Ada Kontra Intelijen dalam Kasus Suap Izin Meikarta

POJOKSATU.id, BANDUNG – Sidang lanjutan kasus suap izin proyek Meikarta di Kabupaten Bekasi, terus berlanjut di Pengadilan Tipikor Bandung.
Pada sidang Senin (11/2/2019), dua saksi dihadirkan yakni Edi Dwi Soesianto dan Achmad Bahrul Alam.
Kedua saksi ini membeberkan pertemuan James Riadi, Billy Sindoro dengan Bupati Bekasi Neneng Yasin.
Saat saksi Achamd Bahrul Alam menjelaskan personal pertemuan pejabat Lippo Group tersebut.
Achmad yang menjad supir pribadi Henry Jasmen, menjelaskan bahwa dirinya pernah dibuntuti mobil tak dikenal saat menuju ke Pemkab Bekasi.
“Saat menuju ke Pemkab Bekasi saya dibuntuti tiga mobil, dan mobil itu kami catat nomor polisinyaya,” papar Achmad saat memberikan kesaksian di ruang II Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (11/2).
Diakui Achmad, bahwa dirinya tidak menyadari jika mobil yang membuntuti itu merupakan mobil dari lembaga antirasuah tersebut.
“Saya baru mengetahui setelah terdakwa Fitrahdjaja Purnama memberitahu dan mencatat nomor polisi mobil tersebut,” terangnya.
Jaksa KPK, Yadyn membenarkan bahwa para pelaku suap berhati-hati dalam ‎membagikan uang suap. Menurutnya, kesaksian Bachrul Ulum memberikan gambaran tersebut.
“Dari Bachrul Ulum sudah bisa dilihat pada proses penyelidikannya ada kontra intelijen sendiri dari mereka yang mengamati tiga mobil petugas KPK pada proses pengembangan dan pengamatan terhadap mereka,” ujar Yadyn.
Aksi mencatat nomor mobil KPK sendiri, dinilai sebagai kontra intelejen atau saling intai antara penyidik KPK dan para terdakwa terjadi dalam kasus suap izin Meikarta.
(arf/pojoksatu)