam. Novel disiram menggunakan air keras oleh dua orang yang tak dikenal saat hendak salat subuh di masjid dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Akibat kejadian tersebut, Novel mengalami luka cukup parah di bagian mata kirinya.
Hari ke-700 setelah peristiwa tersebut, kasus penyerangan Novel memang masih belum menemui titik terang. Dalang di balik penyerangan masih juga belum terungkap.
(jpg/fat/pojoksatu)